
Hhh...
Viona pergi meninggalkan Ibukota dengan membawa Dzakki Boy Julian.
Aku tahu. Tindakanku sangat salah. Langkah yang kuambil keliru dan terlalu gegabah.
Di pesta hari kebahagiaan Viona, aku justru membuat onar.
Aku hanya ingin mengutarakan isi hatiku semuanya. Tentang cintaku pada Viona. Tentang rinduku padanya. Juga rasa penasaran yang selalu menohokku setiap malamnya.
Aku ingin tahu seperti apa rupa putraku.
Dan setelah aku tahu kalau Dzakki adalah putraku. Kebahagiaan ini meluap, hingga aku lupa dan justru membuat keadaan semakin kacau.
Viona benar-benar membenciku.
Viona, menghajarku habis-habisan dengan tangan mungilnya.
Aku justru bahagia. Sangat bahagia.
Viona telah berubah. Perlahan tapi pasti, Viona jadi orang yang kuat dan tegar.
Ia benar-benar membuatku terpukau. Karena akhirnya berani juga membela harga dirinya sendiri tanpa bantuan orang.
Dia benar-benar mengambil keputusan tanpa campur tangan pihak lain. Even itu mas Chris, juga mas Roger.
Tapi sayangnya, ia membawa putra kami jauh sekali. Hingga sulit untukku memantau mereka dari kejauhan.
Aku meminta saran mas Chris. Berharap beliau bisa memberiku jalan atau setidaknya mungkin pekerjaan untukku di pulau yang sama dengan Viona dan Dzakki.
"Biarkan dulu Viona dengan amarahnya, Lan!" begitu mas Chris bilang.
Dan aku terkejut, ketika Roger juga mendatangi rumah Mas Chris disaat aku pun sedang meminta advishnya.
Mas Roger menantangku tanding, satu lawan satu.
Terang saja aku kalah. Aku, tak punya ilmu bela diri apapun sedari kecil. Aku berkelahi hanya bermodalkan uang. Menyuruh para preman bayaran dan orang-orang jalanan ketika aku ada masalah.
Itu masa laluku.
Tapi, aku menerima tantangan Mas Roger.
__ADS_1
Karena dia bilang, siapa yang kalah... harus legowo untuk tidak lagi mengganggu kehidupan Viona. Terutama cintanya.
Aku, menerima bogem mentah mas Roger. Pertanda aku benar-benar menginginkan Viona, dari dasar hatiku yang terdalam.
Viona Yuliana.
Perempuan pertama yang hadir dalam hidupku.
Yang pertama pula, menjadi orang yang membuatku susah tidur.
Teringat pertama kali melihatnya.
Berjalan dengan santai namun anggun. Menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari ruang administrasi kampus biru kami.
Masih kuingat dengan jelas, wajah manisnya meski dalam raut yang datar. Celana jeans gombrong serta kemeja polos warna biru mudanya. Sepatu sneakers warna putih dan tas ransel warna hitam berbahan kulit imitasi. Usia mudanya yang baru 18 tahun membuatku bergairah meliriknya berkali-kali.
Kuikuti langkahnya dari sekitar sepuluh meteran.
Tiba-tiba seorang pria dewasa berseragam tentara menghampirinya. Mereka berbincang cukup lama. Dan aku hanyalah menunggu keduanya usai bercengkerama.
Hingga gadis manis itu kembali melanjutkan langkahnya setelah bapak tentara itu pergi kembali. (Setelah tiga hari baru kutahu kalau bapak itu adalah Ayahnya)
Namanya Viona Yuliana. Mendaftar di kampus biru jurusan manajemen bisnis.
Tentu saja aku senang bukan kepalang.
Absensi namanya tepat berada di atas namaku. Karena Viona mendaftar lebih dulu dari aku. Dan akhirnya kami berada dalam satu ruangan yang sama. Kelas yang sama.
Sejak itu, kutandai Viona setiap harinya.
Dihari kedua kami menjadi mahasiswa baru, kuberanikan diri mendekatinya. Mengajaknya kenalan dengan gaya slenge'anku. Cengengesan dan sedikit cuek padahal hatiku dagdigdug.
Ternyata, seperti perkiraanku. Gadis itu teramat jutek.
Dia sama sekali tidak meresponku. Bahkan terlihat illfeel ketika aku disekitarnya.
Mungkin karena wajah cupuku yang memang kututup dengan rambut gondrong dan penampilan jorok dekil tak peduli pada diri sendiri terutama bagian wajah.
Aku memang sangat takut jadi orang yang kembali seperti masa SMP dulu.
Hhh... Sudahlah! Cerita lama itu..., kini harus kututup setelah kalah telak dari mas Roger dihadapan mas Christian.
__ADS_1
Mereka adalah saudaraku. Sebenci apapun mereka padaku, tetap saudaraku. Ada darah papa yang kuat mengalir di nadi kami. Begitu kata kak Chris.
Viona harus bahagia. Viona tidak boleh kembali terluka. Apalagi jadi tumbal klan kami lagi.
Entah takdir membawanya selalu berada di area kami. Yang pasti cinta polosnya membuat kami para klan jatuh pada pesonanya.
"Jangan ada yang bergerak lebih dulu! Aku pesankan pada kalian, biarkan Viona mengambil langkahnya sendiri!" saran mas Chris membuatku menunduk.
"Aku harus menjaga Dzakki! Aku akan menjenguk mereka seperti biasa, empat minggu sekali! Jangan larang aku!" tukas mas Roger. Dia adalah orang terdekat putra kandungku. Aku mengerti sekali perasaannya.
Mas Chris sendiri tak membalas ucapan mas Roger. Sepertinya ia juga mengerti kedekatan batin Roger-Dzakki.
Entah mengapa, setelah pertarunganku dengan mas Roger hati ini semakin tenang.
Kami semakin dekat dan mulai terbiasa dengan pertemuan walau masih terlihat canggung.
Mama juga ternyata sering chattan dengan mas Chris. Dibelakangku mereka rupanya sering bertemu. Bahkan Mama kini memiliki kembali kepercayaan dirinya yang selama ini hanya menunduk dan menunduk dihadapan mas Roger dan mas Christian.
Tuhan Maha Baik.
Setelah hantaman badai, angin topan, angin ribut silih berganti dengan panas yang menggelepar. Waktu menceriakan kami.
Waktu memang adalah obat dari semua rasa sakit di hati.
Yang paling berjasa sudah pasti adalah mas Christian.
Berkat mas Christian, pelan-pelan hubungan kekerabatan ini terjalin. Kami sama-sama saling menyadari, semua masa lalu yang teramat pahit harus kita ganti. Menjadi masa depan yang cerah dan bahagia.
Fika, awalnya tak menyukaiku terlebih Mama. Namun berkat kegigihan Mama mengubah pribadi kearah yang baik, saudara perempuanku itu pun mulai melunak.
Terlebih ketika Fika demam tinggi saat pulang ke Indonesia sehari setelah Viona pindah ke Bali. Mama yang mengantar dan menemani Fika berobat bolak-balik ke rumah sakit.
Disitulah kedekatan keduanya mulai terjalin.
Aku sangat bersyukur, jalan hidup kami yang tadinya rumit kini justru terlihat mudah.
Semua mencair dengan kesadaran hati masing-masing yang menginginkan kedamaian. Bahkan terakhir kulihat Mama dan Fika sholat bersama di rumah mas Christian.
Sungguh pemandangan yang mengharukan bagiku.
Terima kasih Tuhanku Yang Maha Agung. Aku bahagia dan sangat bersyukur.
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...