PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 239 IN FRAME "Herdilan Pamit Sebelum Hari Pernikahan"


__ADS_3

Roger dan Viona hanya bisa saling berpandangan.


Herdilan duduk dihadapan mereka dengan memberikan buku tabungannya.


"Maaf, aku tidak bisa hadir di acara pernikahan kalian berdua. Bukan bermaksud untuk melarikan diri dari kebahagiaan kalian. Tapi aku ada tawaran menarik untuk pindah ke negara Malaysia!"


"Tapi kenapa buku tabunganmu dan kartu ATM nya kamu serahkan pada kami?"


"Ini hanya kado kecil dariku untuk kalian berdua juga Dzakki!"


"Kado kecil? Sombong sekali kau uang dua puluh juta kau bilang kecil!" hardik Roger kurang menyukai ucapan Delan.


"Maaf, maaf bukan begitu maksudku, Mas!"


"Selama ini, mas Roger lah yang mengurus Dzakki dari lahir. Mas benar-benar menjadi Ayah kebanggaan bagi putraku Dzakki. Aku sangat bersyukur dan berterima kasih atas semua ketulusan serta kebaikanmu, Mas! Terlepas dari sampai jadi jodohnya kalian, aku tidak bermaksud mengurusi itu! Kumohon jangan salah mengerti!"


"Kau mau kerja di Malaysia? Dimananya?"


"Kuala Lumpur, Mas! Sahabat SMA ku mengajakku untuk project muralnya!"


"Hhh... Baiklah! Jaga dirimu baik-baik di negeri orang. Jangan abaikan kesehatan! Tetap hubungi kak Christian walau kau jauh di negeri seberang!"


"Iya, Mas!"


Viona tak banyak kata. Hanya mendengarkan dua kakak beradik tiri itu saling mengobrol.


Ia tak punya kapasitas untuk ikut campur urusan keluarga keduanya.


Yang pasti hati Viona senang, kini Herdilan telah berubah dalam segala hal. Berubah ke arah yang lebih baik pastinya. Dan ini akan jadi kebaikan pula untuk mental Dzakki putranya kedepannya.


...○○○○○...


"Kenapa diam saja, Yang? Kamu tak sedang sedih karena Herdilan bukan?" goda Roger membuat Viona meradang.


"Apa sih, Mas!? Perkataanmu menyudutkan begitu deh!"


"Hehehe..., jangan marah sayang!" Roger tersenyum pada Viona lewat kaca spion mobil yang dikendarainya. Mereka akan pergi ke gedung tempat pernikahan digelar. Gedung milik kakak iparnya yang akan jadi tempat sakral janji suci mereka.


"Sebel aku!" sungut Viona dengan bibir manyun menggemaskan.

__ADS_1


"Bercanda, Yang! Janganlah marah!"


"Jangan bercanda untuk hal-hal yang menyangkut pautkan hubunganku dengan Herdilan, Mas! Aku gak suka."


"Kamu masih merasa sakit dan sedih jika ingat rumah tanggamu dengan Delan? Apa pertanda kamu masih ada rasa sama dia?"


"Apa sih? Pertanyaanmu semakin ngawur!"


Viona kesal. Roger seperti mencari-cari masalah baru dengan mengorek-ngorek luka lama di hatinya.


"Aku khan cuma tanya!"


Viona terkejut, wajah Roger benar-benar dekat dengan wajahnya. Bahkan hembusan nafasnya terdengar jelas mengenai kulit Viona. Membuatnya berdebar tak karuan.


"Aku mencintaimu, Viona! Lengkap dengan semua sifat jelekmu. Baperanmu, juga bibir manyunmu itu!" bisiknya membuat pipi Viona merona.


Viona menundukkan kepalanya. Malu dan takut melihat tatapan mata Roger yang bagaikan macam jantan yang siap menerkam.


Tapi kemudian tatapan itu berubah menjadi mata kucing yang imut dan menggemaskan. Tanpa sadar Viona mengec*p pelan b*bir Roger.


Dan...


"Kalau mau cium jangan setengah-setengah!" ungkap Roger membuat Viona malu.


"Ish! Jangan terlalu bern*fsu! Pernikahan kita baru akan seminggu lagi!" larang Viona mengingatkan Roger yang merah wajahnya.


"Kamu yang pancing duluan khan!?" ujar sang kekasih yang kadung bangun juniornya.


Viona tertawa kecil sembari mengangkat telapak tangannya menutupi mulut dan deretan gigi putihnya yang indah.


"Sabar ya Yang! Kumohon kamu bisa menahan diri!"


"Ah... Sabar, sabar terus! Kapan dong aku bisa membawamu terbang ke surga dunia?!"


"Iiish, Sayaaang!"


Viona malu mendengar ucapan ngasal Roger.


Mobil yang Roger bawa meluncur memasuki ruang parkiran gedung yang luas dan asri dengan pohon bunga-bunga indah di sisi kiri kanannya.

__ADS_1


"Tempat yang sempurna, ya Yang?"


"Iya!" jawab Viona. Matanya pun terpukau pada ruangan parkir gedung Kencana Ungu yang baru saja selesai dibangun Christian untuk Mutia satu bulan lalu.


"Ternyata kak Chris romantis juga orangnya!" gumam Roger membuat Viona langsung mendaratkan kepalanya di bahu Roger.


"Adik kandungnya tak kalah romantis koq!" bisiknya membuat Roger terpana dan segera melancarkan serangannya menci*m bib*r Viona.


"Mas, Mas...! Inget Mas! Seminggu lagi!" Viona nyaris kesulitan bernafas. Roger sangat pandai berenang. Saluran pernafasannya sangat bagus. Sehingga untuk melakukan adegan ci*man pun bukanlah hal yang buruk meski ia bukan seorang playboy di masa muda.


Roger tersipu malu. Hampir saja ia lepas kendali. Karena Viona sangat menggemaskan.


"Maaf, Sayang!"


"Minta maaf sama Tuhan! Untung aku dipingit tante Widya dan tinggal sementara disana. Kalau tidak..."


"Kalau tidak, habislah kamu. Hehehe..."


Keduanya tersipu-sipu. Terlebih ketika seseorang mengetuk jendela kaca mobilnya.


"Hei, hei! Dilarang mes*m di sini!"


Mutia tertawa dengan entengnya. Memamerkan deretan gigi yang bagus dan putih bersinar.


"Dasar ya, disuruh jangan dulu ketemuan! Malah tetap diam-diam janjian!" omel sang kakak ipar.


"Maaf, Kak! Herdilan mau ketemu sama kita berdua."


"Kenapa dia?"


"Pamitan, mau berangkat ke Malaysia. Juga minta maaf tak bisa ikut menyaksikan ijab kabul kami nanti!"


"Oh... gitu ya!?" jawab Mutia. Padahal ia telah tahu dua hari sebelumnya. Herdilan mengunjungi rumahnya dan berbincang dengan Cristian mengenai pekerjaan barunya di Kuala Lumpur.


"Ayo, prepare buat acara minggu depan! Gimana maunya pasangan pengantin ini!" tutur Mutia lagi.


Mereka memasuki gedung Kencana Ungu. Terpukau pada ornamen-ornamen bangunannya yang artistik.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2