
"Nambah, Vi!" tawar dokter Diandra dengan membawa sepiring ketoprak dan segelas air putih.
"Terima kasih, Dok! Alhamdulillah, saya sudah kenyang. Hehehe..."
Sang Dokter kemudian tersenyum. Aku membiarkan dia menikmati makan siangnya. Sementara tanganku menscroll medsos lewat hape.
"Vi!..."
"Hm?" jawabku santai tapi mata tetap fokus ke layar handphone.
"Dzakki pintar sekali!"
"Ah, iya! Anak saya masih ada di rumah dokter? Atau sudah pulang, Dok?" tanyaku pada dokter Diandra.
"Hehehe...! Masih, Vi! Maaf ya? Pinjam dulu Dzakki!"
"Haish, Dok! Putra saya bukan stetoskop. Masa' dipinjam? Hiks..."
"Hahaha... Ya maaf, ya! Dzakki ditawan Dirga. Tak boleh pulang karena mereka sedang asyik bermain."
Aku menunduk. Memasukkan HP kedalam tas, karena jam istirahat hampir habis. Dan harus segera bergegas ke ruang kerjaku lagi.
Sebenarnya bi Tini sudah mengabariku kalau Dzakki masih di rumah dokter Diandra. Sedang bermain bersama Dirga. Kemungkinan sore pukul tiga Kenken dan Bi Tini menjemputnya pulang.
"Maksud dokter? Putra saya ditawan?"
"Dirga sangat suka bermain dengan Dzakki. Dia begitu gembira ketika liburan hari Minggu kemarin, karena bisa berkenalan dan berteman dengan Dzakki. Dan atas kebaikan Allah, tadi mas Kenken ke rumah saya untuk mengambil berkas penting milik Christian. Ternyata, Mas Kenken itu... bawahan kamu dan Roger. Rupanya mas Kenken juga baru menjemput Dzakki pulang sekolah. Tanpa sengaja, Dzakki bertemu Dirga lagi. Ya... begitulah kira-kira!"
Aku tersenyum mendengarkan celotehan Dokter Diandra. Sangat ceria, kalau sedang antusias cerita.
"Hmm... Dirga, anak saya memiliki kelebihan yakni adalah anak yang berkebutuhan khusus. Dan... Dirga juga anak yatim. Mamanya sudah meninggal sejak Dirga umur tiga tahun."
Aku termangu mendengar cerita dokter Dirga.
Ternyata... Begitu rupanya, soal ucapan dokter Diandra tentang status yang pernah diucapkannya. Single tapi juga double. Duda dengan satu anak ternyata.
"Yok, kembali kerja!" tuturku seraya berdiri dan bersiap kembali ke ruang kerjaku.
Dokter Diandra mengangguk. Dia juga telah menyelesaikan makan siangnya.
Sejujurnya aku menghindari obrolan serius tentang keluarga. Tentang diriku, juga putraku. Terlebih tentang hubunganku yang rumit. Kenapa aku bisa tinggal dirumah mendiang kak Jo. Kenapa Roger bisa dipanggil 'Ayah' oleh Dzakki putraku. Pasti akan banyak pertanyaan-pertanyaan dibenaknya sedangkan statusku adalah jandanya Herdilan.
Hhh...
Sudah lah ya! Yang lalu, biarlah berlalu. Aku pun tak ingin mengingatnya lagi. Semua... telah kukubur dalam-dalam bersama cintaku, kak Jo tersayang.
Aku baik-baik saja. Begitu juga putraku.
Hidup kami masih berlanjut. Dan hanya pasrah saja pada yang Maha Kuasa.
............
__ADS_1
Tok tok tok
Seseorang menyembul dari balik pintu ruanganku.
"Viona! Sudah selesai? Mau pulang bareng?"
Dokter Diandra? Lagi?
"Lho? Bukannya dokter hari ini shift siang?" tanyaku agak bingung.
"Hari ini saya izin pulang cepat. Dirga ingin pergi ke Pasar Malam. Dan mumpung Dzakki masih ada dirumah saya, ada rencana saya mengajak Viona dan Dzakki juga. Bagaimana?"
Hmm...
Aku termangu sebentar. Lalu tertawa kecil.
Sudah cukup lama aku kurang kuantitas kebersamaan dengan putra semata wayangku. Kesibukan kerja dan juga kuliah membuatku 'melupakan' Dzakki. Kebetulan hari ini aku tak ada kelas di kampus. Jadi,... tak ada salahnya juga meskipun situasinya nanti jadi kurang nyaman.
Aku pun akhirnya menerima ajakannya.
...🌼🌼🌼🌼🌼...
"Mamiii..."
"Dzakki!"
Putraku langsung menghambur kepelukanku.
"Hai, Dirga! Salam kenal, saya Maminya Dzakki!" sapaku sembari mengusap dagu Dirga.
Namun... anak lelaki yang gagah itu hanya melongo melihatku, tak bergeming dan terus menatapku lama.
"Mama..."
Dirga memelukku, membuat jantungku berdegub kencang. Dzakki pun ikutan memelukku. Semoga Dzakki tidak punya iri hati, ya Nak! Melihat anak lain memeluk Maminya.
Aku lupa, kalau ada dokter Diandra yang juga berdiri mematung sedari tadi memperhatikan kedekatan kami.
"Kalian sudah mandi?" tanya Dokter Diandra.
"Sudah!" jawab Dzakki dengan ceria.
"Hari ini, kita jalan-jalan ke Dufan! Mau?"
"Dufan? Sekarang Om? Iyakah Mami?" tanya Dzakki masih dengan memeluk.
Aku tersenyum mengangguk.
"Horeee! Horeee...! Abang Dirga, kita jalan-jalan!... Mami, Mami, Dzakki mau naik bianglala!"
"Dok, Dufan bukannya hanya untuk batasan umur enam tahun keatas ya?" pikirku baru teringat sesuatu. Dzakki-ku baru berumur empat tahun lebih.
__ADS_1
"O iya ya?!? Kita ke Sea World saja kalau begitu! Lihat pemandangan di kolam ikan raksasa! Mau?"
"Mau, mau."
"Auuu..."
Terlihat dua bocah lelaki itu berjingkrak-jingkrak dengan tangan berpegangan.
Dzakki ternyata cukup akrab dengan Dirga. Putraku memang sangat pandai bergaul. Bersyukurnya aku!
"Di Sea World ada apa, Om?" tanya Dzakki dengan bola mata berbinar indah.
"Ada banyak ikan besar. Ikan Paus, ikan hiu, ikan pari,... banyak sekali ikan di sana!"
"Ikan hidup?"
"Iya. Ikan goreng juga ada! Hehehe..."
Aku, Dzakki dan Dirga lagi-lagi tertawa mendengar penjelasan dokter Diandra.
"Ayo, ayo... naik ke mobil! Kita berangkat sekarang, sebelum terlalu sore!"
Pukul empat sore, kami berangkat ke Sea World Ancol. Ternyata tutupnya pukul enam. Waktu yang lumayan singkat bagi putra-putra kami menikmati akuarium raksasa itu nanti.
Tapi lumayan membuat mood booster Dzakki meninggi.
"Mami, Mami!"
"Iya, Nak?"
"Video call Ayah ya, nanti? Jadi Ayah ikut senang lihat ikan besar!" kata Dzakki membuatku terhenyak dan merenung sejenak.
"Iya, Sayang!" jawabku membuatnya bersorak kembali.
Kulihat Dokter Diandra melirikku. Entah apa yang ada difikirannya kini. Masa bodoh lah!
Aku kembali asyik dengan Dzakki dan Diandra. Karena duduk di jok belakang, bukan disamping Dokter Diandra sang pengemudi.
Bahkan kini Dirga dengan berani menggenggam jemari kiriku erat sekali. Membuatku risih dan takut pada penilaian Papanya yang sesekali terlihat melirik dari kaca spion.
"Koq ada yang aneh ya? Papa berasa jadi supir kalian kalau begini nih!" tutur sang dokter seolah sedang menyindir kami.
Kami bertiga tertawa bersama.
Tapi ternyata, Tuhan belum mengizinkan Dzakki dan Dirga masuk Sea World. Jalanan Ibukota sangat macet di jam-jam pulang kerja begini.
Kami masuk area Ancol pukul lima tiga puluh menit. Sea World sebentar lagi tutup. Alhasil, hanya pinggiran laut Ancol dengan pantai dan gelombang rendahnya sambil menunggu sunset.
Dzakki dan Dirga tetap bahagia. Mereka bermain pasir bersama. Berlari-lari sepanjang pesisir pantai Laut Ibukota yang jadi kebanggaan orang Jakarta.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1