PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
SESSION 2 IN FRAME "HARI DUKA"


__ADS_3

Hari itu Tasya seperti sangat ingin menempel pada Viona. Ia memegang erat jemari mantan menantunya ketika sedang mengobrol.


Benar-benar tak lepaskan pandangannya pada Viona.


"Viona!"


"Ya, Ma?"


"Mama minta maaf ya? Kalau selama ini Mama jahat padamu, terlebih pada mas Roger juga Dzakki!"


"Ma... sudahlah! Jangan selalu ingat masa-masa pahit itu. Hehehe...! Kami senang, Mama kini dalam keadaan baik. Dan kita bisa berkumpul dengan suasana yang santai seperti ini. Tidak seperti dulu."


"Oiya, mmm... boleh minta berkas-berkas dokumennya, Tan?" sela Roger meminta surat penting untuk ia ajukan pendaftaran umroh sesuai permintaan Fika.


"Iya. Sebentar ya, Mas, Tante ambil!"


Tasya masuk kamarnya. Tak berselang lama ia kembali dengan surat-surat pribadinya.


"Mama mau sholat dulu sebentar ya? Belum sholat Ashar. Hehehe..." katanya setelah menyodorkan berkas.


"Iya Ma!"


Tak lama Tasya pamit.


Gubrak!!!


"Apa itu, Mas?"


"Tante!!!"


Suara jatuh terdengar oleh Viona dan Roger.


Keduanya melesat masuk ke dalam ruangan dapur Tasya. Dan langsung memekik melihat tubuh Tasya yang tergeletak tak sadarkan diri.


"Mama!!!"


"Tante Tasya!!!"

__ADS_1


"Omaaa..."


Mereka mengerubuti Tasya. Mencoba memberikan pertolongan pertama secepatnya.


Roger segera menghubungi pihak rumah sakit untuk dikirimkan ambulan secepatnya.


Hari yang cerah pun seketika menjadi kelabu.


Awan gelap menyelimuti.


Viona dan Dzakki menemani Tasya dalam ambulan. Sementara Roger membawa sepeda motornya mengawal sang Tante.


Tasya masih pingsan. Namun tangannya hangat menggenggam jemari Viona.


Dzakki terisak disamping Viona. Matanya tak lepas memandang ke arah Tasya Jessica. Dan tiba-tiba Dzakki mengucap...,


"Allahu Akbar! Hik hik hiks... Oma, Oma, Omaaa!!!"


Viona menoleh pada Dzakki yang pucat pias wajahnya.


"Mamaaa...!!! Mamaaa!!! Huaaa, Ma... Ma sadarlah, Ma!" Viona memeriksa seluruh nadi tangan kanan dan kiri Tasya Jessica.


Memang terasa makin melemah.


Tenaga medis yang mendampingi mereka pun terlihat pasrah wajahnya. Hanya bisa menghela nafas lalu menatap satu persatu wajah Viona dan Dzakki.


"Mama...! Mama...!!! Selamat jalan, Ma! Semoga Allah memudahkan langkahmu dan mengampuni semua dosamu. Menerima semua amal baikmu, Ma!"


Dzakki dan Viona hanya bisa saling berangkulan. Menangis sedih, karena Tasya Jessica telah tiada disela-sela suara raungan sirene ambulan yang memekakkan telinga.


Perlahan genggaman erat tangan Tasya pun jatuh terkulai. Semakin yakin Viona, kalau sang mantan mertua telah dipanggil Yang Maha Kuasa. Sang putra lah yang terlebih dahulu mengetahuinya.


Ambulan tiba di rumah sakit.


Roger menghampiri pintu belakang ambulan. Menyembul kepala Viona yang turun perlahan sembari menggendong Dzakki.


"Mama Tasya telah tiada, Mas!" bisik Viona lirih.

__ADS_1


Roger seperti membatu beberapa detik.


Ia menghela nafas. Mengusap wajahnya perlahan. Lalu kembali tersadar dan ikut membantu para nakes mengangkat tubuh Tasya menuju ruangan pemeriksaan.


"Tunggu diluar dulu ya, Pak!"


Roger hanya bisa menatap wajah istri dan anaknya bergantian. Pasrah pada keadaan.


Tak berselang lama, dokter keluar sambil mengabarkan berita duka. Tasya Jessica telah meninggal dunia.


Roger mengabari Christian juga Fika.


Semua langsung bergerak mengurusi pemakaman Tasya yang satu lokasi dengan Papa Bambang. Ternyata, mereka akan disatukan dalam satu liang lahat atas inisiatif Christian.


Hari menjelang malam.


Jenazah Tasya Jessica dibawa ke rumah almarhum Jonathan Lordess yang kini didiami Viona dan Roger. Untuk disemayamkan esok pagi.


Fika datang pukul tujuh pagi. Wajahnya sembab, tapi masih bisa mengkontrol dirinya.


Yang menyedihkan adalah Herdilan. Nomor kontaknya tak aktif ternyata, sehingga sulit untuk dihubungi.


Beberapa kali semua kerabatnya itu mencoba menelpon. Tapi nihil, tiada hasil. Padahal pagi harinya masih ada chatnya dengan Tasya Jessica.


Mungkin daerah tempatnya kerja sedang rusak jaringannya, atau entahlah.


Chris hanya memberikan kabar duka itu via chat. Agar Delan segera membalasnya.


Bahkan sampai pukul delapan pagi dan jenazah Tasya sudah rapi serta sudah disholatkan, Herdilan tetap tak ada kabar.


Akhirnya mereka terpaksa menguburkan Tasya Jessica tanpa didampingi putra satu-satunya.


Hari duka ini membuat semuanya menitikkan air mata.


Sedih pastinya. Terlebih Tasya dikebumikan tanpa sepengetahuan Herdilan Firlando. Putra tunggal yang sangat disayanginya.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2