PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 102 Obrolan Bersama Para Sahabat


__ADS_3

"Hei,... boss menyuruh kita untuk menunda eksekusi! Jangan dulu bertindak tanpa aba-aba! Bisa marah dia! Amsyong kita ga dapat fulus!"


Tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata agak pelan. Membuat yang lain saling pandang. Sementara yang seorang menunjuk ke arah Kak Firman sambil bergumam tidak jelas.


Akhirnya kelima preman itu pergi meninggalkanku, Ira juga kak Firman.


"Ada apa sih, Kak? Kayaknya lo bermasalah sama mereka ya?" tanya Ira membuatku menunggu jawaban kak Firman setelah mengangguk-angguk.


"Ga ngerti, Ra! Aku ngerasa ga punya masalah dan ga bikin masalah sama mereka!"


"Hm..."


"Gitulah, orang jurnalis itu selalu punya musuh. Hehehe...! Tapi no problem selama mereka hanya sekedar ancaman palsu aja!"


"Memang selama ini kakak sering dapat ancaman gitu? Maksudnya, apa tulisan kakak membuat sang target tulisan tersinggung lalu mengancam kakak?" tanyaku makin penasaran.


"Hehehe...! Ya kadang gitu juga. Kalo pas tokoh atau artis yang kita ulik dan bikinkan cerita artikel di media elektronik itu membuat mereka risih dengan kejujuran kami para wartawan!"


Aku dan Ira melongo.


Kukira seorang jurnalis itu pekerjaan yang aman. Terkesan nyaman karena hanya berkutat dengan mesin listrik seperti komputer, laptop dan printeran. Ternyata... tidak sesederhana itu.


"Ada kisah malah seorang wartawan ditemukan mati di rumahnya sendiri setelah menulis cerita pribadi salah seorang pejabat penting!"

__ADS_1


Tiba-tiba aku teringat papa Bambang.


Beliau adalah orang penting. Pengusaha kelas atas yang sudah puluhan tahun terjun kedunia politik. Kariernya cukup gemilang dengan nama yang nyaris cukup harum.


Padahal dikehidupan aslinya...


"Kakak menulis kisah siapa akhir-akhir ini?" tanyaku pelan. Pikiranku melanglang berhalusinasi kalau kak Firman sedang membuat artikel tulisan yang cukup berbahaya bagi keselamatan jiwanya.


"Kakak tidak sedang membuat masalah dengan Herdilan Firlando sekeluarga khan?" tanyaku lagi.


Senyum lebar tebar pesonanya membuatku menoleh ke arah lain. Hadeh! Aku gak mau kena diabetes!



"Aku kalau mau, sudah kulakukan sejak dulu Vi! Bahkan aku memiliki rekam jejak ceritanya dari si Delan sendiri. Tapi aku tidak ingin lakukan itu!"


Ira mengusap punggung tanganku.


"Kak Firman bisa membedakan urusan kerja dan urusan pertemanan, Vi!" katanya.


"Iya, Ra! Aku juga tahu kebaikan hati kak Firman! Cuma... Aku khawatir saja dengan keselamatan kak Firman kalau mengingat keluarga itu!"


Hhh... Aku menghela nafas. Kak Firman menepuk-nepuk tanganku dan Ira merangkul bahuku.

__ADS_1


"Yang penting kamu sudah terbebas dari kehidupan Herdilan dan keluarganya, Vi! Kamu beruntung, semua tindakan menjual aset-aset gono-gini perceraianmu ternyata tidak salah. Apalagi kini ketika mereka dalam keadaan tertekan seperti sekarang karena kasus yang tidak kita duga!" hibur Ira. Kini kak Firman yang mengangguk.


Mereka tidak tahu kalau aku dibantu seseorang. Yaitu kak Jonathan Lordess!


Aku memang berusaha menyembunyikan jati diri serta perkenalanku dengan kak Jo yang adalah om-nya Herdilan. Karena selain akan ribet menjelaskan, aku juga tak ingin para sahabatku memandang aneh diri ini.


Lepas dari keponakannya malah dekat dengan omnya! Hhh...


"Sekarang Viona tinggal dimana?"


"Di rumah ayah ibu, Kak! Tapi sebentar lagi aku juga akan pindah dari sana. Niat mencari kostan atau kontrakan yang satu kamar saja. Tinggal sendirian di rumah yang agak besar membuatku merasa kesepian, Kak! Ngajak si Ira ini ternyata anak mami. Tak berani meninggalkan rumah mami yang penuh pasilitas!"


"Hahaha... Bukan begitu, Vi! Mamiku itu sudah tua. Kakak-kakakku sudah menikah semua, lalu satu persatu tinggal dengan pasangan masing-masing. Tinggal aku yang masih bersama mereka. Mami suka bilang, kalau aku menikah... suamiku yang harus ikut mereka. Hadeuh!"


"Hehehe... Iya, Ra! Canda aja aku mah!"


"Jadi Ira masih tinggal sama orangtua?" tanya kak Firman.


"Begitulah, Kak! Tapi pacarku masih mikir-mikir. Kalau nanti... kami menikah, ia punya mimpi pindah kerja di pulau Kalimantan. Katanya ada tawaran menggiurkan. Cuma ya... itu kendalanya! Restu Mamiku! Hiks.."


"Pantas saja Leon belum melamarmu sampai sekarang ya, Ra! Auw hahaha..."


Aku tertawa keras setelah mengaduh. Ira mencubit kecil pinggangku.

__ADS_1


Kak Firman tersenyum memperhatikan kedekatan kami. Ia terlihat menggelengkan kepalanya berkali-kali.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2