
"Delan mengajakku bekerja sama!"
"Kerjasama apa?" tanyaku cemas.
Apalagi yang ingin pria itu lakukan? Yang pasti, itu persekongkolan yang tidak baik.
"Dia menawarkan jabatan setara supervisor di PH Mamanya, gaji sepuluh juta, mobil inventaris!"
"Untuk?"
"Menggoda Mutia Permata Melody!"
What??? Benar-benar bajingan si Herdilan Firlando itu!
Kak Firman menatap netraku tajam.
"Bagaimana menurutmu, Vi?"
Hhh...
Aku menghela nafas, menelan saliva.
"Bagaimana hati kecil Kakak?" aku balik bertanya.
"Manusiawi jika aku tergiur! Dan juga tawaran menarik dua-duanya. Aku memang mencintai Mutia. Pernah sangat mencintainya!"
"Bahkan masih mencintainya sampai saat ini!" selaku membuatnya menunduk. Mempermainkan jari-jarinya yang kokoh dan kuat.
"Hhh... Tawarannya juga menarik!"
"Kakak..., boleh aku bertanya?"
"Hm?"
"Apakah kamu sebegitu tidak percaya dirinya hingga ketampananmu pun kau remehkan?" tanyaku dengan sungguh-sungguh.
"Maksudmu?"
"Kakak tampan. Baik hati, juga... punya tanggung jawab yang besar dalam segala hal!"
"Iya kah?"
"Tapi kenapa kakak tidak memiliki kepercayaan diri? Kenapa?"
"Aku... tidak memiliki apapun untuk kubanggakan selain wajah ini!"
__ADS_1
"Kakak pekerja keras. Aku tahu itu. Aku bisa melihat semua kebaikan kakak!"
"Tapi kamu selalu menolakku, Vi!"
"Dulu aku sangat mengagumi Kakak. Dan aku menunggu Kakak berani bertindak lebih banyak. Mendekatiku dengan gigih dan intens lalu menembakku! Tapi... Kakak tidak juga lakukan itu!"
"Belakangan ini aku sering lakukan itu! Aku memepetmu. Menembakmu beberapa kali, tapi... tetap belum dapat jawaban yang membahagiakan hati ini."
"Sekarang aku bukanlah Viona yang dulu. Aku sudah menikah, dan sekarang statusku janda. Sedang hamil juga!"
"Stop!...Kau mengatakan itu berkali-kali! Aku tidak pernah menilaimu dari status. Kau adalah wanita istimewa di hati ini!"
"Tapi tidak seistimewa kak Mutia, khan?"
"Karena aku pernah menjalin hubungan selama dua tahun dengan Mutia. Sedangkan denganmu, aku belum pernah. Dan sekarang aku sungguh-sungguh ingin bersamamu!"
"Hhh..."
Aku menghela nafas. Agak bingung menjelaskan sesuatu... yang memang untuk kali ini pun kurasa hubunganku dengan kak Firman tak 'kan berhasil.
"Kakak..."
"Ya, Vi?"
"Hehehe... Semoga kamulah jodohku!"
"Aku dan kak Mutia bukan jodohmu. Dan kurasa, kak Firman telah mengetahui itu. Bahkan kakak sangat hebat, bisa legowo dan bilang...kalau Mutia bahagia, kakak ikut senang."
"Ya!"
"Dan karena sogokan kerjaan dan harta dari Herdilan, kakak jadi berubah? Bukankah kakak ingin kak Mutia bahagia? Tidakkah kakak fikirkan, andai kakak menggodanya...dan rumah tangga kak Mutia hancur berantakan, akankah kak Mutia menerima kakak kembali? Dan apakah predikat pebinor yang kakak sandang nanti tidak akan mendapat karma dari Tuhan? Siapkah kakak mendampingi kak Mutia yang kini adalah seorang ibu dengan dua anak kembar?"
Kak Firman terdiam. Seperti memikirkan ucapanku.
Akhirnya aku punya jurus kata-kata jitu.
"Kakak!... Aku sangat mengagumi kebaikanmu. Bahkan selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Segalanya. Jodoh kakak juga pekerjaan! Percayalah pada kekuatan cinta Tuhan dan juga doa-doa yang selalu kakak panjatkan! Semua akan indah pada waktunya, Kak!
Kak Firman masih diam. Seperti merenungkan semua ucapanku.
Semoga semua kataku diserapnya dengan baik. Semoga kak Firman mengerti apa yang kubicarakan.
"Aku juga tidak ingin menghancurkan rumah tangga orang lain, Vi! Aku tidak pernah berfikir sejauh itu!"
"Itu adalah hati kakak yang sangat bersih!"
__ADS_1
"Kalau aku mau jadi pebinor, sudah kulakukan itu dari dulu. Di awal ia menikah... dan...hhh... haish sudahlah! Obrolan ini sudah terlalu jauh."
"Kakak...! Lalu sekarang apa keputusanmu?"
Kak Firman menatapku. Binar matanya kini kembali bersinar. Senyumnya kemudian mengembang seraya berkata, "Rahasia!"
"Haish! Kumat deh ngeselinnya!" umpatku sebal.
"Hahaha...! Bumil kepo!"
"Biarin! Daripada aku mati penasaran! Ayo kasih tahu, Kak!"
"Aku akan menuruti perkataanmu!"
"Sungguh? Beneran? Ga akan ambil kesepakatan yang si Delan bajingan itu tawarkan?"
"Iya. Uang bisa dicari. Tapi kawan yang cantik dan baik seperti dirimu sangatlah susah di cari!"
"Jiaaah...hahaha...! Good man!"
Aku bersorak senang. Bahkan nyaris melompat ke arah kak Firman.
"Vi, jangan pegang-pegang! Tanganku banyak percikan cat ini!" larang kak Firman membuatku tertawa malu.
"Hihihi... Maaf, Kak!"
"Tapi janji,... hubunganmu dengan Om Jonathan itu juga harus seimbang denganku, ya?"
Deg.
Jantungku berdetak kencang. Kak Firman memintaku untuk tidak terlalu dekat dengan kak Jonathan.
Aku tersenyum. Mengangguk pelan meski dalam hati ragu dan tak mau janji akan menuruti perkataannya.
Hhh...
Maaf kak Firman! Antara aku dan kak Jo telah ada chamistry yang tak bisa kuuraikan dengan kata-kata. Entahlah... Aku pun tak tahu. Tak bisa menjawab pasti. Tapi pada Kak Jo, aku telah memberinya jawaban. Bahwa aku akan menerima pinangannya setelah melahirkan dan lewati masa nifas 40 hari.
Kak Firman mengambil gelas beling yang tinggal setengah isinya. Diseruput hingga tanda dan senyumnya kembali mengembang.
Hhh...
Apa yang kini sedang kak Jo lakukan ya? Dimana dia sekarang? Kenapa tiba-tiba aku rindu kak Jo? Apakah kak Jo juga merindukan aku? Ya Tuhan... Ada apa dengan perasaanku ini...
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1