
Kata siapa hatiku ini terbuat dari batu pualam? Tidak.
Hatiku juga sama seperti para perempuan lain diluar sana, yang memiliki ketakutan luar biasa akan direbutnya sang suami oleh para pelakor lihai.
Aku juga gugup dan cemas bila mengingat akan posenya Lady Navisha yang menantang dipunggung suamiku, mas Delan.
Kembali fikiranku menerawang. Foto itu sekilas terlihat candid dari kejauhan. Berarti memang di foto bukan untuk suatu kebutuhan. Melainkan di ambil dari jarak yang jauh dengan tujuan curi gambar.
Aku merasakan dadaku agak sesak.
Terbayang dada montok milik Lady Navisha yang menggelayuti punggung suamiku. Panas juga otakku memikirkannya.
Masa' iya itu si Lady seberani itu sama suamiku? Sedangkan dulu di masa kuliah, ia sama sekali tak menunjukkan gelagat menyukai mas Delan. Apa... karena kini mas Delan adalah atasannya? Bukankah Lady selalu terobsesi mendapatkan cinta para pengusaha kaya raya yang tajir melintir sedari muda dulu? Dan kini... Mas Delan telah bermetamorfosis menjadi pengusaha idaman Lady!
Aku teringat kembali nasehat Ira. Untuk selalu waspada dan menjaga suamiku yang paling kusayangi.
"Pukul berapa biasanya Delan pulang kerumah?" tanya Ira padaku tadi sore sebelum menutup pintu butik.
"Pukul sepuluh malam!"
"Semalam itu?"
"Ya suamiku khan bukan karyawan biasa, Ira! Mas Delan juga harus mampir dulu buat sambangi mama mertuaku yang tinggal sendirian di rumah besarnya!"
"Setiap hari ke rumah Mama Tasya? Setiap malam begitu?"
"Iya. Tapi kebanyakan ya memang kerja sampai malam. Aku sendiri sering dikirimi videonya dari kantornya jam sembilan malam."
"Hanya kiriman video? Kamu video call langsung ga? Lihat langsung wajahnya secara live ada di kantor?"
"Ira! Kenapa sih kamu ini parnoan banget jadi orang?" protesku menjadi kesal dengan nada curiganya yang membombardir suamiku. Kesannya, mas Delan itu seperti laki-laki gampangan yang mudah tergoda wajah cantik dan bodi semok para artisnya.
Suamiku bukanlah orang yang seperti itu. Dan aku marah karena Ira seolah lebih tahu Delan ketimbang aku.
"Semua lelaki itu sama, tipikalnya. Mau dia orang yang terlihat sopan kek, mau dia orang yang gragas kek! Sama semua. Tipe-tipe kucing yang suka nyuri ikan asin apalagi ikannya gatel juga minta di garuk!"
Aku tertawa terbahak-bahak mendengar penilaian Ira soal 'LELAKI'.
"Udah ah! Please deh... kurangi ketidak percayaanmu pada laki-laki, Ra! Gimana kamu bisa melangkah ke jenjang selanjutnya jika selalu curiga'an sama pasangan. Kasihan tuh Leon... kapan diterima lamarannya?"
__ADS_1
"Itu karena Leon belum teruji jelas kejujurannya, Vi!"
"Hadeeuh... kamu ni Ra!"
Aku mengusap lembut bahu Ira. Memeluknya lalu cipika-cipiki pamit pulang dengan arah tujuan masing-masing.
...ππππππ...
Pukul sepuluh malam. Seperti biasa, suamiku pulang ke rumah dengan wajah dan tubuh terlihat penat serta lelah.
"Mas... Mau makan ga?"
"Hhh... Ga',Yang! Tadi udah makan dirumah Mama!"
"Oh. Ya udah! Gimana kabar mama?"
"Baik. Seperti biasa, salam katanya Mama!"
"Wa'alaikumsalam..."
Suamiku masuk kamar. Membuka seluruh pakaiannya dan ke kamar mandi yang tersedia di kamar pribadi kami.
Terdengar suara kecipak air dari dalam kamar mandi. Mas Delan mandi meskipun hanya beberapa menit saja. Ia memang orang yang sangat apik dan pecinta kebersihan.
Tak lama ia keluar dari kamar mandi dengan tubuh atas tanpa pakaian dan bagian bawah terbungkus handuk warna biru.
"Capek ya?" tanyaku pelan. Seperti biasa, basa-basi sebagai seorang istri.
"Iya. Biasa lah!" jawabnya juga dengan pelan. Seperti ogah-ogahan tapi mau tak mau harus jawab pertanyaan asalku.
"Mau wedang jahe buatan bi Farida, Mas?" tanyaku lagi.
Ia terlihat berfikir sesaat. Tapi kemudian mengangguk.
"Tapi jangan segelas penuh ya? Perutku sudah sangat penuh ini!" katanya lagi sebelum aku berjalan keluar kamar. Membuatku kembali menoleh dan tersenyum mengangguk.
Namun tiba-tiba mataku tertuju pada sesuatu... ditubuhnya.
Aku kembali ke arahnya. Penasaran dan jari telunjukku mencoba mengusap sesuatu yang tampak jelas di bawah dadanya.
__ADS_1
"Apa ini, Mas? Merah-merah begini?"
"A-apa? Apa Vi? Mungkin tadi di gigit nyamuk di kamar mandi!"
Mas Delan menjawab sambil mengusap-usap noda merah di bagian bawah put*ng su*unya.
"Nyamuk? Tapi... seperti..."
"Apa sih? Cup*ngan?! Ya ampun, Viona sayang! Please deh otakmu jangan travelling kemana-mana! Kebanyakan nonton drakor nih!"
Mas Delan terlihat agak emosi dengan jalan fikiranku yang sebetulnya belum kuucapkan itu. Membuatku segera menyunggingkan senyuman tipis seraya mengucap kata 'maaf'.
Tapi...
Ada noda merah satu lagi terlihat mataku di otot trisepsnya. Memang agak tersembunyi karena ada di bagian bawah pangkal lengannya. Namun bila diperhatikan seksama dan melihatnya lebih detil lagi... itu bukanlah seperti gigitan nyamuk biasa.
Apa...nyamuknya besar sekali sampai menodai dada dan otot suamiku seperti itu.
Aku hanya berusaha berfikir positif. Menghilangkan semua yang negatif. Demi kestabilan rumah tangga kami kedepannya.
Selama ini suamiku tak pernah bertingkah diluar batas normal. Bahkan banyak artis-artis cantik asuhannya yang terikat kontrak dengan perusahaan. Bahkan lebih cantik dan molek dari aku juga Lady Navisha, suamiku tak terlihat aneh kelakuannya.
Mungkin aku yang terlalu memikirkan omongan Ira tadi siang. Hingga terbawa suasana curiganya sampai saat ini.
"Mas... Ini wedangnya!"
Mas Delan mengambil gelas yang kusodorkan. Kini ia telah berpakaian rapi. Kemudian menaruh gelas berisi setengah wadang jahe yang masih mengepulkan asap panas itu di atas nakas.
Tangannya menarik tubuhku kedalam dekapan mesranya.
"Please... janganlah membuat aku semakin lelah dengan kecurigaanmu, Yang!"
"Maaf, Sayang!"
Aku terhanyut oleh kecupan demi kecupan mas Delan yang menenggelamkanku dalam buaian asmaranya.
Seperti biasa... kami melakukan hubungan suami istri. Untuk mempererat rasa cinta dihati kami.
...β€β€β€BERSAMBUNGβ€β€β€...
__ADS_1