
Aku dan Mas Delan seperti biasa,... bertemu rutin dengan dokter spesialis kandungan demi untuk mendapatkan keturunan.
Setelah beberapa kali pertemuan, kami sepakat menandatangani kontrak bayi tabung yang mama Tasya sarankan.
"Tapi dok! Saat ini saya masih banyak pekerjaan juga, sehingga kemungkinan menghasilkan bibit sperm* yang bagus agak kesulitan mungkin! Saya minta waktu dua tiga bulan kedepan untuk melakukan pengecekan ulang!" tukas mas Delan membuatku agak bingung.
Lantas untuk apa ia menandatangani kontrak bayi tabung sekarang, jika masih meminta waktu dua tiga bulan untuk masuk pemeriksaan khusus.
"Kamu kayak yang engga' tau mama Tasya saja, Vi! Mama pasti sudah nyimpan nomor dokter Felly dan tanya soal rencana bayi tabung kita. Mama terlalu ikut campur urusan keluarga kecil kita sebenarnya khan?"
Akhirnya aku tahu jawabannya. Ternyata bukan aku saja menantunya yang tertekan. Putra kandungnya sendiri juga merasakan.
"Tapi mau bagaimana lagi, mas! Kata-kata Mama juga ada benarnya. Kita memang lebih baik memiliki anak ketika usia masih muda. Karena beberapa tahun kemudian, fisik juga psikis makin kurang memungkinkan juga."
"Ya tapi semakin kita di tanya-tanya Mama, semakin stres kita. Kamu sendiri sebenarnya kepingin kita segera pisah rumah dari mama khan?"
__ADS_1
Binggo! Ternyata isi hatiku selama ini di dengar juga oleh mas Delan. Itu benar! Aku ingin sekali memiliki rumah sendiri, bersama mas Delan. Bukan tinggal di pondok indah mertua. Meski seindah apapun istana Mama Tasya, aku ingin juga memiliki kebanggaan dari hasil keringat suami.
"Nanti kita bicarakan sama Mama. Kamu ingin punya rumah!" tutur mas Delan membuatku lega.
"Bukan begitu juga maksudku, Mas! Sebagai seorang istri, aku ingin memiliki kekuasaan penuh atas diri suami serta diriku sendiri. Juga mengatur rumah idamanku sendiri. Tak perlu besar, satu kamar pun tak mengapa. Asalkan aku memiliki kekuasaan untuk menatanya sesuka hati."
Namun...
"Untuk apa membangun rumah sendiri? Apa rumah Mama ini sangat sempit di mata kalian? Dan lagi,... anak Mama itu cuma kalian berdua. Kalau kalian pindah, terus mama bagaimana?"
"Viona boleh rubah style rumah Mama! Apa Mama pernah melarang? Apapun yang mau Viona buat? Tidak bukan?"
Ah... Entah mengapa. Disaat seperti ini aku seperti sedang dalam keadaan terjepit. Dimana aku ditengah-tengah antara suami dan mama mertuaku sendiri. Dan pastinya ini adalah dilema bagiku.
"Mama... sudahlah, Ma! Kenapa meributkan hal yang ga terlalu penting!" kali ini suamiku baru membantu ikut bicara.
__ADS_1
"Kata siapa ini ga penting? Justru semuanya penting! Sangat penting bagi kelangsungan hidup Mama kedepannya! Kamu tahu? Mama yang memiliki rumah besar, pekerjaan juga uang saja mendapatkan kesedihan seperti ini menjelang hari tua Mama. Apalagi kalau Mama ini miskin, pengangguran, tak punya apa-apa!"
"Ma, please Ma! Kami bukan bermaksud seperti itu juga, Ma! Kami cuma..."
"Sudahlah, terserah kalian! Mau pergi dari rumah ini juga gak apa-apa! Mama ga kalian pedulikan juga silakan saja!"
"Ma... Maafin kami Ma! Maafin Viona, Ma!"
Mama Tasya menangis, masuk kamarnya dan mengurung diri. Itu adalah sifat sang mertua yang tak bisa kululuhkan.
"Hhh...! Seperti biasa. Selalu begitu!"
Aku hanya bisa mendengar keluhan mas Delan jika Mama Tasya sudah begini.
Hhh...
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...