PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 20 Malam Pertamaku Di Keluarga Delan


__ADS_3

Aku memalingkan wajahku ketika Delan kembali mendekatkan wajahnya pada wajahku. Seketika jantungku kebat-kebit lagi. Dan memerah kembali wajah ini.


"Jangan permainkan perasaanku, Delan!" tukasku pelan.


Delan meraih jemariku. Tapi tiba-tiba...


Tok tok tok...


Tok tok tok


Pintu kamar ada yang mengetuk. Delan bangkit dari duduknya, berjalan ke dalam kamar dan membukakan pintu.


Mama Tasya berdiri di balik pintu sambil berkacak pinggang dengan kepala di geleng-geleng.


"Ck ck ck! Pengantin baru ini, ya!? Tamu kalian masih banyak di bawah, kalian malah asyik berduaan dalam kamar!" ujar Mama Tasya.


Sontak aku berdiri dan berjalan cepat ke arah beliau.


"Maafin kami, Ma!" kataku segera. Tapi setelah melihat wajahku yang pucat pasi beliau justru tertawa terbahak-bahak.


"No no no... Mama hanya nge-tes kalian berdua saja. Hahaha...!"


Hhh... Aku menghela nafas lega.


"Hayooo... kalian pasti terkaget-kaget ya, buka lemari masing-masing? Hahaha... ya ampuuun, Delan... Viona!"


Aku dan Delan tertawa kecil.


"Mama memang super iseng!" umpat Delan dengan senyum kecutnya.


"Pakaian kalian khan ada di room sebelah. Ruang wardrope! Khan Mama sudah bilang ke kamu kemarin sore?"


Delan menepuk dahinya. Ia baru teringat sepertinya.


Atau... pura-pura lupa demi mengerjai aku? Hhh...


"Ya sudah. Ganti dulu pakaian kalian. Lalu turunlah! Ayah dan Ibu Viona masih ada di bawah. Mereka akan pulang sejam lagi!"


Aku menutup wajahku. Malu hati pada diri sendiri. Sampai lupa dengan kedua orang tua.


Haduh!!!


Mama Tasya tersenyum meninggalkan kami berduaan lagi.


"Ayo, ke ruang wardrope!" ujarku sambil menuntun tangannya.

__ADS_1


"Sudah berani pegang tanganku, nih?!" goda Delan membuatku tersadar dan menghempaskannya.


Dia tertawa puas sekali. Tapi kembali menarik jemariku ke dalam genggamannya.


"Janganlah marah, nanti Viona cepat tua!"


"Apaan sih!?" tukasku ketus. Dan lagi-lagi responnya semakin menggila.


"Iiih gemes deh sama istriku ini yang juteknya gak ketulungan!"


Kami masuk ruang sebelah. Yang ternyata banyak sekali pakaian kami tersusun rapi.


Mama Tasya memang the best Mama pokoknya. Bahkan pakaian yang beliau pilihkan untukku nyaris semuanya adalah seleraku.


Mataku berbinar indah bak bintang di langit tadi. Bingung mau pilih gaun yang mana, karena semuanya bagus-bagus.


Akhirnya kami memilih masing-masing satu stel. Berganti di room yang tersedia, lalu...


Delan tersenyum puas melihat penampilanku. Dan aku juga mengangguk senang dengan dandanan casualnya yang keren.



"Ayo!"


Kuraba bibir ini seraya menuruni anak tangga. Segera tersadar sambil melirik Delan yang juga berjalan di sebelahku.


Jangan sampai kelakuanku memegang bibir terlihat si Delan cupu ini! Huh! Malu tingkat dewa aku nanti, jadi bulan-bulanannya!


"Siap bertemu semuanya?" tanya Delan memastikanku. Aku mengangguk sekali. Yakin dengan kepercayaan diri ini. Terlebih penat yang sedari kemarin di tubuh telah menguap begitu saja.


"Taraaa... pengantinnya yang kabur selama beberapa jam baru turun lagi nih!"


Aku dan Delan tertawa kikuk.


Papa, Mama, Ayah, Ibu serta kerabat yang lainnya tampak tengah asyik berbincang di ruangan yang besar.


Aku merangkul Ibuku. Membuat mereka semua jadi terbahak menertawai manjaku pada Ibu.


"Sebenarnya Viona jarang meluk saya! Dia ini agak angkuh, gak mau mengakui kalau butuh ibunya. Hehehe..." ujar Ibuku membuat kami kembali tertawa.


"Ya sama, sama suaminya tuh! Sok cool merasa hidupnya bisa tanpa belaian orangtua! Sejak tamat SMP Delan gak pernah mau saya peluk apalagi cium!" timpal mama Tasya.


Aduh Ma,... tadi putra Mama malahan berani cium bibir Vio tanpa izin, Ma! rungutku dalam hati.


Kali ini kulihat Delan menatap ke arahku seraya memonyongkan bibirnya.

__ADS_1


Sialan! Dia sedang meledekku rupanya.


Aku memeletkan lidahku pada Delan.


"Semoga saja Delan menjadi pria sejati setelah menikah. Meski usia mereka masih sangat muda, 22 mau 23 tahun ya... tapi saya yakin, perjalanan hidup akan mendewasakan keduanya!" Kali ini Papa Delan yang angkat bicara.


Ternyata pejabat itu kalau sudah bicara, lain sekali ya! Terlihat jelas kewibawaannya. Membuatku menunduk hormat pada beliau.


Tentu saja, beliau bukanlah pejabat kalengan. Tapi sudah malang melintang di urusan HAM dan segala pasal-pasal sedari muda usianya. Yang pasti asam garamnya telah beliau dapatkan sebagai pengalaman yang banyak tentunya.


Ayahku mengangguk mengiyakan.


"Kami minta maaf pada Bapak dan Ibu sekiranya putri kami Viona... masih belum mampu menjadi istri yang baik bagi nak Delan! Mohon bimbingan kalian berdua!" kata Ayah terdengar wise sekali.


"Ah, pak Chandra Triono ini terlalu merendah! Justru kami merasa bangga dan bahagia, Delan bisa menyunting putri bapak yang cantik jelita juga baik hatinya. Di jaman sekarang ini, sangat sulit mencari gadis yang seperti Viona. Dan saya sangat respek sekali dengan didikan bapak Chandra beserta ibu meskipun Vio anak tunggal kalian."


"Putra kami juga tunggal, tapi sempat juga sifat arogan menguasainya."


Mama Tasya hampir membuka jati diri Delan dihadapan banyak orang.


Untungnya sang suami segera memberi kode, agar istrinya tak kebablasan menjadi orangtua yang mencela putra semata wayangnya.


Obrolan kami kembali lancar dengan ringannya. Soal pekerjaan sehari-hari... juga soal sifat sikap kami putra-putri yang mereka banggakan.


Ayah Ibu dan saudara-saudaraku pamit pulang di pukul dua belas malam.


Kami saling cipika cipiki dan berbincang ringan akan ada pertemuan selanjutnya di hari santai kami nanti.


Hhh...


Sejujurnya aku sangat sedih sekali. Ini pertama kalinya aku tidur di luar rumahku sendiri tanpa Ayah Ibu.


"Jadilah istri yang baik ya, Vi! Yang menurut pada suami serta kedua mertuamu! Jaga nama baik diri sendiri juga nama baik orangtua! Ingat pesan Ibu selalu ya, Nak!?"


Aku mengangguk. Menenggelamkan wajahku di bahu Ibu. Agar tak ada yang tahu, kalau airmata ini telah jatuh karena sedih.


"Kalau kangen, bisa telepon-teleponan koq! Juga bisa sambangi Ibu Ayah di rumah. Asal Viona harus izin Delan dan Mama Tasya dulu!" tambah Ibu membuatku mengangguk lagi.


Sedih rasanya melihat keluargaku meninggalkanku sendirian di rumah besar milik keluarga suamiku. Meski kutahu sepertinya aku akan mendapatkan kasih sayang dari mereka.


Mama Tasya merangkul pinggangku. Mengajak masuk kembali ke rumah megahnya yang bak istana kerajaan itu.



...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2