
Pukul sembilan malam, tapi suamiku belum juga pulang. Mama Tasya sendiri tadi sore mengabarkanku kalau tak akan pulang malam ini. Papa Bambang mengajaknya pergi ke luar kota. Jadi aku kini 'sendirian' selain bersama para asisten yang beristirahat di kamarnya masing-masing.
Kucoba menghubungi mas Delan lagi. Tapi handphonenya tak aktif sedari pukul enam sore tadi.
Ada apa ya? Tak seperti biasanya. Apa masih rapat dengan para pemegang saham?
Aku ingat, tadi pagi mas Delan sempat mengatakan kalau ia sedang ada kerjaan penting dan juga harus rapat dengan para pemegang saham PH nya yang Mama Tasya hibahkan.
Tapi... apakah sesibuk ini kerjaannya?
Aku melamun dengan tangan bersidekap di atas meja kerjaku.
Laptop yang menyala, masih tergambar jelas kotak-kotak berisi rincian laporan keuangan butik yang kadang menguras tenaga dan fikiranku.
Hm... Aku yang hanya mengurus satu butik mama Tasya saja sering kewalahan di akhir bulan ini, apalagi mas Delan yang mengurus satu Production House bukan perusahaan kecil pula. Pastilah ia sangat sibuk dan pusing di buatnya.
Aku menelan saliva. Mengernyitkan keningku yang tiba-tiba pusing.
Kuambil hape lalu segera mengetik kalimat semangat dan kukirimkan ke nomor hape mas Delan.
Masih ceklis satu. Pertanda hapenya belum juga aktif.
Hhh...
Treeet... treeet... treeet...
Seseorang menelponku.
__ADS_1
"Ya hallo, selamat malam!"
...[Ibu Viona?]...
"Ya betul, saya sendiri! Ada perlu apa ya?"
...[Saya pemborong rumah bapak Herdilan dan ibu. Mau memberitahukan kalau rumah bapak ibu sudah stand bye. Bahkan kami juga sudah menata semua perabot pilihan bapak ibu juga. Saya harap, bapak ibu bisa segera survey. Dan bila ada ketidakpuasan bisa kami benahi segera sebelum rumahnya di tempati!]...
Rumah kami telah jadi!
Aku bersorak dalam hati. Rumah impianku dan mas Delan siap kami isi.
"Baik, Pak! Kemungkinan lusa suami saya libur. Kami kabari bapak nanti!"
...[Siap, Bu Viona. Terima kasih banyak. Mohon maaf saya mengganggu istirahatnya! Permisi, selamat malam!]...
Aku tersenyum memperhatikan gambar-gambar yang pak pemborong tadi kirimkan lewat japrian.
Keren!!! Rumah idamanku, rumah kecil minimalis dengan loteng kayu di atas untuk tempat kami nanti bersantai memandang bintang-bintang di kala malam.
Aku tersenyum puas. Semua perabot yang kami request juga terlihat tertata baik. Dapurnya juga indah.
Segera kukirimkan gambar-gambarnya ke Mama Tasya.
Beliau langsung menelponku dengan suara cemprengnya yang bahagia. Mama akhirnya melihat kalau style serta gayaku memang jauh berbeda dengan style favoritnya yang mewah, megah dan elegan.
Sedangkan kesukaanku dinilainya terlalu monoton dan sangat sederhana.
__ADS_1
Tapi Mama Tasya berusaha mengerti diriku. Beliau menyupportku dan mas Delan putranya. Itu pasti, katanya membuatku tertawa bahagia.
Aku memang begini. Tak bisa hidup glamour seperti beliau yang menyukai rumah istananya.
Aku ya aku. Bagiku rumah berlantai satu dengan halaman luas penuh tanaman bunga-bunga sudah merupakan satu kebanggaan bagiku. Aku sebelas dua belas dengan Ibuku.
Kami adalah para wanita yang mencintai kesederhanaan. Bahkan dalam segi dandanan dan pakaian. Aku tidak suka yang bling-bling penuh warna dan gemerlapan.
Sangat jauh berbeda dengan kegemaran mama mertuaku yang meskipun telah separuh baya, tapi masih mencintai keindahan dunia.
Beliau sering sekali komplein melihat dandanan sederhanaku yang minimalis. Bahkan sering merekomendasikan para perancang busana langganannya agar aku lebih kelihatan stylish lagi sebagai istri dari seorang produser eksekutif muda.
Ada beberapa memang pakaian mahalku yang sengaja kupesan untuk acara-acara resmi tertentu. Tapi itu bukanlah acuan bakuku dalam berpakaian sehari-hari.
Baju kerjaku yang Mama Tasya beri sejak awal aku menjadi menantunya masih banyak yang belum kupakai, malah. Aku juga tak ingin di juluki istri boros yang kerjanya menghabiskan uang suami.
Dan juga mas Delan selama ini tak pernah komplein juga perihal gaya berpakaianku.
Suamiku orang yang asyik.
Kami memiliki pandangan yang sama dan kecuekan yang sama pula dalam hal berpenampilan.
Mas Delan selalu memujiku cantik natural. Dan ia memang pengagum keindahan yang alami. Bukan indah karena dempulan. Begitu katanya pernah dulu mas Delan ucapkan.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1