PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 50 Suami Patuh, Istri Bangga


__ADS_3

Entah... Apakah salah jika amarahku kubawa sampai ke ranjang tidur kami?


Aku... Sebenarnya menginginkan mas Delan yang memulai kembali kemesraan kami. Dengan pelukan hangat dari belakang, kubayangkan ia mengucapkan maaf karena telah membeli tindakan Lady yang sebenarnya diluar batas itu.


Tapi ternyata suamiku itu justru menyudutkanku karena balasan kasarku pada Lady Navisha, artis talentnya yang kuyakin pura-pura mendatangi rumah kami untuk menteror kehidupan rumah tanggaku dengan mas Delan.


Bukan maksudku berbuat gegabah dengan menyuruh Lady segera pergi dari rumah kami. Tapi aku memang benar-benar tidak nyaman dengan kelakuannya berpura-pura manis sok akrab pada kedua orangtuaku juga Papa Mama mas Delan.


Kalau memang Lady tulus berteman denganku, kenapa tidak sedari dulu ia mendatangi rumahku. Dari kami masih satu kampus dan sama-sama menjadi 'maba'.


Bahkan Lady tak pernah berniat menampakkan batang hidungnya menyelamatkan diriku dari amarah Papa saat aku jatuh pingsan di beri minuman ber-zat psikotropika olehnya waktu itu.


Lady justru dengan santainya menjawab japrianku keesokan hari padahal telah di read malam itu juga. Dan ia hanya membalas kalau keadaannya baik-baik saja.


Andai tadi kubeberkan semua kejahatan masa lalunya pada semua, apakah mas Delan juga ayahku sendiri akan percaya dan menjaga jarak dengan Lady? Atau justru semakin menuduhku terlalu berlebihan dalam bersikap.


Hhh...


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Akhirnya setelah dua hari berlalu, perang dingin antara kami hilang perlahan dengan sendirinya.


"Yang... Mama sakit. Aku diminta Mama menginap malam ini di rumahnya!"


Mas Delan mengusap rambutnya sembari berdecak cemas ketika kakinya baru saja dijejakkan di teras rumah kami.

__ADS_1


Baru saja aku akan bertanya padanya, "Tumben pulang di sore hari begini?!"


"Aku siap-siap deh, Mas!" kataku segera setelah mengambil tas kerja dari genggamannya.


"Kamu ga usah, Vi! Biar aku saja. Kata Mama, takutnya nular nanti penyakitnya ke kamu!"


"Memang Mama sakit apa, Mas?"


"Cacar air."


Aku terdiam. Merenung sesaat.


"Tapi kalau ga salah, cacar menular ke orang yang belum pernah kena cacar deh! Aku waktu kecil dua kali kena cacar! Jadi ga masalah deh!"


"Jangan, Vi! Kamu ga usah ikut! Mama kalo sakit rewel kayak bocil! Nanti malah ngerepotin kamu!"


Hhh...



"Sesekali direpotin Mama tak apa lah, Mas!" tuturku memberinya pengertian. Kalau aku tulus ikhlas ingin merawat mama mertuaku yang sakit.


"Maaf, Vi! Aku melarangmu ikut. Mama... ingin mendiskusikan sesuatu. Keluhan-keluhannya soal Papaku pastinya! Ini... adalah boundingku dengan Mama!"


Aku terdiam.

__ADS_1


"Kumohon pengertianmu, sayang! Bukan aku tak senang kamu ikut ke rumah Mama! Tapi... aku khawatir.. hubungan kalian yang telah kembali normal bisa retak lagi karena kata-kata Mama yang asal jeplak nantinya. Kamu faham khan maksud aku, Yang?"


Aku menunduk, merenung.


Perkataan Mas Delan ada benarnya. Mama Tasya itu orang yang baperan. Apalagi di saat sedang sakit seperti ini. Sedangkan aku, juga bukanlah menantu yang tahan banting.


Hatiku seringkali merapuh jika Mama mengatakan sesuatu yang tak mengenakkan di hati.


Alhasil... Aku menuruti kata suami.


Malam ini mas Delan meminta izin menginap di rumah Mama. Dari yang biasanya hanya menengok sejam dua jam sepulang kantor, kini mas Delan meminta izin menginap di rumah Mamanya.


Apakah aku keterlaluan jika mencoba memberinya sedikit nasehat pada suami yang sangat terlihat gaya anak maminya?


Apa aku terlalu lebay jika mempermasalahkan dirinya yang setiap hari mengunjungi sang Mama padahal kemungkinan besar mereka sering bertemu juga di kantor?


Bukankah mama Tasya masih sering masuk kantor PH nya? Bukankah beliau belum pensiun dan belum memasuki batas umur lansia?


Ah... Aku menggeleng-gelengkan kepala. Mencoba mengusir keraguan serta fikiran jelekku pada kepatuhan suamiku sendiri yang luar biasa.


Sadarlah kau Viona! Bukankah perbuatan baik mas Delan pada Mamanya juga bisa membawa kebaikan pahala juga bagimu karena telah memberi jalan untuk kebaikan sang suami?


Hmm...


Aku berusaha tersenyum bangga pada ketaatan suamiku.

__ADS_1


...❀❀❀BERSAMBUNG❀❀❀...


__ADS_2