
Aku, Dzakki dan Roger, saling bersinambungan. Ketika kami bertiga bersama, semua terasa indah dan bahagia.
Namun jika salah seorang dari kami tak ada, terasa kehampaannya yang membuat kami sama-sama mengakui.
Meski aku memiliki waktu berduaan dengan Roger untuk mempererat hubungan, tetapi tetap saja kami merasa ada yang kurang.
Ketika aku dan Dzakki saja sewaktu di Bali, kurang lebih perasaan ini sama seperti saat ini. Saat aku 'tanpa' Dzakki.
"Makan dulu, Yang!"
Roger masuk ke kamarku dengan membawa nampan berisi sepiring nasi, sepiring sayur dan sepisin ikan bawal goreng bumbu rujak.
Terlihat menggugah selera!
Tapi seketika aku menghela nafas. Teringat Dzakki yang juga suka makan ikan. Dzakki sering sekali kugoda dengan banyolan : tak suka ikan, tenggelamkan.
Dia jadi suka makan semua jenis ikan air tawar maupun air laut kecuali ikan mas. Karena durinya yang banyak membuat Dzakki pernah sampai muntah ketika makan ikan mas goreng.
"Ingat Dzakki, ya?"
Aku mengangguk. Roger paling tahu isi hatiku.
"Mau ku-VC?"
Aku menggeleng. Aku harus tahan sampai waktu yang disepakati.
Aku juga tak ingin membuat Mama Tasya dan Herdilan merasa tidak nyaman jika terus-terusan ditelepon.
Mereka nenek dan Papa kandungnya. Pasti jauh lebih menjaga, pastinya. Mudah-mudahan, itu harapanku.
Tapi Viona,... tidakkah kau lihat berita di televisi juga kabar di koran? Banyak anak justru mendapatkan penganiayaan kekerasan dari orang terdekat. Apalagi... Mama Tasya pernah mengalami depresi. Waktu sakit jiwa, ia sering memukul orang. Bagaimana...kalau, (nyuuut)
Sakit kepalaku. Terasa sangat nyeri hingga kucoba pijat sendiri.
"Kenapa, Sayang?"
"Sakit kepala, Mas!"
"Padahal nanti sore aku harus ke Surabaya lagi. Bagaimana ini?"
"Pergilah, Yang! Aku cuma sakit kepala saja. Kontrak kerjamu tinggal satu bulan setengah lagi. Semoga kita bisa bersama secepatnya!"
Roger memeluk tubuhku.
Kata-kataku sepertinya membuat ia merasa tak enak hati.
"Sejujurnya aku tak ingin pergi. Tapi..."
Allahu Akbar Allaahu Akbar
__ADS_1
(Adzan Dzuhur berkumandang)
"Kita sholat dzuhur berjama'ah yuk?"
Mas Roger menatap wajahku dengan mata berbinar indah.
"Ayo! Kita minta pada Allah, semoga kita 'kan selalu bersama!"
"Walau terbentang jarak antara kita!"
"Kau kusayang, slalu kujaga. Tak'kan kulepas, selamanya!"
"Hahaha... Jadi lirik lagu, Mas!"
Kami kembali tertawa.
Mengambil air wudhu, berdoa semoga Tuhan Yang Esa memberi kami kekuatan dengan cinta untuk meraih cita-cita bahagia.
Dengan bersyukur dan bersyukur. Berdoa meminta kebesaran Tuhan untuk selalu menjaga kami bertiga hingga waktunya tiba untuk tinggal bersama.
...⚘⚘⚘⚘...
Ting tong
Ting tong
"Dzakkiii...!"
Aku langsung berdebar mendengar suara bi Tini menyeru nama putraku.
Sontak aku langsung berlari menuju ruang tamu.
Mataku berkaca-kaca. Putra tercintaku sedang ada dipelukan bi Tini.
Ada Mama Tasya dan Herdilan di balik pintu ruang tamu. Mereka hanya diam dengan senyum dikulum.
"Dzakki,... sudah pulang?" tanyaku cemas, bingung dan agak linglung.
Ini baru hari kedua.
"Dzakki kangen Mami! Mami kangen Dzakki gak?"
Tumpah airmataku, langsung memeluk tubuhnya erat.
"Kangen lah, Nak! Hik hik hiks..."
"Ayo masuk, bu Tasya, pak Herdilan!" ujar bi Tini membuatku baru tersadar.
"Masuk Ma, Mas! Mas Rogeer... Dzakki pulang!!!"
__ADS_1
Mas Roger seperti aku diawal. Setengah berlari menyambut kedatangan putra kami.
Dia langsung menggendong tubuh Dzakki tinggi-tinggi. Hingga Dzakki terpekik lalu tertawa kegirangan.
"Ayah kangen Dzakki ga?" tanyanya dengan polos.
Roger segera berdrama. Ia menurunkan tubuh Dzakki lalu berkacak pinggang satu, sementara tangan satunya lagi mengetuk-ngetuk dahi.
"Kangen gak ya?" godanya membuat Dzakki langsung memeluknya lagi.
"Ish Ayah!"
"Kangenlah, masa' engga'!"
Roger menggendong kembali Dzakki. Rasa sayangnya yang tulus pada putraku itu tak terbantahkan. Bahkan oleh Mama Tasya yang meneteskan airmata juga Herdilan yang tersenyum penuh kelegaan.
"Apa Dzakki membuat Oma pusing?" tanyaku menyelidik.
"Bukan Oma sama Papi yang dibikin pusing. Tapi Dzakki!" jawabnya membuatku mengernyitkan dahi.
"Kenapa begitu?"
"Oma larang Dzakki pup sendiri. Papi juga larang Dzakki makan sendiri. Semuanya Dzakki harus nurut dilayani. Khan Dzakki jadi pusing!" ujarnya dengan mimik mengadu.
Sontak kami semua tertawa. Tingkah bocah umur lima tahun itu memang menggemaskan.
"Ya sudah, akhirnya Dzakki ngambek. Dzakki mau pulang! Kalau Dzakki tak diantar pulang, Dzakki gak mau nginap lagi dirumah Oma sama Papi!" lanjutnya membuatku tertawa lagi.
Ya Tuhan! Cerdas sekali pemikiran putraku.
"Oma cuma takut Dzakki jatuh di kamar mandi, Boy! Dan Papi juga pingin nyuapi Dzakki seperti Ayah nyuapi Dzakki juga!" nasehat Roger membuat semua orang senang.
"Iya. Betul kata Ayah!" sela Mama Tasya tertawa mengiyakan.
"Khan Dzakki dah kata, Dzakki itu bisa pup sendiri Oma. Sejak umur empat tahun ya Wawa'!?" tanya Dzakki pada bi Tini.
"Iya. Dzakki selalu bilang, pup Dzakki susah keluar kalau ada yang tungguin di depan pintu kamar mandi! Hehehe..." kata bi Tini.
"Tuh khan?!?"
Semua kembali tertawa.
Bi Tini lalu membuatkan kami sirup. Sebagai teman berbincang ringan di siang hari yang cerah menyenangkan.
Thanks God! Hidupku kini semakin tertata rapi. Keadaanku kian membaik dan membaik. Juga keadaan kami semua. Herdilan, Mama Tasya, Aku, Dzakki dan Roger. Kami kini bisa duduk bersama dalam satu ruangan, tanpa emosi apalagi kekerasan. Yang ada justru tawa canda ceria. Hilang semua beban di jiwa. Juga kisah pilu kehidupan kami di masa lalu. Membuatku berucap syukur dan kembali bersyukur.
Terima kasih Tuhan. Aku bahagia!
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1