
Aku masih dengan penuh kebingungan menatap raut wajah dokter Lena yang cantik jelita.
"Aku hanya usul saja! Hehehe..." katanya sembari membereskan peralatan medisnya.
Kak Jo duduk tanpa bergerak sama sekali.
"Kak Jo! Kak Jonathan?"
"Aku mendengarkan perkataanmu, Lena!"
"Hahaha... Kukira kakak sedang semedi! Betewe aku pamit ya? Jangan lupa jaga kesehatanmu, Viona! Dan juga kak Jo!... Sering-sering telepon aku ya?"
"Oke!" jawab kak Jo. Sementara aku mengangguk seraya mengucapkan terima kasih.
"Dokter Lena! Sebenarnya banyak sekali yang pingin Viona obrolin sama dokter, tapi..."
"Lusa aku off! Aku akan main kesini! Kita bisa ngobrolin kakak Jo panjang lebar, luar dalam. Hehehe... Okey?"
"Okey... Makasih banyak, Dok!"
Dokter Lena pamit melanjutkan pekerjaannya sebagai seorang dokter ahli kandungan di sebuah klinik daerah pusat ibukota.
Kini tinggal aku dan kak Jonathan berdua dikamar ini.
"Gimana keadaanmu sekarang, Viona?" tanyanya lembut.
"Baik, Kak!"
"Hahaha... sekarang kamu panggil aku 'kak' kenapa tidak 'Jo' seperti kemarin?"
"Tidak sopan rasanya. Sedangkan dokter Lena saja panggil 'kakak'."
"Mau lanjut makan, ya? Makan buburnya dulu. Setelah itu kita bisa keluar dari sini!"
Aku menuruti perkataan kak Jo. Menghabiskan semangkuk bubur ayam yang rasanya sangat spesial. Karena baru pertama kali makan bubur ayam seenak ini.
"Buburnya enak!" pujiku dengan mata berbinar dan tersenyum puas. Jarang-jarang aku makan bubur sampai tandas.
"Syukurlah! Itu buatanku, Vi! Hehehe... "
"Iya kah? Waah! Kakak hebat, beneran deh!"
Dia mengambil tissue, lalu melap bibirku membuat jantung ini berdebar seketika.
"Kak Jo!?"
"Kamu... sepertinya seumuran dengan keponakanku! Aku tak kan berbuat berlebihan sama kamu!"
__ADS_1
Aku malu. Kak Jo menerka suara hatiku dengan benar. Aku sesungguhnya memang selalu takut berdekatan dengan lawan jenis.
"Minumlah! Setelah itu kita keluar. Hirup udara segar!"
Aku menurut lagi. Meskipun masih banyak tanda tanya di kepala dan di hati.
............
Taman mini di halaman belakang rumah milik kak Jo ternyata menyenangkan.
Ada sebuah gazebo dari bambu. Tapi sangat bagus dan penuh aneka bunga anggrek.
"Ini... rumah almarhumah Mamaku. Makanya, semuanya terlihat begitu manis, bukan?"
Aku mengangguk.
Pantas saja. Sentuhan tangan wanita seratus persen keindahannya.
"Mamaku adalah mamanya Tania juga. Kamu tahu siapa itu Tania?"
Aku menggeleng. Menatap matanya yang seperti tepat memanah netraku yang polos tak mengetahui apa-apa.
"Tania Camila adalah... istri pertama Bambang Suherman!"
Ternyata..., kak Jo adalah adik ipar papa Bambang dari istri pertamanya!
I see! Aku baru tahu!
"Sebenarnya dia tahu, tapi pura-pura tidak tahu! Suaminya pengagum wanita cantik diluar sana. Meski di rumah sifat dan perilakunya sangat manis luar biasa!"
Akhirnya... aku menemukan jawabannya. Pantas, Herdilan bisa bersikap sedemikian padaku. Rupanya turunan dari bokapnya.
"Kenapa? Kenapa harus pura-pura lupa? Kenapa tidak mencoba melarang juga menghentikan pernikahan itu?"
"Bagaimana denganmu? Kenapa kamu mau bunuh diri sedangkan kamu seharusnya senang bisa jadi bagian dari mereka yang bergelimang harta? Kamu kenapa malah memilih ingin meninggalkan dunia ini segera dengan cara yang sangat Tuhan benci?"
Aku tertohok mendapati pertanyaannya.
Benar juga! Aku malah menceburkan diri ke sungai ketika mendapatkan perlakuan buruk dari mereka, bukannya membuat mereka menyesal atas semua perbuatan jahat yang dilakukan. Aku justru membuat mereka bertiga tertawa terbahak-bahak karena kebodohanku jika benar-benar mati.
"Nah! Kamu sudah menyadarinya?"
Aku menunduk terdiam.
"Kakakku sempat berfikir sepertimu. Ingin bunuh diri, namun urung karena memiliki tiga orang anak yang masih kecil-kecil. Ia juga perempuan yang keras kepala, dan setia pada satu orang pria saja. Ya...si Bambang sial*n itu! Tapi kamu tahu, siapa yang lebih sialan itu sebenarnya?"
Aku tak berkedip menatap wajah tampannya meski usianya sudah masuk 40 tahun.
__ADS_1
"Tasya Jessica! Padahal... dia adalah anak dari adik mama kami!"
What the hell? Begitukah ceritanya?
"Dan kakakku menyimpan rahasia itu berpuluh-puluh tahun dariku, saudara kandungnya. Demi kenyamanan hidup si Tasya yang gila harta itu! Sialnya lagi, aku menyayangi putranya yang kukira benar-benar anak dari pengusaha dan sutradara film yang rumornya sempat dekat dengan si Tasya di awal karier menjadi artis!"
Aku menyimak dengan keseriusan.
"Dan... hei!!! Aku ingat! Aku memberi kalian hadiah tiket pesawat pulang pergi liburan di villa ku di Ubud. Kamu ingat?"
"Jadi..., kakak Jo ini adalah om Lordess? Om nya Delan yang istrinya kawin lari sama pelayannya?"
Ups... Aku segera mendekap mulut kotorku.
"Hahaha... hahaha!"
Kak Jonathan alias om Lordess tertawa. Cukup lama tapi setelah itu dia menghela nafas dan menelan ludah.
"Kisahku panjang, Viona! Dan aku depresi karena banyaknya kekecewaan. Bahkan hingga saat ini! Mau dengar kisahku?"
Aku mengangguk. Menatap wajah sayunya yang tampan dan lebih tepat jika ku beri julukan 'Om Tampan'.
"Viona, berapa usiamu?"
"Dua puluh tiga, Kak!"
"Hm... seumur si Delan kalau begitu!"
"Ya. Kami teman satu angkatan di kampus. Karena keadaan, kami berdua menikah tahun lalu. Hhh... Begitulah! Ada kemungkinan memang dia tidak benar-benar mencintaiku sedari awal!"
"Hhh... Entah! Aku sangat ingin membuat mereka hancur. Karena banyak kisah sedih dihidupku jg akibat si Tasya!"
"Menurut cerita Mama Tasya, kalian dekat satu sama lain?"
"Dulu. Dimasa kanak-kanak, ya! Karena mereka adalah anak dari adik perempuan mama kami yang numpang hidup. Mamaku menyekolahkannya. Memberinya kasih sayang yang sama rata antara Tania, Tasya juga aku. Ternyata... otak liciknya, menginginkan kebahagiaan kakakku. Bahkan, kakek kami pun dihasut olehnya hingga warisan terbanyak jatuh pada dia. Si Tasya iblis betina!"
Oala! Ternyata... Pantas dia membela si Lady Gagak itu. Ternyata, sifatnya sebelas dua belas mereka berdua itu. Benar-benar sama! Persis.
"Dan bodohnya aku! Aku menyayangi si Tasya, menganggapnya kakak terbaik setelah Tania. Ku'anak-emas'kan putranya yang ternyata anak dari kakak iparku. Sialan! Bahkan... Aku yang sedang patah hati karena Louisa-ku pergi dari dunia ini, mau-maunya ia jodohkan dengan si Almira. Perempuan yang serupa sifat materialistisnya itu! Untungnya aku tidak sampai memiliki anak dan perempuan itu sudah mendapatkan cinta sejatinya dan kawin lari dengan si Faldin. Aku senang, dia akhirnya terbebas dari gayanya si Tasya dan memilih kabur dengan pelayan kurang ajar itu!"
Kupegang jemari kak Jonathan. Ternyata sangat dingin dan basah keringat.
Rupanya... kata-katanya yang seolah ia adalah lelaki kuat tak sinkron dengan isi hatinya.
Kami saling bertatapan seperkian menit. Lalu tersenyum dan tertawa bersama setelah saling menguatkan.
__ADS_1
Entah ada sesuatu di antara kami. Seperti 'tali penghubung'. Dan aku sangat nyaman memanggilnya 'kakak'.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...