
Aku dimasukkan ke dalam sel tahanan yang dingin dan lembab.
Beruntung sekali sel itu kosong, hanya aku seorang penghuninya. Sehingga bisa dengan leluasa merebahkan tubuh sesuka hati mau ke arah mana juga di sebelah mana.
Hhh...
Hanya menghela nafas panjang. Masih kecewa dengan keadaan dan nasib buruk yang kini Tuhan berikan. Aku benar-benar tak habis fikir.
Selembar karpet plastik ukuran 1x2 meter menjadi alas untuk tubuhku baringan.
Dingin menyergap sebentar. Tapi kemudian suhu tubuh ini perlahan kembali menghangat.
Dengan posisi terlentang dan wajah menghadap langit-langit sel yang berwarna putih, pikiranku kembali menerawang.
Tak pernah kusangka, Papaku akan segila itu.
Siapa yang akan mengurus pemakamannya nanti? Sedangkan aku sedang ada di tahanan ini!
Aku hanya bisa menelan saliva. Kuusap jakunku yang terasa sakit karena menangis berteriak di kejadian berdarah tadi sore.
Jam berapa ini? Sepertinya sudah lewat maghrib! gumamku sambil menengok kiri kanan dinding. Berharap ada jam yang menempel hingga aku bisa tahu waktu sekarang.
Jam tangan, hape juga dompetku semua disita polisi. Dipreteli hingga tinggal pakaian dalamku saja. Setelah itu aku hanya dikasih sepotong kaos tahanan berwarna oranye.
Mataku lelah berkantung. Juga mengantuk. Hingga perlahan kupejamkan kelopaknya dan berusaha menenangkan diri ini dengan beristirahat, tidur.
...........
...........
"Delan! Delan...! Delan!!!"
Aku tersentak kaget. Dihadapanku ada wajah putih pucat menatapku dengan tajam. Membuatku memundurkan tubuhku, menjauh dari orang yang kukenal itu.
"Fi-Firman???"
"Kamu sendirian disini? Mau kutemani?"
"Aa..aa...aaaa... Ja-jangan!!!"
Firman kenapa ada di depanku? Berjongkok dengan wajah dan mata melotot padaku.
__ADS_1
"Aaa... pergi!!! Pergi! Kamu...sudah mati!!!"
"Aku kasihan melihat nasib hidupmu, Delan! Kau sendirian membusuk di sini! Tak ada teman, juga saudara. Bahkan orangtuamu sendiri kini tak lagi peduli! Hanya aku yang peduli padamu, Delan!"
Tubuhku gemetar. Kututup wajah ketakutan ini dengan kedua belah mataku. Tapi suara Firman semakin terngiang di telinga.
"Aku akan setia menemanimu, Delan! Kau butuh teman bukan?"
"Aaa... tolooong!!! Tolooong! Pak Polisi tolong aku!" teriakku panik sambil mengguncang-guncangkan jeruji sel hingga terdengar klonteng-klonteng.
"Hehehe... Dasar kau Delan! Aku ini setia kawan! Niatku menemanimu malah kau ketakutan! Bukankah kau sangat ingin aku temani? Sampai kau dengan gagah berani menghilangkan nyawaku dari dunia ini?"
"Tidak! Tidak, Firman! Aku tidak ada niatan membunuhmu! Sumpah demi Tuhan! Aku hanya kesal padamu dan memang sengaja menyenggol motormu sampai masuk kali Matraman. Tapi itu bukan niatan membunuh! Itu kecelakaan!"
Aku berteriak-teriak histeris. Terlebih ketika tubuh dingin Firman menghampiriku. Hingga terasa sekali hawa dinginnya menyergap kulitku.
Aku menggigil, semaput melihat wajah pucatnya.
Fi-Firman jadi hantu!!! I-iya kah!?!?
Aku jatuh ke lantai karena lututku gemetar.
"Aku tidak akan membunuhmu, Delan! Aku ini temanmu bukan? Makanya aku ingin menemanimu di sini agar kau tidak kesepian!"
Aku memejamkan mata melihat tangan Firman yang memanjang dan kuku tiba-tiba keluar dari jarinya. Memanjang seolah hendak mencekikku.
"Tolooong!!!..."
Gubrak gubrak. Klontreng-klontreng!
"Hei, bangun!!! Berisik!!!"
Aku bangkit dengan mata melotot.
Mimpi! Hanya mimpi!!!
Tapi aku sangat ketakutan.
Aku bangkit berlari menuju jeruji sel. Menarik tangan pak Polisi yang tadi membentakku.
"Bapak! Bapak tolong keluarkan saya dari sini! Saya mau buat pengakuan!"
__ADS_1
Aku benar-benar ingin keluar dari sel ini. Aku tak mau di sini. Sendirian. Dalam sel tahanan yang kosong.
Pak Polisi itu menatapku tajam. Kemudian ia membuka pintu sel dan membawaku keluar.
"Pak... Pak! Tolong jangan taruh saya di sel itu sendirian!"
"Kamu khan di sini hanya saksi! Kalau kamu sudah tersangka, baru ditempatkan di sel yang berisi tahanan lain!"
"Saya... saya telah membiarkan Papa saya menembak Om saya, Pak!"
"Cctv TKP juga sudah kami periksa. Jadi semua akan terungkap. Kamu bisa bebas 2x24 jam jika memang terbukti tidak bersalah!"
"Delan! Kamu mau kemana, Delan? Percuma kau keluar dari sini. Karena aku pasti akan selalu mengikutimu! Kau adalah temanku. Aku harus bersamamu!"
Aku memekik. Tiba-tiba wajah Firman berada di belakang wajah pak Polisi.
"Pak Polisiii, tolong saya!!!" teriakku histeris.
"Hei, hei... kenapa?" tanya Pak Polisi bingung.
"Saya... saya dihantui setan!!!"
"Hahaha... Hadeeuh! Ini orang, kenapa kau dihantui setan. Hati-hati kau ditemani jin dan iblis!"
"Paaak! Aku seriuuus!!!" teriakku kesal.
"Kalau kau dihantui setan. Pasti kau telah membunuh sampai orang itu jadi setan!" umpat pak Polisi memarahiku.
Deg.
Aku...memang telah membunuh Firman!
"Aku memang telah membunuh seseorang, Pak! Hik hik hiks...!"
Aku yang dibawa ke ruangan interogasi hanya bisa menangis tersedu. Menceritakan semua kronologi kejahatanku pada Firman. Jurnalis salah satu media online yang meninggal dunia karena jatuh ke sungai bersama motornya.
Pak Polisi membuatkan laporan kejahatanku.
Akhirnya mereka melakukan penyelidikan dan aku dinyatakan terbukti bersalah. Hingga aku benar-benar dimasukkan dalam sel tahanan yang berisi lima narapidana bermacam kasus. Menunggu giliran jadwal sidangku dan mutlak dijatuhi hukuman kurungan.
Hhh...
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...