
Hidupku tetap berlanjut. Meskipun kini terasa amatlah sepi. Kak Jo... tiada lagi di sisi.
Ternyata lirik lagu Ariel Noah 'Tiada Yang Abadi' benar-benar menjadi pengantar kepergiannya.
Aku, Viona Yuliana... perempuan berusia 25 mau 26 tahun dengan seorang anak bayi lelaki.
Tapi aku bersyukur... Tuhan tidak meninggalkanku sendirian. Ada tiga perempuan tangguh yang berdiri menjadi benteng dikehidupanku.
Juga ada pria-pria penjaga yang gagah luar biasa. Yaitu Kenken dan Roger, meski Roger seolah membawa tameng ketika dihadapanku. Tapi sangat bertolak belakang dengan Dzakki Boy Julian, putra tunggalku. Aku tak peduli. Aku cukup senang ia dan Kenken bisa menjadi ayah angkat untuk Dzakki.
Fika yang stay di Singapura juga sesekali menelpon dan menchatku. Menanyakan apakah aku mau pindah ke Singapura dan tinggal bersamanya di sana.
Sejujurnya, hatiku sudah mati. Terkubur bersama cintanya kak Jonathan Lordess.
Kudengar berita di televisi, mantan suamiku Herdilan juga ikut di tahan pihak kepolisian setelah penyelidikan penembakan Papa Bambang kepada Kak Jo yang disaksikan langsung oleh Delan. Entah kasus apa, aku tak tahu juga tak mau tahu.
Mama Tasya masih ada di RSJ. Semakin parah sakit jiwanya setelah tahu suaminya meninggal dunia, bunuh diri setelah membunuh sang adik ipar.
Itulah... karma dari semua perbuatan.
Belasan tahun lalu, yang dikiranya aman dan tak akan terendus bangkai kelakuannya. Toh pada akhirnya... semua mendapat balasan setimpal.
__ADS_1
Kak Christian hidup tenang dengan kak Mutia. Baru kutahu kisah percintaan mereka yang ternyata juga tak mudah.
Dulu aku sempat kurang suka dengan kak Mutia. Terlebih, mengetahui dirinya yang memutus sepihak hubungan pertunangannya dengan kak Firman. Bahkan Ira sempat membencinya. Tapi kini setelah tahu, kalau cinta Mutia-Christian tidaklah seperti yang kami bayangkan. Dan Ira kini adalah fans fanatik twins anak mereka yang sekarang sedang viral tik tok video lucu.
Aku sendiri... masih labil. Kadang baik dalam mengurus Dzakki, kadang cuek jika mengingat kejahatan Papa kandungnya di masa lalu.
Seperti pagi ini...
Dzakki menangis keras sekali. Aku jadi gugup ketika membuatkan susu formula untuknya. Hingga jemariku akhirnya terseduh air panas dari dispenser membuatku memaki Dzakki yang sebenarnya belum mengerti.
"Haish!!! Diam!!! Sabar!!! Ini Mami juga sedang buatkan susunya Dzakki! Tangan Mami kepanasan nih kena air panas!" bentakku kesal.
"Boy tidak punya salah! Kamu saja yang salah karena keteledoran sendiri! Kenapa anak yang dijadikan pelampiasan?"
Ditariknya botol susu milik Dzakki yang ada di tanganku. Dengan cekatan Roger membuang air dalam botol setengah dan menambahkan air lagi hingga suhunya menjadi suam-suam kuku. Lalu memasukkan beberapa sendok takaran ke dalamnya.
Aku yang termenung kagum memperhatikan Roger diam-diam.
Pria yang seusia denganku itu mendelik ke arahku. Lalu mengambil tubuh putraku yang tergeletak di atas ranjang kedalam dekapannya.
"Ayo, Boy... kamu sama Ayah aja! Mamimu orang jahat! Biar dia tenggelam sendirian dalam kejahatannya!" umpatnya terang-terangan menyindirku.
Aku memang jarang membuatkan susu Dzakki Boy Julian, putraku. Biasanya bi Tini yang menyiapkan. Aku tinggal memberikannya pada Dzakki. Bi Tini sedang pergi ke pasar tradisional dan belum pulang.
__ADS_1
Aku masih enggan bermanis-manis pada Dzakki. Karena masih terasa sakitnya hati ini bila mengingat perjalanan hidupku.
"Kau pikir cuma kau yang sakit hati ditinggalkan Om Jo? Kau pikir hanya kau seorang yang benci mantan suamimu yang lahir dari rahim tanteku sendiri? Huh!! Fikiranmu terlalu picik! Mainmu kurang jauh! Baru segitu saja ujianmu, kau merasa hidupmu hancur hingga seenak udelmu juga mau mengabaikan amanat Tuhan yang sudah kau dapatkan! Orang bodoh itu namanya!"
Aku tercekat. Kata-kata Roger yang terus membombardirku membuat terbuka juga hati dan fikiran ini.
Aku malu. Pada tingkahku yang labil dan kekanakan. Membuat anakku lebih sengsara karena menyalahkan bayi yang baru lahir kedunia.
"Hik hik hiks... Maafkan Mami ya, Nak! Maaf... Mami bukan Ibu yang baik ya, Dzak!" ucapku setengah berlari menghampiri Dzakki yang anteng menyusu dalam dekapan Roger.
"Dzak, Dzak! Emangnya anakku namanya Rodzak! Panggil 'Boy', jangan Dzak! Kalau mau panggil nama semuanya Dzakki Boy!"
Aih? Siapa pula yang mengandung dan melahirkannya??? Kak Jo pun tak se-protectif dia!
"Siniin anakku!" pintaku pada Roger.
"Siapa bilang dia anakmu? Aku yang adzani Boy! Sekali lagi kudengar kamu marahin Boy-ku! Kutempeleng kepalamu!"
Aih??? Roger???
Antara bingung dan ingin tertawa, Roger membuatku jadi ambigu dengan kata-katanya.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1