
"Aman! Ibu dan dede bayinya sehat. Dan... waaaw, ada monasnya! Jagoan, Vi!"
Viona terharu, melihat layar ultrasonografi 3 Dimensi yang menampakkan wajah calon putranya yang baru akan lahir sekitar 14 minggu atau 3 bulan lebih itu.
Airmatanya menetes. Membuat Jo menghapus segera lelehan di pipi Viona. Jemari lembut Jo sangat terasa, mampu menyentuh sampai ke hati ibu hamil enam bulan itu.
"Anak saya laki-laki, Dok?" tanyanya dengan suara serak, menahan haru.
"Iya. Itu, ada turtle sign-nya." Tunjuk Dokter Lena seraya tertawa lebar.
"Ya Tuhan... Hik hik hiks... Terima kasih atas karunia-Mu, Tuhan!"
Viona senang, anaknya laki-laki. Ia teringat ancaman Herdilan tempo hari. Yang mengatakan kalau anaknya lahir perempuan, ia akan membawa bayinya dari Viona. Jatuh lagi air matanya.
Jonathan berjongkok, mendekatkan wajahnya ke wajah Viona. Jemarinya intens mengusap butiran air mata di pipi bumil yang selalu jadi perhatiannya saat ini.
"Senang ya? Bayi kita laki-laki, Vi! Cup cup, sudah... jangan menangis terus, Louisa!" tuturnya pelan dan lembut.
"Hik hik hiks...! Kak Jo!"
Jonathan mengedipkan kedua kelopak matanya. Lalu kembali berdiri setelah mengelus-elus poni rambut Viona yang menutupi kening.
Viona benar-benar merasakan kenyamanan yang luar biasa indah bersama Jonathan Lordess.
Dikesampingkannya dulu, pikiran keraguan yang menyatakan kalau hubungannya dengan Jo pun tak akan berhasil kali ini. Karena Jonathan adalah Om dari Herdilan.
Ia hanya ingin bahagia. Keinginan yang sederhana. Tapi ternyata begitu sulit untuk mewujudkannya.
Akankah Viona bisa meraih mimpi indah itu bersama pria yang kini sangat perhatian padanya?
Entah...
Yang pasti nasib dan Takdirnya masih terus bergulir. Seiring nafas masih dikandung badan. Selama nyawa masih diraga.
Manusia wajib berusaha, tapi tetap Tuhanlah Penentunya.
..........
Pemeriksaan telah selesai. Keduanya pun keluar dari ruang praktek dokter Lena dengan wajah berseri-seri. Para pasien lain yang tadi menunggu tersenyum sambil mengucapkan kata semangat pada Vio dan Jo.
__ADS_1
Tapi tiba-tiba, televisi yang ada di ruangan tunggu itu menayangkan berita yang menghentakkan jantung Viona serta Jonathan.
Mama Tasya Jessica ditangkap pihak Kepolisian
Ramai orang jadi membicarakan mantan artis pemilik PH Pesona Tasya yang dikenal baik hati dan manis cantik orangnya.
"Akhirnya... Kebahagiaan itu kita rayakan juga ya, Vi!?" kata Jonathan pada Viona yang masih terbengong-bengong menatap layar kaca televisi di dinding atas ruang tunggu.
"Ayo! Kita pulang, Viona!" ajak Jo membuat Vio tersentak. Jonathan meraih jemari Vio, menggenggamnya erat dengan senyuman kemenangan.
Hatinya lega. Tasya telah dipenjara. Semua gerakannya mencari bukti kejahatan Tasya pada kakaknya tak sia-sia.
"Ah, iya. Ayo, Kak!"
Dalam perjalanan Viona hanya lebih banyak diam termenung. Fikirannya melayang kepada Herdilan Firlando, mantan suami.
Bagaimana si Delan nanti hidupnya tanpa mamanya? Apa dia bisa fight? Apa tak membuat mentalnya down? Hhh...
Viona terkejut, ternyata wajah Jonathan telah kurang dari dua centimeter di depannya.
Segera ia tutup mulutnya yang menganga karena kaget.
"K Kak?"
Viona malu sekali. Mengira kalau Jo akan berbuat yang tidak-tidak padanya.
Jonathan seperti bisa menerka kegundahan hati Viona. Ia tak ingin mengusik fikiran perempuan yang tengah hamil enam bulan itu.
Ia hanya menatap lurus ke depan. Fokus dengan setir mobilnya. Tak berani mengajak Viona berbincang seperti tadi. Membuat suasana tampak hening. Hanya deru mesin mobil yang terdengar halus bercampur angin malam yang sepoi-sepoi.
"Kemana kita kak?" tanya Viona setelah sadar kalau jalan yang di ambil Jonathan bukan ke arah rumah kontrakannya.
"Pulang ke rumahku!"
Viona tak berani mendebat Jo. Jawaban pria dewasa itu terdengar singkat dan dingin. Membuatnya hanya pasrah dengan tindakan yang Jonathan ambil.
Rumah yang cukup lama tak Viona kunjungi terasa tambah asri dan nyaman kelihatannya.
"Nona Viona!"
Bibi Tini menyambutnya dengan gembira. Tangan kanan asisten rumah tangga yang baik itu menunjuk perut Viona yang sudah terlihat layaknya ibu hamil.
"Boleh saya pegang, Non?" tanyanya dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Tentu boleh, Bi! Hehehe..."
"Calon jagoan!" sela Jonathan dengan bangganya.
"Wah! Hebat!!"
Bi Tini tampak sangat antusias mengelus-elus perut Viona dengan lembut.
"Sudah, Tin...! Perut Viona bukan balon. Ayo cepat hidangkan sup rumput laut dan sarang waletnya pada Viona!" ucap Jonathan denhan mata melotot tajam pada asisten rumah tangganya itu.
"Ah hahaha... Iya, Tuan!"
Bi Tini tergopoh-gopoh kembali melanjutkan pekerjaannya menata meja makan.
"Kakak...! Jangan terlalu tegas seperti itu, hehehe..."
Jonathan menatap lekat wajah Viona. Lalu menyeringai lebarkan senyumannya.
Pria ini begitu manis dan tak suka banyak omong yang sadis-sadis! Sungguh seseorang yang bersifat introvert owl! Membuatku makin suka dengan kak Jonathan!
Viona melamun sejenak, tetapi langsung tersentak kaget karena Jo tiba-tiba mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya perlahan di depan meja makan.
"Ini orang dari tadi bengong terus kayak orang kesambet setan pohon jengkol!"
Sontak Viona tertawa terbahak-bahak mendengar ocehan lucu Jonathan dengan logat bahasa gaulnya yang sedikit kaku.
Bi Tini ikut tertawa melihat tingkah Tuannya yang jarang sekali memperlihatkan ekspresi senang seperti ini.
Sungguh suasana yang hangat. Dan ia berdoa dalam hati, semoga suasana hari ini akan selamanya sampai ia terus mengabdi di sini.
Cukup lama Tini bekerja pada Tuannya yang baik hati ini. Bahkan sejak Sang Tuan menikah dengan Nyonya Muda Almira. Namun tak pernah melihat wajah Jonathan yang berseri seperti sekarang.
Dulu Tuannya adalah pribadi yang sangat dingin dan pendiam parah. Tak pernah mengajaknya bicara. Apalagi bercanda seperti sekarang ini.
Jonathan dulu mirip robot hidup.
Makanya Tini senang sekali Viona datang kerumah ini dan membawa perubahan terutama kebahagiaan untuk Sang Tuan.
Bahkan Tini merasa sifat lembut Viona membuat Jonathan lebih baik lagi.
Semua karena cinta, pastinya. Begitu feeling Tini.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1