
Roger pulang pukul enam tepat. Dzakki-ku terlihat senang sekali, melihat Ayahnya telah kembali.
"Ya yayah!" teriaknya membuatku gemas, terharu sekaligus iri.
Kata-kata pertamanya bukan 'Mami'.. tapi 'Yayah'.
"Iiih... Dzakkiii, panggil Mami, Nak! Panggil 'Mami'!" ucapku merajuk pada buah hatiku yang baru serumur empat bulan itu. Membuat Mutia dan Bi Tini tertawa. Roger tersenyum tipis. Tapi wajahnya terlihat cerah.
Hatinya pasti senang bukan kepalang.
Andaikan dia lebih ramah dan sedikit terbuka, kujamin Roger adalah pria idaman para wanita.
Roger tampan, lebih tampan dari Herdilan dan kak Christian (secara mereka memiliki garis keturunan yang sama). Tapi bagiku, Kak Jo pria paling tampan sejagad raya.
Roger membawa baby-ku masuk kedalam kamarnya. Dan anehnya, tak terdengar sedikitpun suara tangis Dzakki yang membutuhkanku. Dzakki benar-benar nyaman bersama 'ayah'nya itu. Membuat Mutia dan bi Tini kembali tertawa mendengar kebingunganku.
Roger dan Dzakki benar-benar memiliki hubungan batin yang kuat. Bahkan aku sendiri yang notabenenya adalah ibu yang mengandung dan melahirkannya tak punya kontak telepati sekokoh itu pada Dzakki. Apakah karena aku kurang menyukainya di awal-awal kehamilan? Bahkan aku dengan terang-terangan ingin membunuh diri sendiri dan juga Dzakki tentunya jika aku mati. Seperti Lady,... yang meninggal dunia bersama anak yang dikandungnya. Andai Lady masih hidup, bisakah aku dan putraku hidup tenang seperti sekarang ini? Hhh...
Pukul tujuh malam. Kami makan bersama dalam satu meja.
Dzakki juga ada. Duduk di atas strollernya yang dihadiahkan Roger di hari pertama lahir ke dunia.
Kuperhatikan kak Mutia kurang nikmat makannya. Padahal menu makan yang istimewa menurutku. Bi Tini masak sayur lodeh, terong balado, ikan patin pesmol, tempe orek dan kerupuk udang.
Sepertinya ia kembali ingat kedua buah hatinya. Bahkan berkali-kali kulirik, tangannya menyapu bagian dadanya yang terlihat agak bengkak. Pasti sakit rasanya.
Setelah makan aku kembali masuk kamar.
Dzakki seperti biasa, Roger yang mengurusnya.
__ADS_1
"Putramu tidur sama Roger?"
Kak Mutia seolah tak percaya ketika kujawab dengan anggukan.
"Beneran?" tanyanya lagi, memastikan.
"Iya. Sejak usia Dzakki seminggu, Ia tidur dengan Roger!"
"Lelaki bisa ngurus bayi?"
Aku tertawa. Kak Mutia berkali-kali menanyakan. Jangankan dia, aku sendiri tak percaya. Tapi kenyataannya seperti itu. Mana mungkin aku bohong demi untuk integritas diriku menjadi tinggi.
Tidak. Aku tidak mau jadi orang yang seperti itu.
"Mas Chris sendiri tak sanggup mengasuh anak-anaknya lebih dari dua jam!" tuturnya yang langsung terdiam.
Pasti ingat Velli dan Verrel, sikembar buah hatinya. Darah dagingnya.
"Dia banyak uang! Dia pasti langsung cari babysitter! Dia ga akan membiarkan putra-putrinya menangis lama. Dia orang yang ga tega'an!"
"Kakak...! Bagaimana kalau kak Chris sakit? Anak-anak siapa yang jaga? Apalagi...pengasuh jaman sekarang, sangat sulit mencari yang bisa kita percaya. Jangan-jangan, anak-anak justru nanti disakiti tanpa sepengetahuan kita!"
"Jangan sampai terjadi!" teriaknya keras tanpa sadar.
Aku tahu, kak! Hatimu lembut selembut tofu. Kau adalah jodohnya kak Christian. Bukan jodoh Firman. Tuhan telah memasang-masangkan ciptaan-Nya sesuai dengan jalur yang Tuhan gariskan. Secinta apapun dirimu pada kak Firman, Tuhan menginginkanmu bersama kak Christian. Walau memang jalan-Nya terlihat aneh dan tidak masuk akal serta terkesan suatu 'kesalahan'. Tapi... Tuhan Maha Pengatur, kak Mutia!
"Boleh aku kasih saran, Kak?"
"Boleh, Vi! Aku memang butuh saran dan nasehat baik dari seseorang. Aku galau..."
"Anak-anak tiada salah. Jangan buat mereka menjadi penerima balasan kejahatan kak Chris dari kak Mutia! Mereka itu murni, suci... tak bernoda! Bayangkan... putra-putri kak Mutia saat ini sedang menangis meminta hak mereka, air susu ibunya. Andai kakak bisa dengar teriakan dan tangisan mereka saat ini. Dan kak Chris yang kebingungan hendak berbuat apa. Berlari kesana kemari, ingin bikin susu formula cepat, justru tangannya yang tersiram air panas..."
__ADS_1
"Tidak mungkin! Mas Chris pasti minta bantuan pada pengasuh-pengasuh Velli dan Verrel!"
"Tapi... kak Chris juga sama galaunya dengan kak Mutia. Bagaimana kalau kak Chris juga pergi dari rumah? Lalu putra-putri kalian hanya ditinggal dan diurus pengasuh yang kurang benar dalam merawat mereka? Nanti mereka tumbuh dengan kondisi memprihatinkan. Bukankah kakak pernah mengalami hidup yang sulit karena tidak di asuh ibu kandung? Mengapa sekarang kakak memberikan keadaan itu pada anak-anak kakak?"
"Hik hiks... hentikan Vi! Vi aku mau pulang! Aku mau ketemu anak-anakku! Aku ingin menyusui mereka!" ujar Mutia dengan berurai air mata.
"Oke... Bagaimana kalau aku segera menelpon kak Chris agar menjemputmu kesini? Ya?"
"Iya. Iya! Bilang sama Mas Chris... bawa juga anak-anak!"
Aku tersenyum. Segera mengambil hape dan mengabari kakak iparku agar cepat meluncur dengan si kembar.
Kak Mutia... Hidup adalah persinggahan. Sama seperti diriku, yang singgah sebentar di hati Herdilan Firlando. Tapi anak bukanlah persinggahan. Anak adalah titipan. Memang bukan pula milik kita sampai akhir hayatnya. Karena ketika ia besar nanti, dewasa dan menikah... ia akan memiliki pasangan. Tapi... sebelum waktu itu datang, anak adalah tanggung jawab kita yang akan dipertanyakan Tuhan di kemudian hari.
Kak Mutia... darimu aku belajar, aku juga akan fight mengurus dan membesarkan Dzakki-ku, meski apapun yang terjadi di kehidupanku nanti.
Sampai kapanpun... Dzakki adalah anakku. Yang harus kudidik dan kuajarkan, betapa rumitnya hidup... tetapi rasa syukur tak boleh kita lupakan.
Aku tak ingin putraku tumbuh seperti ayah kandungnya. Yang tak punya rasa syukur sedikitpun atas semua miliknya padahal banyak orang ingin sekali seperti dia.
Kak Chris datang. Ia turun tergesa-gesa dengan menggendong kedua buah hatinya.
Kulihat kak Mutia menangis dan berlari menghampiri. Memeluk si kembar yang masih dalam gendongan sang suami sambil terisak dan berkata, "Maaf...sayang! Maafkan Mama ya, Velli-Verrel! Hik hik hiks... Mama kejam ya pada kalian! Sini, sini... mimi cucu dulu!"
Aku tersenyum bahagia. Roger ikut keluar dengan memangku Dzakki. Sehingga aku pun setengah berlari menghampiri dan meminta Dzakki dari gendongan Roger.
"Tak boleh! Boy putraku!"
Aih??? Mana Maminya? Aku atau dia?
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1