
"Mama tak punya niat jahat pada Om dan Tante Tania! Hanya ingin dicinta juga disayang. Tak ingin yang lain!" isakku.
"Cinta, sayang... haus uang juga haus ketenaran! Tak peduli pada sepupu dan ponakan-ponakannya yang masih kecil-kecil saat itu!... Mamamu memang keren!"
Prok prok prok.
Om Lordess bertepuk tangan sambil tersenyum sinis.
"Jadi selama ini, Om tahu kisah Mama dan Papa juga tante Tania?"
"Aku tahu semuanya! Aku lihat semua kejahatan Mamamu juga Papamu! Hhh... Mereka pikir, hidup enak dan penuh kejayaan yang mereka pilih lewat jalan pintas itu akan abadi selamanya? Tidak, Delan!"
"Om... Kenapa Om tidak punya keinginan menyadarkan semuanya? Kenapa justru Om membiarkan Mama dan Papa terus menerus dalam kesesatan?"
"Aku? Aku menyadarkan mereka??? Kau tidak cukup tahu sifat dan watak mereka. Tasya dan Bams memang pasangan serasi. Pasangan bangs*t dan baj*ngan! Sama seperti dirimu dan juga Lady Navisha! Sama!!!"
Aku menangis menyatukan kedua belah telapak tangan. Mengiba pada Omku itu.
"Om... Kumohon kebaikanmu, Om! Please... hik hik hiks...!"
"Kau kurang lebih sama dengan moyangmu! Tasya dan Bams! Sama-sama berhati iblis! Sama-sama tak pantas diberi kebaikan!"
"Begitukah, Jo?"
Aku dan Om Lordess menoleh ke arah suara lain.
Ada orang lain lagi ternyata yang ikut menyimak perdebatan ini.
"Mas Bams!!!"
"Papa???"
Papaku, Papaku ada di antara kami!!! Bukankah beliau ada ditahanan KPK saat ini? Ada apa? Apa Papa melarikan diri dari penjara?.
Wajah Papa hitam pucat. Ubannya hampir kini menghabisi rambut hitamnya yang legam.
Papa berdiri dengan kaki sebelah agak terpincang-pincang dan mengucurkan darah segar.
Dan... tangan kanannya mengambil sesuatu. Sepucuk senjata api. Pist*l revolver!!!
Aku yang hanya bisa terduduk dihadapan Jonathan membulatkan penglihatan. Ingin berdiri tapi lutut ini terasa nyeri.
__ADS_1
"Papa!!! Apa yang Papa mau lakukan?" teriakku cemas. Papa bisa saja gelap mata.
"Diamlah Herdilan! Ini urusan Papa dengan cecunguk satu ini!"
"Hehehe... hebatnya kau Mas! Bisa melarikan diri dari tahanan kepolisian!"
Papa tetap fokus pada om Lordess yang justru terlihat tenang. Bahkan Om masih tertawa sambil melangkah pelan ke kanan dan ke kiri.
"Setelah kamu menyakiti hati saudaraku, kini kau masih belum sadarkan diri akan kelakuanmu yang salah!?"
Papa terlihat mengeratkan rahangnya. Matanya berkaca-kaca. Aku tak bisa memahami isi hatinya saat ini. Tapi kulihat binar kekecewaan di kedua bola matanya yang redup.
"Tania... telah tiada! Semua karena kau, Jo!!!" teriak Papa pada Om Lordess.
"Kau gobl*k! Kau yang membunuhnya!!! Lewat tangan istri keduamu yang kau pelihara cukup lama!!! Kenapa kau salahkan aku!!!"
Om Lordess berteriak lebih keras. Diacungkannya jari telunjuk pada Papa.
"Kau yang membuat kehidupanku yang damai bersama Tania dan Tasya jadi hancur berantakan!"
"Ya Allah ya Tuhanku!!! Si laknat ini masih juga sombong tak sadar diri, kalau perbuatannya itu justru menghancurkan dirimu sendiri!"
Dor dor dor
"Papa!!!" teriakku tak percaya.
Lututku benar-benar lemas. Tubuhku kaku tak bisa kugerakkan. Bahkan mata ini tak bisa berkedip melihat tindakan Papa pada adik iparnya itu.
"Selamat, Bams! Kau kini adalah pengikut setan iblis di neraka jahanam! Selamat atas keberhasilanmu... menjadi pengabdi setan!" ujar Omku dengan tersenyum lebar.
Dooor...
Satu kali lagi tembakan ke arah... ke-kepala Om Lordess. Dan...
"Papa!!!" kataku dengan lirih.
"Herdilan! Maafkan Papamu ini! Christian, Roger, Fika... Maafkan Papa! Maafkan...karena telah menjadi Papa yang jahat!"
Dor!!!
Kali ini Papa menembak kepalanya sendiri. Dan... tumbang setelah menjatuhkan senjata api yang sedari tadi dipegangnya.
__ADS_1
Papaku bun*h diri!
"Papaaa...!!! Papaaa!!! Om Lordeeess!!! Tolooong! Siapapun tolooong!!!"
Suasana di siang pukul sebelas itu menjadi peristiwa berdarah yang paling memilukan dalam kehidupanku.
Peristiwa yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup. Dan aku hanya bisa berteriak-teriak histeris berusaha memanggil orang-orang agar segera datang menolong Papa juga Om ku.
Tubuh keduanya tergeletak dengan berlumuran darah.
Baik Papa maupun Om Lordess, tak ada yang berani kuhampiri. Hanya bisa duduk berteriak dengan kedua tanganku menutupi wajah.
Tuhanku Yang Maha Agung! Mengapa jalan hidupku seperti ini? Mengapa??? Mengapa Papaku harus bertindak frontal seperti ini? Mengapa??? Tidakkah ia memikirkan kehidupanku juga Mama selanjutnya? Bagaimana dengan aku dan Mama? Tuhan... hik hik hiks...
"My God!!!"
Cemen datang dengan mata terbelalak. Begitu juga salah satu asisten rumah tangga lainnya yang ada di belakang Cemen.
Sepertinya mereka langsung menghubungi Polisi.
Tak ada yang berani mendekati sampai pihak berwajib datang dan mengamankanku juga barang bukti sebuah pist*l revolver kaliber 9 mm yang tak jauh dari tubuh Papa.
Dua jenazah orang-orang tersayangku diangkut medis ke dalam mobil ambulan.
Sementara aku diborgoln dibawa dan dimasukkan kedalam mobil tahanan kepolisian setempat.
Entah dari mana para manusia-manusia lalat itu datang. Yang pasti wajahku mereka foto dan ambil gambarnya untuk berita yang menghasilkan uang bagi mereka. Shiiit!!!
Tubuhku lemas. Mulutku bungkam. Hanya airmata yang terus mengalir tiada henti.
Papa... teganya kau tinggalkan aku dan Mama! Kenapa Pa? Kenapa???
Aku diinterogasi. Diajukan pertanyaan banyak sekali. Pihak Kepolisian benar-benar mencecarkan ini itu. Juga sampai menanyakanku perihal kaburnya papa Bambang, apa oleh bantuanku juga.
Aku masih shock. Hanya diam tak bisa menjawab apa-apa.
Selain bingung tak tahu harus jawab apa. Jiwaku juga seperti melayang lepas dari raga. Fikiranku kosong melompong. Hanya diam membatu tak percaya pada apa yang telah terjadi.
"Biarkan dulu dia istirahat! Percuma kita tanyai macam-macam juga. Dia belum mau bersuara!"
Aku hanya bisa menatap bingung para polisi itu tanpa tahu harus berbuat apa.
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...