
"Dzakkiii...!!!"
Dzakki senang, mendapati teman-teman yang langsung menyambutnya karena sebulan tak masuk sekolah.
"Dzakki, kamu kemana saja? Kamu sakit, ya? Aku kira kamu pindah sekolah!"
"Iya. Sepi tau, kelas tanpa kamu!"
"Dzakkiii...Hik hik hiks...! Kamu koq menghilang seperti hantu! Ish, aku kangen tauuu!!!"
"Besok-besok harus rajin masuk sekolah! Bisa ga naik kelas lho, kalau bolos banyak!"
"Dzakki!!! Woy, akhirnya kamu sekolah!"
"Dzak, Dzak! Main bola yuk?"
"Mamaku bawa kue soes kesukaan kamu, lho Dzak! Nih, nih... kamu pasti kangen kue soes Mamaku khan?"
Dzakki tersenyum sumringah. Matanya berkaca-kaca. Senang karena semua teman sekelasnya menyambutnya dengan antusias.
Awalnya Dzakki sangat takut. Ia khawatur teman-temannya akan membully dan mencemoohnya yang memiliki masalah keluarga luar biasa.
Viona dan Roger yang melihat putranya dikerubuti teman-temannya, hanya melihat dari kejauhan.
Viona ikut terharu, bahkan ia sampai meneteskan air mata. Bu Irma dan bu Senja, guru di sekolah Dzakki turut memberikan support kalau Dzakki akan aman di sekolah karena mendapatkan banyak cinta.
Roger sempat khawatir, makanya ia bersikeras mengantar Dzakki masuk sekolah dan berniat menungguinya sampai waktu pulang tiba.
Ia tak ingin putra sulungnya itu mendapat kekerasan baik fisik maupun psikis, karena masalah keluarga mereka yang pelik.
Viona bersikukuh untuk ikut serta mengantar Dzakki.
Wanita hamil yang dulu suka labil dan lemot itu kini terlihat lebih tegar juga dewasa.
Viona mental dan sikapnya kini jauh lebih baik setelah banyaknya peristiwa, cobaan dan ujian kehidupan yang Tuhan beri padanya.
"Bu Irma, bagaimana keadaan bu Kartika Sari?" tanya Viona tiba-tiba teringat guru dan wali kelas putranya itu.
"Oh iya, Bu Kartika juga sudah sehat sekarang dan sudah bisa berjalan lagi. Kabarnya bu Kartika juga akan mulai mengajar hari ini!"
"Iyakah? Alhamdulillah, syukurlah!"
Roger dan Viona saling berpandangan. Lega hati keduanya, guru Dzakki itu kini telah terbebas dari gangguan makhluk halus yang selama ini menguasainya.
Roger juga kini tak lagi menyimpan dendam pada Kartika karena sempat mencelakakan Viona serta kandungannya tempo hari.
Roger kini memahami, Kartika justru tidak tahu dan itu bukan kesalahannya. Ia justru merasa iba dan ingat keinginan putranya. Dan ingin mewujudkan khayalan Dzakki yang menginginkan bu Kartika menjadi pasangan Papinya.
Viona tersenyum, ia merasakan kehangatan Roger yang memberinya kode-kode untuk menjodohkan keduanya secara alami.
Berharap Herdilan dan Kartika berjodoh. Harapan Dzakki memiliki Ibu baru dari Papinya, menjadi kenyataan.
__ADS_1
....
Kartika turun dari mobil sang Papa.
Ini hari pertama ia kembali mengajar. Setelah hampir dua bulan off dari pekerjaannya sebagai guru.
Bahkan kelas satu yang sempat jadi pegangannya kini harus ia ikhlaskan dialihkan selama setahun kepada Senja, rekan sejawatnya.
Kartika kini mengajar mata pelajaran seni budaya. Juga membantu guru wali kelas yang absen dengan menjadi guru ganti alias guru piket.
"Bu Viona!!!"
Kartika sangat senang, melihat Maminya Dzakki yang terlihat berdiri di depan ruang guru seraya menatap lembut kepadanya.
Ia mempercepat jalannya. Bergegas menghampiri Viona.
keduanya berpelukan erat, dengan mata berkaca-kaca.
"Apa kabarnya? Dzakki mana?"
"Dzakki sudah masuk ke kelas! Syukurlah..., Bu Kartika sudah sehat kembali!"
"Semua karena Dzakki, dan juga ibu bapak juga omnya Dzakki. Saya sangat sangat berterima kasih!"
"Sama-sama. Saya juga, mengucapkan banyak terima kasih pada bu Kartika! Maaf, kami sekeluarga tidak bisa memberi komentar pada postingan-postingan ibu! Kami, tidak memakai internet dan jauh dari perkotaan!"
"Iya, saya sangat mengerti sekali. Tidak apa-apa. Yang penting Ibu sekeluarga selalu sehat wal'afiat. Juga Dzakki dan dede bayi di perut Ibu!"
"Dengan senang hati, bu Viona! Saya sangat menunggu waktu itu tiba!"
"Ya sudah, nanti saya kabari lagi! Saya, titip putra saya ya Bu!?"
"Iya. Jangan khawatirkan Dzakki! Putra Ibu adalah anak yang cerdas dan pandai bergaul. Selama ini pun Dzakki tidak pernah punya masalah dengan kawan-kawannya!"
Viona dan Roger tersenyum bahagia.
Mereka bisa tenang meninggalkan Dzakki belajar di sekolah. Dengan tuntunan dan bimbingan guru-guru yang berpotensi serta berkualitas tinggi.
Kini mereka bisa bernafas lega.
...🌼🌼🌼🌼🌼...
Herdilan dan Fika membuka bisnis baru bersama. Herdilan mencoba peruntungannya dengan membuka bengkel mural di wilayah Singapura.
Berkat bantuan dan koneksi sang adik tiri, usahanya berjalan dengan baik.
Satu persatu pelanggan datang meminta bantuannya. Mulai dari merombak tembok warung, hingga menata ulang design dari sebuah kantor perusahaan.
Herdilan dan Fika bisa klop karena Fika yang juga seorang design engineer sehingga dialah yang menyusun Bill of Quantity sampai Rencana Anggaran Biaya (RAB) diperusahaan yang Herdilan bangun.
Diandra juga sangat tertarik pada bisnis saudara iparnya itu sehingga ia mejadi partner kerja meski tidak ikut serta berkecimpung didalamnya karena ia hanya seorang dokter jiwa saja.
__ADS_1
Ia mempercayakan semuanya pada istri serta saudara iparnya.
Perlahan, Herdilan mulai memiliki kepercayaan diri. Membangun bisnis usahanya bersama Fika dan Diandra.
....
Christian, Mutia, Verrel dan Velli dengan wajah berseri berdiri di depan pintu rumah mendiang Jonathan Lordess.
"Papa Chriiis!!!"
Dzakki yang sudah pulang sekolah langsung menubruk tubuh Chris, yang sudah seperti orangtuanya juga.
Airmata Dzakki berlinang. Senang dan terharu.
Satu persatu saudaranya ia peluk dengan hati menghangat.
Mereka kini kembali ke Ibukota.
Melupakan semua kejadian demi kejadian buruk yang nyaris menenggelamkan jiwa mereka.
Kini Chris tersenyum dengan pancaran mata yang lebih cerah dari kemarin-kemarin.
Dan Roger mengangguk penuh semangat dengan tangan menggenggam erat jemari kakak tercintanya itu.
Dua keluarga itu kini kembali bersatu. Ditambah formasi Kenken dan Tini, mereka berjanji dalam hati... akan semakin mengeratkan tali persaudaraan ini. Dengan saling bantu, dukung serta support satu sama lain.
Chris menceritakan niatnya untuk mencari hunian baru. Untuk ditempati setelah rumah lama mereka kini telah laku terjual.
"Ada tanah yang dijual di wilayah perumahan ini juga, Boss! Tapi masih berupa tanah, jadi butuh waktu untuk membangunnya!" ujar Kenken pada Christian.
"Boleh juga tuh, Ken! Bisa antar aku buat lihat-lihat dulu?"
"Tentu, Boss!"
"Semoga bisa memulai lagi usaha baru!"
"Aamiin..."
Semua tersenyum senang. Makan malam terasa sangat meriah, penuh canda dan gelak tawa.
Kota besar ternyata terlihat biasa saja. Meski tidak menyambut kedatangan mereka dengan gegap gempita, tetapi semua orang nampak sibuk dengan urusan masing-masing.
Begitulah ibukota.
Kejamnya memang melebihi ibu tiri.
Tapi pesonanya menakjubkan banyak hati.
Semua orang ingin sekali menjadi bagiannya. Dan ingin memiliki kisah kesan yang indah demi menakhlukannya.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1