
Setiap kejahatan pasti Tuhan balas. Aku percaya itu. Tapi baru benar-benar yakin setelah melihat dan menyaksikan sendiri saat-saat kehancuran keluarga Herdilan.
Di awal menikah aku sempat bingung. Tak habis fikir dengan kehidupan rumah tangga Tasya-Bambang, orang tua kandung Herdilan Firlando.
Mamanya adalah istri kedua. Papanya memiliki tiga orang istri, tapi semuanya tak saling kenal.
Hhh...
Sejak pertama kali mengetahui, aku sudah merasakan kejanggalan. Tapi... bukan kapasitasku menghakimi.
Dan kini... Tuhan membuka semua aib-aib mereka semua satu persatu.
Menginginkan milik orang lain adalah hal yang lumrah dan manusiawi. Tapi merampas dan mengambil hak milik orang lain, bukankah sejak kecil kita sudah selalu ditanamkan oleh orang tua untuk tidak boleh seperti itu?
Lalu ketika kita sekolah, ada pelajaran PMP atau Pendidikan Moral Pancasila. Yang kini berganti nama sejak tahun 2000 an yakni Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan atau PPKn.
Semua selalu membahas moralitas, hak asasi manusia dan juga hal-hal yang dilarang secara harfiah, umum dan diketahui khalayak.
Sementara papa Bambang, seorang aktivis yang selalu membicarakan soal semua hak dan kewajiban hidup berbangsa bernegara yang baik itu seperti apa.
Hm...
Ternyata tak selamanya orang hebat itu benar. Tak selamanya pula orang pintar tak pernah salah.
Bahkan aku melihat sendiri, papa Bambang justru terjerumus oleh perkataannya sendiri.
Melakukan poligami, menyakiti hati istri, membuat posisi anak tidak nyaman dan dalam kondisi serba salah... apakah itu termasuk dalam hal mengabaikan dan tidak menghargai hak asasi manusia?
Lalu mama Tasya,... merebut dan merampas suami sepupunya tanpa izin, itu juga melanggar hak asasi manusia bukan?
Apalagi di tambah kasus beratnya yang melakukan perencanaan pembunuhan pada sang madu, karena ingin menguasai suami seorang diri. Sungguh suatu perbuatan kejam dan biadab. Melanggar isi Pancasila sila ke-dua. Iya khan?
Aku hanya bisa melamunkan semua tindakan yang papa dan mama mertuaku lakukan sambil memandangi rinai hujan yang turun membasahi bumi di pukul delapan pagi.
Harum aroma tanah yang kena guyuran hujan sedang di pagi hari itu membuat longgar pernafasanku.
"Sedang apa?"
Aku menoleh ke arah sang pemilik suara.
"Melamun!" jawabku pelan lalu kembali menatap ke arah jendela yang terbuka.
Aku kaget, kak Jo ikut duduk di sampingku. Dengan gaya dan tingkah nyaris serupa denganku.
"Ke kenapa gayanya ikut gitu?" tanyaku bingung.
__ADS_1
"Lihat gaya melamun Vio koq enaknya?!" jawabnya membuatku tertawa.
Ah Kak Jo ini! Please... kamu ini paling bisa bikin aku jadi perempuan paling bahagia bila bersamamu! Bagaimana jika kamu tidak ada di sisiku, apakah aku bisa gila?
"Sudah sarapan belum?" tanya kak Jo membuatku tersenyum kecil.
"Minum sereal!"
"Hanya sereal? Terus si ganteng ini bagaimana?"
Jantungku berdebar. Kak Jo mengelus-elus perut buncitku.
Entah mengapa, halusinasiku tinggi sekali pagi ini. Dan... terbayang andaikan kami ini sepasang suami istri. Lalu, bercanda di atas ranjang kemudian berakhir dengan bercinta yang menyenangkan.
"Vi? Wajahmu merah sekali? Demamkah?"
Aku semakin memanas mendapati punggung lengan kak Jo menempel di dahiku.
Ah, kak Jo! Kenapa pikiranku ngelantur seperti ini?
Treeet... treeet... treeet
Untunglah Ira menelpon.
"Hallo, Ra! Apa kabar, Ra? Iya, ada apa?"
"Apa??? Di rumah sakit mana? Kamu dimana sekarang, Ra? Tunggu aku, share loc posisimu!"
...[Aku kirim sekarang!]...
Ya Tuhan... Kak Firman! Semoga kamu baik-baik saja, Kak!
"Kenapa? Ada apa, Vio?"
"Kak Firman kecelakaan, Kak! Aku mau ketemuan sama Ira. Kita mau pergi menengoknya sama-sama!"
"Aku ikut!"
Aku terpaku sebentar. Lalu...
"Sebaiknya jangan dulu, kak! Ira belum mengenal Kakak!"
Mata kak Jo terlihat meredup pancarannya.
"Kak..."
__ADS_1
"Ya sudah, aku mau pergi baca buku saja di gazebo!"
Ya ampun... Wajah kak Jo terlihat imut ketika sedang merajuk seperti itu!
"Kakak..."
Kutarik jemarinya dengan jantung berdebar. Lalu kedua bola mata kami saling bertatapan. Seperti ada aliran setrum yang membuat kami jadi gelagapan. Lalu sama-sama berusaha mengalihkan pandangan. Dan tersadar hingga tertawa terbahak-bahak mengakui tingkah kami yang mirip bocil.
"Maaf ya, kalau aku terkesan suka mengekormu, Vio!"
Aku sangat tidak bisa menahan debaran dada ini ketika kak Jo mengatakan kalimat itu.
Kupeluk tubuh tegapnya yang tak terlalu kuris tak terlalu berisi itu.
"Aku... hanya ingin memonopoli kakak seorang diri! Aku tak rela,... ada perempuan lain memperhatikan kakak, even itu adalah sahabatku sendiri!"
Entah kenapa aku seberani itu. Mengungkapkan rasa di hati ini dengan begitu lugasnya. Membuat kak Jonathan tertawa bahkan sampai terpingkal-pingkal.
"Aku ini lelaki tua, Viona! Siapa yang akan tertarik padaku? Kamu terlalu mengada-ngada! Hahaha..."
"Kakak pria keren! Kata siapa tak akan ada yang tertarik? Aku, Viona...buktinya!"
Aku marah. Kesal mendengar perkataan kak Jo. Sembari cemberut kulangkahkan kaki ini menjauh darinya. Namun...
Hap.
Tangan jenjangnya meraih pinggangku dan...
Kini aku ada dalam pangkuannya yang berjalan pelan sambil mengulum senyum.
Tanpa kata, kak Jo membawaku masuk ke kamar. Lalu menurunkannya dengan sangat perlahan.
"Pergilah, berganti pakaian! Kakak tunggu kamu di luar! Ira pasti sudah lama menunggu!"
Kak Jo tersenyum dan kembali berjalan keluar sambil menutup rapat pintu kamarku.
Hiks... Manisnya! Huaaa...
Aku menggaruk-garuk kepalaku. Menghentakkan kedua kaki ini. Gemas dan gereget rasanya melihat tingkah kak Jonathan Lordess, sang kekasih!
Iyakah? Kekasih hatiku kah, kak Jonathan itu? Apa aku tidak terlalu berlebihan menjulukinya seperti itu? Sedangkan kak Jo tak pernah mengucap kata cinta?
Hellooow, Viona! (tuk-tuk!!! Sadarlah) Saat ini sahabatmu menunggu kehadiranmu! Satu sahabat lagi tengah terbaring masih tak sadarkan diri. Bahkan belum jelas pasti bagaimana keadaannya! Tapi kau malah memikirkan yang bukan-bukan! Come on... kembali ke dunia nyata!
Aku mengetuk keras dahiku. Bergegas mencari pakaian ganti dan segera rapi-rapi, untuk pergi ke rumah sakit yang Ira kirimkan alamatnya via japrian.
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...