PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 212 IN FRAME "SURPRISE YANG BENAR-BENAR SURPRISE"


__ADS_3

Viona benar-benar bahagia. Roger mengadakan pesta kecil-kecilan untuk kelulusan kuliahnya.


Semua keluarga diundangnya makan malam bersama di rumah mendiang Jonathan Lordess.


Walau acara dibuat bukan di hari libur, ternyata justru mampu mempersatukan mereka di rumah satu lantai itu.


Christian bersama istri dan kedua anak kembarnya datang pukul satu siang.


Kemudian Tante Widya beserta kedua anaknya yang sudah lulus sekolah dan bekerja pun turut hadir.


Tak ketinggalan Tama, omnya Viona juga datang bersama istri dan ketiga anak perempuannya.


Membuat Viona berkaca-kaca, melihat kehadiran semua orang yang sangat disayanginya.


Sayangnya Ira tak bisa datang. Karena kehamilannya yang sudah cukup besar membuat Leon khawatir untuk melepas Ira berangkat ke Jakarta.


Fika juga ada kerjaan di Singapura. Sehingga tidak bisa hadir diacara besar Viona.


Semua berkumpul di taman depan rumah mendiang Jonathan Lordess dengan acara lengkap berikut barbeque-an.


Suasana hangat dan penuh canda tawa. Verrel, Velli dan Dzakki bahkan berjoget-joget mengikuti alunan musik yang ceria. Hingga tiba-tiba... Roger berdiri di atas gazebo dengan mic ditangan.


"Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarakatuh..."


"Waalaikumsalam Warohmatullahi Wabarakatuh..."


"Terima kasih banyak, saya ucapkan untuk kehadiran para kerabat semuanya, yang datang dengan sukacita atas undangan kami mensyukuri hari istimewa gelar sarjana psikologi, Viona Yuliana. Untuk itu saya persilahkan ratu hari ini berdiri di samping saya!"


Prok prok prok...


Semua tepuk tangan meriah sampai merona wajah Viona.


Roger mengulurkan tangannya pada Viona agar dapat naik ke gazebo tempatnya berdiri saat ini.


Terlihat wajah keduanya nampak gugup dan kikuk. Namun Roger berusaha keras menguasai dirinya hingga...


"Vionaaa!!! Viona Yulianaaa...!!! Vionaaa istrikuuu!!!"


Terdengar suara teriakan seseorang dari balik pagar.


Dan...


Hampir semua wajah langsung termangu.


"Vionaa!!! Ini aku, Delan suamimu! Aku, Papanya Dzakki Boy Julian!"


Viona turun nyaris melompat. Langsung menggendong Dzakki dengan gemetar membuat sang putra kebingungan.


"Mami!? Siapa yang berteriak-teriak diluar?" tanya Dzakki dengan polosnya.


Viona memeluk erat Dzakki. Wajahnya pucat pasi.


Christian segera berdiri dan melesat keluar. Diikuti Roger yang tak kalah cepat mengikuti langkah sang kakak.


.....


Di luar pagar, berdiri Herdilan Firlando. Dengan memegang buket bunga mawar putih kesukaan Viona.


"Herdilan!"

__ADS_1


"Mas Chris? Mas... ada di sini?"


Roger yang kesal mengepal tangan kanannya membuka pintu pagar dan langsung menerjang.


"Kau!!! Kau ternyata bajingan ini!!!"


Bug.


Roger melayangkan pukulan tepat ke wajah Herdilan.


"Roger, jangan!!!" Christian telat melarang sang adik. Roger telah memukul dengan kekuatan supernya hingga hidung Delan langsung mengucurkan darah.


"Pak Guruuu!!!"


Viona memegangi tangan Dzakki yang berteriak mengenali wajah Herdilan.


"Pak Guru?"


Viona bingung mendengar panggilan Dzakki pada Delan.


"Itu pak Guru Ando, Mih! Guru baru olahraga Dzakki!"


Seketika suasana semakin bergaduh.


Viona langsung menggendong Dzakki masuk kedalam. Mutia juga menggiring putra putrinya dengan Tini berjalan mengikuti.


"Mami! Itu pak Guru Dzakki!"


"Ayo kita masuk, biar Ayah yang membereskan semuanya!" ujar Viona dengan suara bergetar. Bahkan ia nyaris tersandung tangga batu ruang tengah.


"Viona, tenangkan hatimu!" hibur Mutia berusaha menggandeng adik iparnya itu.


"Bajingan itu apa, Mami?" tanya Dzakki yang begitu polos. Viona menggeleng tak menjawab.


"Mami, kenapa pak Guru tidak dipersilakan masuk?"


Viona menatap wajah lugu sang putra. Lalu memeluknya erat-erat.


"Dzakki! Dengar Mami! Dia itu..."


"Stop, Viona! Kamu adalah seorang psikolog. Pastinya lebih tahu apa imbasnya jika kamu mencuci otak putramu dengan cerita-cerita yang kurang baik meski itu benar! Apalagi saat ini Dzakki masih teramat kecil untuk diberitahu keburukan itu. Bahaya untuk mentalnya!"


Mutia mengingatkan Viona. Seketika Viona terisak kecil sekali. Ia berusaha menahan tangisnya.


"Kakak! Aku titip Dzakki! Kumohon, tolong jaga putraku agar tidak keluar dari kamar."


Viona bergegas keluar dari kamarnya. Ia kesal sekaligus marah besar. Acara istimewanya menjadi hancur berantakan gara-gara cecunguk Herdilan.


Dia berusaha menguasai dirinya. Menghela nafas panjang lalu berjalan pelan menuju halaman rumahnya yang ramai.


"Viona!"


Tantenya merangkul bahunya. Berusaha menyalurkan semangat lewat pelukan hangatnya.


"Tante...masuklah! Tolong jaga Dzakki di kamar Vio! Tutup semua pintu dan jendela. Juga stel lagu anak-anak di kamar, agar tidak terdengar suara ribut-ribut dari luar!"


"Iya!"


Kini di luar berdiri lima laki-laki dewasa. Dan Delan hanya sendirian. Sementara di kubuku ada Roger, Christian, Kenken dan Om Tama.

__ADS_1


Namun Christian berusaha berdiri di tengah-tengah dengan tangan memegang erat tubuh adiknya. Roger benar-benar emosi tingkat tinggi.


"Tolong, jaga emosi! Ada banyak anak-anak disekitar kita! Kumohon... semuanya dewasalah!"


Delan mengusap hidungnya hingga darah segarnya belepotan ke pipinya.


"Apa maumu, hah?!?! Tanding satu lawan satu, mari kujabani!" tutur Roger menahan suara kerasnya.


"Kita cari tempat. Jangan di sini! Dan kau Delan, sejujurnya aku salut padamu! Jagoan sekali kau menyambangi rumah ini!"


"Maaf, Mas! Aku ingin melihat putraku. Dzakki harus tahu, akulah papa kandungnya!"


Bug.


Roger kembali menjotos wajah Delan. Kini nyaris kena mata dan pelipis kiri Delan langsung merah, matang.


"Setelah apa yang telah kau perbuat pada Viona! Berani sekali kau datang meminta hak!"


Om Tama ikut angkat bicara.


"Ayo semua, kita keluar sebentar!" kata Chris.


"Tunggu...!!! Aku ikut!!!"


Viona berkata dengan suara lantang.


"Vi! Masuklah! Jaga saja Dzakki, jangan sampai Dzakki keluar!"


Viona tak mengindahkan perintah Roger. Ia justru berjalan semakin cepat menghampiri kerumunan itu. Dan...


Plak


Plak


Plak! Plak! Plak!


Tangan Viona menampar pipi Herdilan berkali-kali hingga mantan suaminya itu langsung jatuh terduduk di tanah.


Semua bengong menyaksikan kekuatan tangan Viona. Tak ada seorangpun yang melerainya. Bahkan Christian sendiri seolah lebih tertarik menonton.


Viona menarik kerah baju Delan. Hingga pria yang merah merah wajahnya itu langsung tertarik dan kembali berdiri.


"Umurmu sudah 31 tahun lebih sekarang. Begini caramu meminta hakmu padaku? Beginikah Herdilan Firlando? Bukankah kau seharusnya lebih bijaksana dalam mengambil setiap langkah? Tapi nyatanya sampai kini pun kau tetap tidak berubah! Kau... tetap bajingan tengik yang sangat menyebalkan!"


Desig.


Bug.


Prak!


Kini tiga jotosan telak kepalan tangan Viona mendarat cantik di wajah rupawan Herdilan yang sudah babak belur.


"Bravo, Viona!!! Keren!!!"


Prok prok prok... Roger bertepuk tangan sangat gembira.


Dan Herdilan langsung K.O jatuh kena hajar Viona.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2