
Mas Delan mengangkat tubuhku yang duduk di bawah lantai kamar.
"Boleh aku... membahagiakanmu?" bisiknya terdengar merdu sekali di telingaku.
Aku tersenyum malu. Merah merona wajah ini. Tertunduk kebawah tak berani menatap matanya yang tak lepas dari wajahku.
Ia membaringkanku di atas ranjang yang empuk.
"Viona..."
Panggilan lembutnya membuat hatiku bergetar.
Kupejamkan mata ini, malu melihat sinaran matanya yang kadang meredup kadang berkilauan meletup-letup.
"Mas..."
Jemariku menahan tangannya yang perlahan masuk ke bawah kaos oblongku.
"Bolehkah?" tanyanya dengan ******* yang tak sanggup kutolak.
"Masih pagi ini..." jawabku juga dengan suara lirih.
"Apa bedanya pagi, siang malam bagi pengantin baru?"
Aku tertawa kecil mendengar alasannya yang ngasal.
"Mas!"
"Hmm?"
"Aku... aku takut," gumamku jujur.
Matanya langsung menembus mataku.
"Aku juga takut, Vio!... Takut kehilanganmu! Takut kau berpaling dariku karena tidak bisa membahagiakanmu!"
Aku... menutup bibirnya agar Mas Delan tak lagi berkata yang menyedihkan.
Lalu dia mendekati wajahnya ke arahku. Dan... ******* bibirnya kali ini begitu lembut selembut es krim yang di makan di malam hari.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Viona!"
"Aku... juga mencintaimu, Mas Herdilan Firlando!"
"Aah... Ini pertama kalinya kamu memanggil lengkap namaku dengan begitu mesra!"
Mas Delan tersenyum dengan mata terpejam. Seperti merasa sangat puas hingga bergaya seolah "Betapa bahagianya aku!"
Aku tersenyum geli melihat tingkahnya.
Kini mata kami kembali beradu.
"Aku masih bujangan ting-ting! Jadi mohon maaf jika perlakuan awalku terkesan kasar, Viona!" katanya sebelum memulai pertempuran.
...⚘⚘⚘⚘⚘...
Pukul satu siang. Aku dan mas Delan masih berada di atas ranjang. Setelah dua kali putaran bergumul di dalam kamar villa om Lordess. Kini kami terlelap sejenak.
Aku menutupi wajahku. Malu mengingat yang tadi.
Uuuuggghh... Mas Delan beneran deh ih! Bagaimana kini ia memandangku? Apa aku ini tadi bertindak bodoh? Atau... tingkahku justru seperti perempuan yang murahan yang pasrah ketika ia serang? Haiiiisssh... Ish! Maluuu...
Aku terkejut bukan kepalang. Ternyata suamiku sedang tersenyum memandangi wajah ini. Aku menunduk malu seraya menarik selimut. Menenggelamkan wajahku ke bawahnya.
Sontak mas Delan ikutan masuk. Dan kami kembali bergumul.
"Mas..."
"Hm...? Kenapa sayangku?..."
Hanya itu jawabannya. Tapi membuatku melting dan membiarkan tangannya kembali mengisengi diriku.
"Mas...!"
"Hmmm..."
Bahkan kini ia mulai berani mentatto badan ini dengan cup*ngan nakalnya.
"Aaaa Mas Delan!" desahku lagi berusaha menyadarkan perbuatannya itu padaku.
__ADS_1
"Hehehe..."
"Kamu mah, ih!"
"Disiksa ya? Maaf... hehehe... Aku... mencandumu, Viona!"
"Lapar gak?"
"Ah ya.... Ternyata kamu juga butuh asupan makanan ya?"
"Mas Ish! Nakal!"
"Hahaha... Maaf istriku tersayang!"
Mas Herdilan bangkit dari ranjang. Dia turun, dengan sigap memakai kembali box*r dan kaos oblongnya. Namun tiba-tiba,
"Stop! Biar aku yang turun ke dapur! Vio tetap di sini. Tunggu Mas, ya!?"
Aku tersenyum melihat tingkah mbossynya.
Mas Herdilan keluar dari kamar. Membuatku tersenyum dengan menarik nafas lega.
Dasar deh, suami cupuku ini! Hehehe...
Kudapati titik-titik merah di sekujur dada, pangkal lengan dan paha.
Mas Delan benar-benar bekerja keras!
Namun aku malah menyunggingkan senyuman kepuasan. Terlebih... (ugh)
Gila!
Tapi... Kami ini sudah suami istri. Dan... lumrah saja jika melakukan hubungan intim, bukan? Kenapa aku harus malu? Bukankah itu wajar?
Dan bukankah justru sebaiknya aku juga memberi mas Herdilan yang terbaik juga pelayanannya?
Aku tersenyum geli. Malu-malu kucing bergelud dengan fikiran sendiri.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1