
Roger terbangun pukul satu siang. Rumah terlihat sepi sekali.
Apakah mungkin Viona membawa Dzakki pergi bersama dokter jiwa itu? terkanya dalam hati.
Rasa kecewa dalam hatinya memuncah. Membuatnya mengepalkan tinjunya ke arah udara. Kesal.
"Kenapa?"
Roger langsung melonjak, kaget.
Viona berdiri di depan kulkas dengan tangan membawa sepiring penuh potongan semangka.
Jantung Roger berpacu cepat sekali. Antara kaget namun juga senang. Ternyata tebakannya salah.
"Dzakki dimana?" tanya Roger berusaha setenang mungkin.
"Di gazebo! Sedang baca buku cerita!" jawab Viona, cuek.
Grep.
Roger menarik tangan Viona. Dia penasaran pada perempuan yang ada dihadapannya itu.
"Apa... Kalian sedang menjalin hubungan?"
"Kalian? Siapa? Hubungan apa?" Viona balik tanya.
"Haish! Susahnya ngobrol baik-baik denganmu!" umpat Roger kesal.
Viona berusaha menahan senyumnya. Roger memang tak pernah enjoy berbincang dengannya. Tidak seperti pada Dzakki. Juga pada Gigi, sahabat zaman SMP-nya dulu itu.
"Kamu sendiri? Ada niatan sambung hubungan dengan Mbak Gigi? Secara... sekarang sudah...divorce khan?"
Kini Roger yang menahan senyumnya dalam hati.
Ia senang, Viona juga menampakkan ketidak-senangannya melihat keakrabannya dengan Gigi. Bahkan Dzakki juga terang-terangan mengungkap ke-bete-an Viona setelah melihat Roger asyik berbincang ria bersama Gigi.
"Viona!..."
"Hm?"
Roger menghentikan omongannya. Bi Tini masuk ke dapur memergoki mereka berdua sedang berhadap-hadapan.
"Dikira ketiduran di dapur!" goda bi Tini membuat Viona malu dan Roger merona wajahnya.
"Dia memang suka ketiduran, bi!" tukas Roger menggoda Viona. Dilangkahkannya kakinya ke luar dapur menuju taman dan gazebo.
"Ayaaah!" teriak Dzakki senang melihat Ayahnya.
"Sedang apa, Boy? Tidak bobo siang?" tanya Roger berlari kecil ke arah Dzakki.
Diangkatnya tubuh mungil anak angkat kesayangannya itu hingga Dzakki tertawa terbahak-bahak kegelian mendapati serangan ci*man bertubi-tubi.
Roger ikut tertawa.
__ADS_1
Bersama Dzakki hatinya selalu gembira.
Bocah itu selalu ada saja celoteh lucunya. Bahkan dengan sangat santuinya bertanya yang membuat merah wajah Roger.
"Ayah,... kapan adiknya Dzakki dibuat?"
"Aih? Adiknya Dzakki dibuat?"
"Iya. Kak Verrel sama kak Velli juga sedang nunggu adik mereka dibuat Papa Mamanya. Kapan Ayah sama Mami buat adik?"
Deg.
Roger merasa tertohok.
Sementara Bi Tini terpingkal-pingkal mendengar pertanyaan putra asuhnya. Sementara Viona yang berjalan di belakang diam seribu bahasa tak berani bicara.
"Dzakki! Kata Tuhan, Dzakki harus sabar. Yang minta adik itu bukan Dzakki seorang saja. Banyak sekali anak lain di dunia ini yang punya keinginan seperti Dzakki. Makanya harus antri! Dzakki sering dengar khan, kita harus tertib dan ikut antrian!?! Nah... kalau Dzakki mau cepat dikabulkan keinginan dapat adik, Dzakki harus rajin berdoa sama Allah."
"Dzakki tadi sholat bareng Mami sama Wawa' Tini!"
"Ayah justru yang belum sholat!" ujar Roger sembari menepuk dahinya.
"Cepat sholat, Yah! Doa yang banyak ya, biar antrian Dzakki cepat dibuatkan adik!"
"Hahaha..."
Tini benar-benar puas tertawa. Sementara Roger masuk kembali ke dalam rumah dengan tergesa-gesa.
...🌼🌼🌼🌼...
Hari bergulir terasa cepat bagi Roger. Bersama keluarga kecilnya, hatinya selalu gembira. Merasa jiwanya kembali bergelora.
Mereka juga mengambil guru privat mengaji dari Pesantren untuk semua. Perlahan... hidup mereka menjadi lebih terarah ke arah yang lebih baik. Ibadah mereka juga semakin rajin dan tak bolong-bolong lagi seperti dahulu.
Dzakki memang pembawa kebaikan.
...........
Hari ini putra Viona itu senang bukan kepalang. Ia diantar sekolah oleh orang-orang yang paling disayanginya.
"Tapi Mami sama Wawa' Tini turun di pasar tradisional ya? Mau belanja keperluan masak hari ini. Mami mau belajar bikin semur sama Wawa'! Jadi Mami tak antar Dzakki sampai sekolah!" ujar Viona memberi penjelasan pada Dzakki.
"Iya, Mi! Ada Ayah yang antar dan tunggui Dzakki!"
Roger tersenyum. Matanya berkali-kali melirik Viona yang terlihat cantik walau tanpa make up.
Kenken yang ada dibelakang kemudi diam-diam juga memperhatikan sang juragan. Membuatnya senyum-senyum sendiri sembari melirik ke arah bi Tini.
"Boss!... Saya dan Tini mau kasih kabar gembira."
Viona dan Roger sontak menoleh ke arah Kenken.
__ADS_1
"Kami akan melangsungkan ijab kabul akhir bulan ini. Mohon doa restunya, ya!?!"
"Hei!!! Kalian ternyata... hahaha...ya Tuhaan... Hahaha...!"
Roger tak bisa berhenti tertawa. Rahasia Allah sungguh tak dapat diterka.
"Kalian beneran akan menikah?"
"Iya, Vi! Saya akan ke Kantor Urusan Agama setelah mengantar kalian semua. Melengkapi berkas-berkas syarat nikah kami!"
"Ya Allah ya Tuhan! Alhamdulillah!"
Viona memeluk tubuh bi Tini. Airmata kebahagiaan menetes di pipinya mendoakan orang yang telah dianggapnya kakak itu.
"Selamat ya, semoga selalu dalam keberkahan Allah Ta'ala ya kak!?!"
"Aamiin...! Terima kasih doanya, Viona! Hiks..."
Tini terisak. Ia merasa sangat bahagia dan terharu. Kini ia benar-benar merasakan memiliki keluarga nyata, yang selalu ia impikan sedari kecil.
Mereka berbagi kebahagiaan, tawa dan canda. Tiada jeda diantara mereka, walaupun setiap bulan Roger tetap menggaji Kenken dan Tini seperti dulu Jonathan menggaji mereka. Tapi perasaan sayang, tulus telah tumbuh bagaikan saudara sendiri.
Viona dan Tini turun di depan pintu gerbang pasar tradisional.
Setelah puas menciumi pipi sang putra, Viona melambaikan tangan dan mobil meluncur kembali ke arah sekolah Dzakki.
Dzakki benar-benar bersemangat menapaki hari bersekolahnya.
Dengan bangga ia memamerkan kalau hari ini Ayahnyalah yang mengantarnya sekolah.
Bahkan bocah imut itu menggenggam erat jemari Roger sepanjang jalan masuk ke area sekolah.
"Dzakkiii...! Kamu baru masuk lagi!" tukas temannya.
"Iya. Dzakki habis liburan sama Ayah sama Mami!" jawabnya senang sekali. Roger hanya tersenyum melihat tingkah polah Dzakki yang menggemaskan itu.
Bahkan beberapa tutornya mencubit pelan pipinya karena gereget melihat keimutan Dzakki Boy Julian.
"Hari ini Dzakki diantar Ayah, ya?" goda miss Anya membuat Dzakki tersipu.
"Iya." Dzakki cepat-cepat mencium punggung lengan sang guru.
Para guru Dzakki sebenarnya tahu, kalau Roger adalah ayah angkat Dzakki dan Viona adalah seorang janda beranak satu. Viona yang memberitahunya agar tidak ada kesalahfahaman dikemudian hari.
Itu sebabnya miss Anya yang memang sangat terpikat pada Roger langsung menempel Dzakki.
"Aih, senangnya ya Dzakki diantar Ayah!"
Sementara di balik pohon besar di seberang jalan, seseorang sedang memperhatikan bocah imut yang menggemaskan itu dengan seksama.
Niatnya ingin memanggil Dzakki, urung dilakukan karena melihat anak itu diantar oleh Ayahnya.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1