
Aku mengikuti ke arah mana Viona melangkah.
Kantin rumah sakit!
Ternyata hari sudah siang. Ini sudah waktunya makan siang.
Apa Viona bekerja di rumah sakit ini? Berarti... selama ini ia dekat sekali dengan Mama. Berarti Mama mengetahui keberadaannya dan putra kami juga!
Ya Tuhan... Terima kasih! Perlahan kau rekatkan kembali hubungan kami yang telah retak ini!
Aku ingin sekali mendekatinya. Namun...tiba-tiba datang seorang lelaki yang usianya kuperkirakan seumur kak Chris.
Tampan. Dan...sepertinya dia adalah seorang dokter di rumah sakit ini.
Hm...
Aku hanya mengamati keduanya dari kejauhan.
Kulihat wajah pria itu tersenyum selalu pada istri pertamaku.
Hhh...
Aku yakin, dia pasti jatuh cinta pada Viona-ku. Dan kuyakinkan...semua itu tidak akan kejadian, hai dokter mesum!
Lihat saja nanti! Aku akan kembali sukses. Dan akan kembali merebut hati Viona, istri pertamaku yang super sekali hatinya.
Viona! Viona, please... Jangan tersenyum terlalu manis pada pria itu! Dia menyimpan rasa padamu. Aku bisa lihat dari caranya menatap wajahmu. Aku bisa menerka dari gayanya melemparkan candaan agar kau tertawa meresponnya.
Shiiit!... No no no!
Tuhan, kumohon... jangan jodohkan Vionaku dengan orang ini, Tuhan! Please...
Aku hanya bisa menghela nafas geram, berkali-kali. Terlebih melihat Viona kini yang semakin cantik, manis dan dewasa.
Viona! Maafkan aku, Viona! Jangan respon pria itu! Aku masih mencintaimu. Dan aku ingin kita memulai lagi dari nol seperti dulu. Bahkan kini aku akan lebih dewasa lagi dalam mencintaimu. Apalagi kini ada anak kita juga. Yang membutuhkan kasih sayang kita, Mama dan Papanya.
Aku mengepalkan tanganku. Ini tanggal 12 Februari. Hari anniversary kita, Viona! Tanggal pernikahan kita.
Aku geregetan menyaksikan kedekatan Viona dengan pria itu. Akhirnya menyerah kalah dengan pergi kembali menemui Mama.
Jika aku paksakan diri menemui Viona. Istriku itu pastinya akan marah besar. Dan aku tak akan ada kesempatan lagi bersamanya.
Jadi untuk saat ini, aku akan menunghu waktu yang tepat. Sembari bekerja mengumpulkan pundi-pundi uang, untuk kita di masa depan. Amin.
.........
"Darimana Delan?" tanya Mama panik.
"Mama..., aku melihat Viona!"
__ADS_1
"Viona memang bekerja di rumah sakit ini. Dan Viona juga yang merawat Mama selama ini! Mama sudah meminta maaf padanya."
Mataku terbelalak. Tebakanku benar. Airmataku pun merebak.
Ternyata Tuhan Maha Baik. Viona masih menyimpan rasa padaku. Viona masih mencintaiku! Syukurlah!
Kupeluk tubuh Mama dengan penuh keharuan.
"Mama pernah melihat anakku juga?" tanyaku penuh harap. Tapi Mama menggeleng.
"Viona tidak pernah menceritakan anaknya pada Mama! Meski Mama sempat tanyakan keberadaan cucu Mama, Viona selalu mengalihkan pembicaraan!"
Aku termenung. Memikirkan kenapa Viona seolah menyembunyikan identitas anak kami. Kenapa? Apakah anakku dalam keadaan tidak baik?
Seorang penjaja bunga melintasiku dan Mama duduk diteras bangsal rumah sakit.
"Mbak, berapa setangkai mawarnya?"
"Lima belas ribu, Mas!"
Mahalnya. Tapi aku ingin menghadiahkannya pada Viona. Untuk anniversary kita.
Terpaksa kurogoh kantong celanaku hingga jatuh kartu nama dari perempuan yang sempat kutolong ketika tasnya dijambret.
Kartika Sari. Nama yang bagus.
Tapi aku tak berminat untuk menghubunginya. Lalu kartu nama itu kuremas serta kubuang ke tong sampah yang tak jauh dari tempatku berdiri.
"Hehehe... baiklah, penglaris!"
Syukurlah! Aku berhasil membeli setangkai mawar merah.
"Mama...! Delan titip bunga ini untuk Viona, ya? Delan sekarang mau cari kerja. Mau berusaha agar bisa kembali menyatukan keluarga kecil Delan. Mama akan kubawa serta. Kita akan bahagia! Percayalah!"
Aku pamit pergi. Kukec*p pipi Mama kiri dan kanan. Kucium punggung lengannya berkali-kali. Hanya lelehan air mata Mama yang kuhapus sambil berucap, "Jangan menangis, Ma! Doakan anakmu ini bisa mendapatkan kebahagiaannya kembali!"
Aku pergi. Niat mencari kerja ke kantor kak Christian.
...POV HERDILAN the end...
...........
Tasya yang menangis melihat kepergian putranya hanya berdoa dalam hati. Semoga sang putra bahagia. Dan mendapat apa yang ia impikan.
Ia kembali ke kamarnya. Menaruh sekuntum mawar yang Delan titipkan untuk Viona. Besok atau lusa pasti Viona menjenguknya. Baru akan ia sampaikan nanti pada mantan menantunya itu.
Tasya menarik selimutnya. Terlalu lama diteras bangsal membuat tubuhnya menggigil kedinginan. Angin bulan Februari dirasanya kurang bersahabat.
Ia tidur perlahan. Lupa meminum obat yang tadi suster perawat pesankan padanya.
__ADS_1
.............
"Tasya!"
"Mas Bambang! Mas... Mas aku kangen!"
Bambang terlihat berdiri dihadapan Tasya. Senyumnya mengembang tipis. Namun kembali datar menatapnya tajam.
"Mas...! Kenapa sikapmu berubah padaku, Mas? Peluk aku, Mas! Aku kangen padamu!"
Bambang memeluk Tasya, tapi raut wajahnya masih datar tanpa senyuman lagi.
"Kenapa Mas?"
"Aku sedih, Tasya!"
"Kenapa?"
"Ingatkan pada Herdilan! Jodohnya bukanlah Viona, Tasya! Jangan ganggu Viona lagi. Biarkan Viona bahagia!"
"Kenapa kamu lebih membela Viona daripada putramu sendiri, Mas? Harusnya kau lebih memperhatikan perasaan Delan daripada perasaan Viona! Harusnya kau mem-push Delan untuk mendapatkan apa yang kau inginkan!"
Tasya marah pada suaminya. Ia merajuk dan ingin dibujuk Bambang. Tapi ternyata...
Plak.
Sebuah tamparan di pipi kanannya dari sang suami membuat Tasya melotot kaget.
"Mas? Teganya kau menamparku!"
"Ini untuk kesadaranmu! Ini untuk mengingatkanmu kembali pada kedudukanmu! Kau, hanyalah istri keduaku. Tania-lah istri pertama! Dan perkataan Tania adalah yang mutlak bagiku!"
"Jadi kakak sepupuku yang melarang Delan kembali pada Viona?"
"Ya, Tasya! Tania tidak ingin Viona jadi jodohnya Delan!"
"Kenapa? Kenapa selalu kata kak Tania, selalu menurut pada kak Tania? Apakah suaraku tidak berarti apa-apa bagi mas Bambang? Hik hik hiks..."
"Aku pergi, Tasya! Jaga dirimu baik-baik!"
"Mas...! Maaas!!!"
"Mas Bambaaang! Jangan tinggalkan aku, Mas!!!"
Tasya kembali terguncang jiwanya. Ia bangun dari tidurnya. Menangis meraung-raung bahkan membuat onar hingga menyerang para pasien lainnya dengan cakaran.
Bahkan Tasya melakukan hal yang lebih ekstrim. Ia mengambil pisau dari tangan penjual buah dan hendak mengiris urat nadinya sendiri.
"Aku tidak rela melihat putraku menderita! Aku tidak akan membiarkan putraku sakit!!! Tidaaak!!! Tidaaak!!! Lebih baik aku mati daripada harus melihat darah dagingku kembali terpuruk. Tidaaak!!!"
__ADS_1
Para perawat memegangi tangan Tasya kiri dan kanan. Tapi tenaga Tasya ternyata lumayan besar hingga bisa terlepas dan mengamuk lebih emosional lagi. Hingga dokter menyuntikkan obat penenang ke bahu Tasya. Baru perlahan Tasya bisa dibawa ke ranjang tidurnya.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...