
Aku menghubungi Mama Tasya setelah tas yang tertinggal di rumah beliau di bawa pulang suamiku.
Herdilan berjanji akan segera menceraikan si Lady Gagak secepatnya setelah sang Mama mengetahui keadaanku.
Sebenarnya itu bukanlah niat awalku. Karena aku tidak peduli, Delan tetap harus menceraikan. Aku tak sudi masih menjadi istri dari pria yang suka membuang sperm* sembarangan. Bahkan tak peduli wanita yang bagaimana yang akan menerimanya. Tapi Kak Jonathan memberiku saran serta ide brilian.
Hhh... Harga diri pria itu bagus bagiku adalah ketika pria itu mampu menahan hawa nafsu dan juga syahw*t auratnya. Menjunjung tinggi harkat serta martabatnya untuk memilih dengan baik pasangannya. Baik bibit, bebet dan bobotnya. Bukan asal hantam kromo, yang penting cantik atau tampan tapi asal comot.
No.
Pria baik itu adalah yang memiliki mata batin tulus melihat dari hati, bukan dari paha ataupun dada. Bukan.
Dan di mataku, Herdilan Firlando kini telah 'jatuh' harga dirinya dengan sangat murah. Karena mudahnya ia bercinta dengan Lady Navisha, teman dekatku semasa kuliah dulu.
Juga Lady, benar-benar 'barang obralan'. Demi sebuah 'kenyamanan' dan kelayakan hidupnya, sampai gampang menjual obral tubuhnya seperti barang rijekan. Hhh...
Treeet... treeet... treeet
"Hallo! Ya, Ma! Aku akan datang ditempat yang Mama pesan setengah jam lagi! Oke! Baik, Ma...Alhamdulillah! Iya. Vio akan kesana sebentar lagi. Sekarang siap-siap dulu!"
Klik.
Sambungan telepon dari 'Mama Tasya Tersayang' kuputus.
__ADS_1
Menarik nafas sebentar sebelum bergegas mencari pakaian ganti. Suamiku telah berangkat kerja empat jam yang lalu. Mama Tasya menelponku pertanda Herdilan sudah bertemu mamanya dan mengatakan apa yang kuperintahkan semalam.
Sebetulnya badanku benar-benar sedang kurang sehat. Agak lemas dan pusing, mungkin faktor kehamilan. Tapi aku harus membereskan masalah ini secepatnya. Segera.
...........
Unique Cafe, tempat yang Mama Tasya pilih ada di pinggiran kota letaknya. Dengan di antar sopir baru yang diperbantukan mas Delan untukku, mobil Kijang Innova inventaris perusahaan itu kini menjadi kendaraan yang siap sedia mengantarkanku kemana pun aku pergi.
Sebenarnya suamiku termasuk orang yang bukan pengkoleksi kendaraan roda empat. Ia juga bukan tipe pemuda yang suka bergonta-ganti kendaraan. Jadi... kendaraan pribadinya hanya satu saja sedari masih sekolah SMA. Itu yang sekarang wara-wiri dibawanya setiap hari.
Mama Tasya sendiri memiliki satu mobil juga. Selain dia tidak bisa menyetir, investasi tulennya bukanlah pada sebuah kendaraan. Jadi, di rumah besarnya hanyalah ada satu mobil miliknya dan dua terparkir di garasi bawah tanahnya adalah milik suaminya alias Papa Bambang yang hanya sesekali di pakai keluar.
Entah bagaimana juga jalan fikirannya, aku tidak melihat ada 'keborosan' pada kendaraan di keluarga kaya raya itu. Atau mungkin mereka simpan dengan sangat apik sebagai aset berharga yang dimiliki.
"Viona!"
Mama Tasya melambaikan tangannya. Membuatku membalas dengan senyuman manis kepalsuan.
Sempat cipika cipiki padahal beberapa hari lalu aku menangis meraung-raung menunjuk-nunjuk padanya serta mas Delan dan Lady Navisha.
"Viona, Sayang! Maafkan semua kesalahan Mama ya?" katanya seraya menggenggam jari jemariku.
"Ma... Vio ternyata sedang hamil, Ma!" kataku membuatnya mengangguk pelan.
__ADS_1
"Mama sudah dengar cerita Delan tadi pagi!"
"Ma...! Viona harus bagaimana, Ma? Katakanlah... agar kalian semua benar-benar bisa menyayangi Vi setulus hati! Hik hiks... Ayah Ibu Vi sudah meninggal dunia, Ma! Mana mungkin Viona pergi dengan perut mengandung meminta cerai pada mas Delan, Ma? Hik hik hiks..."
"Vio... Jangan bercerai dari Delan!"
"Tapi Mama juga menginginkan artis talent Mama itu juga khan? Aku harus bagaimana? Mama lebih menyayanginya ketimbang aku!"
"Tidak Vio, mama sangat menyayangimu. Berbeda dengan JeLa. Jela... hanyalah, hhh... ia memiliki nasib yang sama persis sama Mama, Vi! Dan... Delan telah salah langkah hingga mengambil keperawanannya. Hhh... Ternyata, JeLa hamil, Vi! Mama juga sejujurnya bingung sekali, bagaimana harus bersikap! Di satu sisi, Mama marah sekali pada putra Mama. Tapi di sisi lain, Mama yang mendambakan memiliki cucu segera dari Delan!"
Ulala, Mama! Kau ini wanita plin plan juga ternyata. Dan kau pasti tertarik pada si Lady karena sifat, sikap dan tabiat kalian kurang lebih sama, bukan? Sama-sama menyukai barang milik orang lain. Ck ck ck... Mama, Mama!
"Hanya karena Lady hamil cucu Mama, lantas Mama menyayanginya dan tak peduli perasaan Viona, Ma?"
"Bukan, Sayang! Mama sangat mengerti perasaanmu, Vio! Ini semua... diluar jangkauan daya fikir Mama!"
Kau memang tak mengerti perasaanku, Ma! Kalau kau sangat mengerti, pastinya kau juga mengerti sekali perasaan saudara sepupumu. Mama Tania, istri pertama Papa Bambang, Ma! Apa kau mengerti perasaannya? Padahal kalian adalah sepupuan dan ada garis darah yang sama mengalir di tubuh kalian.
"Lalu bagaimana kini denganku, Ma? Ada janin berumur dua belas minggu tumbuh di rahim ini. Viona juga tidak tahu. Dan baru tahu setelah pingsan dan seseorang menolong membawa Viona ke dokter. Apa mama tetap lebih memilih si JeLa itu?"
"Jelita Lara hanyalah duri dalam daging rumah tanggamu dengan Delan, Viona! Mama bisa singkirkan dia! Apalagi kini anak yang di kandungnya juga tidak lagi begitu penting. Cucu mama yang ada dalam rahimmu-lah yang terpenting sekarang!"
Gila! Bisa-bisanya dia berkata seperti itu. Dengan santuinya mengatur hidup seseorang sesuai keinginannya. Hhh... Ternyata benar yang kak Jonathan bilang, Mama Tasya adalah srigala berbulu domba. Ia bisa melakukan apa saja selama itu untuk kesenangannya semata. Ck ck ck... Syukurlah Tuhan mempertemukanku dengan kak Jo yang juga adalah 'korban' kebiadaban Mama Tasya di masa lalu. Termasuk juga Mama Tania, istri pertama Papa Bambang yang hanya sekedar menyandang status saja. Tapi habis perlahan harta bendanya di raup Mama Tasya. Hhh... Ternyata harta itu menyilaukan!
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...