
Aku benar-benar tidak memprediksi ini sebelumnya.
Kukira kepergianku menghadiri acara wisudanya Fika akan membawa kebahagiaan untuk semua. Ternyata tidak.
Fika justru terlihat sekali ketidaksukaannya pada Dzakki, putra semata wayangku. Bahkan seringkali meledek dan menyinggungku secara tidak langsung karena turut serta membawa Dzakki.
Kalau Dzakki tidak kubawa, lantas dengan siapa dia di Jakarta? Hhh... Fika, Fika!
"Jangan bertingkah seperti bocil! Usiamu kini sudah 24 tahun, bukan?"
Roger geram. Dan memaki Fika terang-terangan. Membuat suasana jadi semakin tidak nyaman.
Sayangnya Roger bukanlah kakak yang ditakuti Fika. Begitu juga dengan Kak Christian.
Meski sudah dinasehati kedua kakaknya, namun Fika tetap tak bergeming. Fika sangat membenci putraku.
Dia khawatir, jika Dzakki besar nanti akan berulah seperti Nenek dan Papanya.
Ya Tuhan! Jauhkanlah putraku Dzakki dari sifat yang sedemikian. Aku percaya, meskipun ia memiliki darah dari keturunan Herdilan yang berkepribadian buruk, tapi dengan didikan dan kasih sayangku... putraku tidak akan seperti Papa kandungnya. Baik sifat maupun kelakuannya.
Aku tak bisa membantah semua perkataan Fika.
Karena apapun itu yang diucapkannya memang benar. Dzakki Boy Julian adalah putra Herdilan Firlando.
Tapi..., aku yang melahirkannya. Aku yang mengandung selama sembilan bulan. Aku pula yang akan mendidiknya nanti dengan sangat keras. Agar sifat buruk Papanya tidak menurun pada Dzakki.
Roger seperti peka dan memahami suara hatiku ini.
__ADS_1
Ia mengambil Dzakki dari gendonganku, tapi kutolak dengan agak kasar.
Aku tak ingin Fika semakin kesal dan jengkel karena kakak kandungnya justru begitu menyayangi Dzakki, putraku.
Andai Fika tahu, kalau Roger-lah yang selama ini mengasuh dan mengurus Dzakki. Entah bagaimana reaksinya.
"Sini! Biar Boy kugendong!"
"Ga usah! Aku saja!"
Aku down, mentalku turun melihat Fika yang seperti tak mau menerima kehadiran Dzakki.
"Fika...! Jangan bertingkah kekanakan. Dzakki masih bayi, dan tak punya salah apa-apa! Kenapa kau bisa berbuat sebodoh ini, sampai ikut serta membawa dendam pada bayi mungil yang tak berdosa!"
"Dia memang belum berdosa saat ini! Tapi orangtuanya... memiliki dosa besar yang bejibun pada Mama kita!"
"Maaf! Gara-gara kehadiranku, kalian bertiga jadi ribut!"
Aku memilih pergi dari mereka, tiga bersaudara.
"Viona! Mau kemana?"
"Aku mau cari udara segar dulu, Kak! Mohon maaf, aku bukannya membela Delan. Tapi putraku tidak akan kutinggalkan dalam kesesatan!"
"Aku ikut! Udara di sini baunya busuk!"
Roger mengikuti langkahku. Kami keluar dari kamar hotel berusaha menghindari perdebatan.
__ADS_1
Bukan maksudku juga menambah kesal Fika dengan ucapan kurang sopan. Tapi... aku benar-benar jadi badmood karena putraku dia benci.
Ternyata begini ya, menjadi seorang ibu itu. Anak dibela mati-matian. Dan ulu hati ini sakit rasanya ketika ada orang yang menghina dan menyakiti darah daging kita sendiri. Ya Tuhan! Aku kini benar-benar merasa seperti seorang ibu bagi Dzakki. Padahal selama ini, aku pun kurang peduli karena juga memiliki kesakitan yang kurang lebih sama seperti Fika.
"Mau apa kau terus mengikutiku?" umpatku kesal pada Roger yang sedari tadi mengintil di belakang.
Ia hanya diam. Tak berkata apa-apa.
Tapi kemudian Dzakki yang terbangun dari tidurnya yang cukup panjang setelah turun dari mobil jemputan menuju hotel tempat kami menginap, membuat Roger segera mengangkatnya dari gendonganku.
"Sini sayang, sini sama Ayah!"
Dzakki menangis. Sepertinya agak sedikit pusing melihat lampu kerlap-kerlip di pinggir jalan yang bersinar terang. Sekarang sudah pukul enam tiga puluh menit waktu Singapura.
"Cup cup cup! Gantengnya Ayah jangan menangis! Cup cup cup... Ayo, kita beli es krim! Boy mau es krim rasa apa?"
"Roger! Jangan terlalu memanjakan Dzakki! Aku tak mau putraku jadi anak yang memiliki sifat buruk seperti Herdilan!" tukasku memarahi Roger.
"Dia anakku! Aku yang akan mendidiknya! Jadi jangan larang-larang aku dalam memberikan kasih sayang pada Boy!"
"Dzakki. Panggil putraku Dzakki! Jangan 'Boy'! Aku tidak suka nama itu, Roger! Aku menyematkan nama tengah Boy hanya demi menghargaimu yang telah mengazani putraku sewaktu lahir. Tapi aku lebih suka putraku di panggil 'Dzakki' sesuai nama depannya!"
"Hehehe... Mami kenapa sayang? Mami suka marah-marah ya? Dzakki pasti sebel punya Mami seorang yang pemarah ya?"
Hik hik hiks... Jatuh air mataku. Luruh karena sedih, kesal, juga haru. Ternyata Roger mau juga memanggilnya 'Dzakki' yang artinya adalah lelaki lembut yang rendah hati, baik dan taat pada Tuhan.
Nama Dzakki adalah pemberian kak Jo! Itu sebabnya aku kekeuh, ingin putraku dipanggil Dzakki. Bukan Boy!
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...