PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
SESSION 2 KONDISI BU GURU KARTIKA


__ADS_3

"Selamat pagi sayangku!"


"Mami!"


Viona tersenyum manis menyambut wajah polos nan imut yang masih terbaring di ranjang tidur meski matanya sudah terbuka.


"Selamat pagi, ratu dan putra mahkota!"


Roger masuk dengan membawa nampan berisi dua gelas susu untuk dua orang yang sangat ia cintai.


"Ayah! Bikin Mami jadi malu. Hehehe...!"


"Sesekali manjain Mami sama Dzakki, boleh dong!" ujar Roger.


Viona dan Dzakki bangun dari tidurnya. Tersenyum menatap lembut sang suami yang selalu siaga.


"Ini punya Mami, ini punya Dzakki!" katanya lagi seraya memberikan masing-masing segelas susu hangat.


Viona mengec*p pipi kiri dan kanan sang suami. Lalu membawa susunya keluar kamar.


Kini yang ada di kamar hanyalah Dzakki dan Roger saja.


"Terima kasih, Ayah Roger Kesayangan!" ucap Dzakki membuat Roger mencium kening sang putra.


"Hari ini Dzakki libur dulu sekolahnya ya?!" ujar Roger dibalas anggukan Dzakki.


"Bu Guru juga sudah baik-baik saja sekarang. Ayah,... terima kasih banyak!"


Roger menatap bola mata Dzakki yang berbinar indah. Ia kembali teringat apa yang terjadi pada sang putra semalam dan juga kepada dirinya.


Dzakki memeluk sang Ayah setelah meneguk habis susu yang dibuatkannya.


"Ayah dan Mami segalanya buat Dzakki!" bisik bocah imut itu pada Roger. Luluh hatinya mendengar bahasa kalbu Dzakki seketika.


"Dzakki...! Apa..., selama ini Dzakki sering ketakutan sendirian?" tanya Roger ragu-ragu.


Dzakki lama menatapnya. Lalu tersenyum dan menggeleng.


"Jangan Dzakki pendam sendiri jika merasa ketakutan. Ceritakan apapun yang Dzakki rasa, ya?"


Lagi-lagi sang putra tersenyum manis. Dzakki kembali memeluk Roger.

__ADS_1


"Dzakki jangan bikin Mami sama Ayah worry, right?"


"Right! Hehehe..."


.....


Kartika shock ketika bangun dari tidur. Kakinya seperti lumpuh, susah digerakkan.


Berkali-kali ia coba dan coba lagi. Dengan mengerahkan semua kekuatannya, tapi tak berhasil ia mengangkat tubuh untuk bangkit seperti biasa.


"Mamaaa...! Mamaaa!!!"


Ia hanya bisa teriak histeris memanggil sang Mama untuk minta bantuan.


"Mamaaa...! Hiks hiks..."


Mama Kartika Sari masuk kamar putri tunggalnya itu. Untung tidak Kartika kunci sehingga sang Mama langsung bisa masuk tanpa perlu susah payah.


"Tika?"


"Mama!!! Mama kaki Tika kenapa begini? Hik hik hiks..."


Mamanya bengong memperhatikan tubuh Kartika yang masih berbaring di atas ranjang.


"Ini, kakiku... tidak bisa digerakkan, Ma! Kaki Tika seperti... lumpuh!" pekik Kartika histeris.


"Ya Tuhan! Kamu ini beneran?"


"Iya lah, Ma! Ini..., ini susah digerakkan, Ma! Hik hik hiks!"


Kartika berulang kali mencoba. Bahkan sampai peluhnya berkeringat pertanda ia benar-benar berusaha sekuat tenaga untuk menggerakkan tubuh terutama kakinya.


"Tika! Coba lagi, coba!"


"Gak bisa, Ma!"


Air mata terus berlinang ditengah-tengah kepanikan serta rasa cemasnya yang besar.


Kartika berusaha mengangkat kaki kanannya untuk ia raih dengan telapak tangannya, namun tetap tak bisa digapai.


Sang Mama berusaha membantu. Beliau mencari minyak kayu putih dan balsem. Kemudian mengoleskan secukupnya lalu memijat dengan tekanan sedang.

__ADS_1


"Rasanya bagaimana? Ada respon?" tanya mama Kartika dijawab dengan gelengan kepala dan tatapan ketakutan.


"Ma! Gimana kalau Tika beneran lumpuh?" tanyanya penuh kecemasan.


"Huss...! Jangan ngomong begitu! Ga boleh sompral!" jawab sang Mama berusaha menenangkan kegundahan hati Kartika.


Sebenarnya Mama juga takut, kalau apa yang tadi Kartika kata itu benar adanya.


Namun, mengingat usia sang putri yang baru 30 tahun dan belum berkeluarga menambah kemirisan hati beliau.


Berkali-kali Mama Kartika berusaha menguatkan hatinya, kalau saat ini sang putri hanya terlalu lemah saja. Dan berharap setelah diolesi balsem dan dipijat aliran peredaran darahnya, maka akan kembali seperti sedia kala.


Beliau terus menerus memijit pergelangan kaki Kartika dan bertanya terus bagaimana responnya.


Kartika menangis sesegukan.


Mamanya baru teringat pada sang suami. Ia keluar kamar Kartika. Memanggil sang suami agar segera melihat kondisi putri semata wayang mereka.


Papa Kartika masuk kamar, terkejut dan bingung hendak berbuat apa.


Sementara Maminya membuatkan segelas teh manis hangat untuk Kartika. Berharap setelah minum teh manis hangat kondisi sang putri membaik lagi.


"Minum dulu, Sayang!"


"Tidak, Ma!"


"Minumlah! Semoga persendianmu segera pulih setelah minum teh manis hangat!" bujuk sang Mama membuat Kartika menurut. Teh manis diseruputnya hingga tersisa setengah gelas lagi.


"Mama...! Hik hik hiks... Bagaimana ini, Ma? Bagaimana kalau aku benar-benar lumpuh?"


"Jangan panik! Kita ke rumah sakit sekarang!" sela sang Papa.


"Tapi kaki Kartika tak bisa digerakkan, Pa! Kartika gak bisa jalan!"


"Papa gendong!"


"Pa! Hik hik hiks..."


Kedua pasutri yang sudah menuju lansia itu bahu membahu mengangkat sang putri yang syukurnya bertubuh langsing.


Mereka berhasil memasukkan Kartika ke dalam mobil VW Kodok milik sang Papa.

__ADS_1


Mobil meluncur menuju rumah sakit.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2