
Viona cukup tenang menjalani kehidupan barunya sebagai seorang single woman.
Hari demi hari bercengkerama santai dengan para bocah yang menjadi pelanggan setia dagangannya, adalah rutinitas keseharian Viona kini.
Di rumah seharian, kadang pergi ke pasar rakyat yang tak jauh dari rumah kontrakan untuk membeli barang dagangan yang kurang. Karena sebenarnya Viona memang membeli gerobak franchise yang sudah lengkap berikut peralatan dan dagangan.
Namun harga yang bisa ditargetkan membuat gerainya sepi. Maklumlah, usahanya di teras rumah kontrakan yang rata-rata menengah ke bawah. Otomatis dagangannya yang seharusnya dijual lima belas ribu itu, Viona banting menjadi lima ribu saja. Dengan mengurangi takaran serta ukuran cup yang lebih kecil.
Juga menambah dagangan sosis bakar, roti bakar, dan makanan siap saji lainnya yang tak membutuhkan waktu serta tenaga dalam proses pembuatannya. Secara ia tengah mengandung buah hati cintanya dengan Delan.
Ira kadang membantunya di hari libur. Firman masih sering menyambangi meski mulai jarang dan tak se-intens dulu.
Jonathan juga menjaga jarak seperti permintaan Viona walaupun kadang pria itu masih sesekali men-chat dan mengamati Viona dari jarak jauh tanpa Viona ketahui.
Ini adalah minggu ketiga Viona mengontrak. Berarti sebentar lagi kandungannya akan memasuki usia bulan ke-tujuh.
Atas saran Jo, Viona mengganti nomor kontak pribadinya. Jadi Herdilan dan keluarganya sama sekali tak dapat menghubunginya termasuk papa Bambang.
Mama Tasya juga sudah sebulan mendekam di tahanan dengan tuduhan pembunuhan berencana.
Kini fikirannya tak lagi tertuju pada keluarga aneh yang membuat hidupnya jadi seperti ini.
Namun Viona tak menyalahkan sepenuhnya pada mereka. Ini sudah suratan takdir Tuhan untuknya. Viona berusaha menerima dengan lapang dada.
Hari ini Ia berniat menyambangi kuburan kedua orang tuanya di pemakaman umum Kalibata. Sudah lama Viona tak ziarah.
Dengan taksi online yang Viona pesan, ia meluncur ke tujuan. Viona pasti selalu menangis terisak sembari mendoakan Ayah Ibu di atas pusara mereka.
Seperti mimpi, Viona yang seumur hidup tinggal bersama kedua orang tua kini harus merasakan dinginnya hidup tanpa mereka.
Semua terasa berat. Sangat berat bahkan di awal mula. Viona selalu di bantu Ibu serta di tolong Ayah. Hingga menikah pun, apa saja kesehariannya selalu ia diskusikan pada sang Ibu.
Tapi kini... Disaat dirinya tengah mengalami goncangan hebat, kehancuran rumah tangga dan juga mengandung putra pertamanya... justru Viona harus fight seorang diri tanpa suami dan orang tua.
Bersyukur sekali ada orang-orang baik yang selalu mendukung dan mensupportnya sampai saat ini. Ya. Mereka adalah Ira Lupita, Firman Setiawan dan Jonathan Lordess.
Pusara Ayah Ibu basah oleh air doa. Juga ada taburan bunga mawar merah di atasnya.
__ADS_1
Seperti ada yang baru saja mendatangi! Siapa???
Viona membatu memperhatikan jejak kaki yang tertinggal di tanah pekuburan.
"Ada yang menziarahi Ayah Ibu, siapa ya? Apa Om Tama? Tante Widya?" gumam Viona pelan.
Dihubunginya kerabatnya itu, tapi kedua adik sang Ibu tidak mengakui kalau telah menziarahi orang tuanya.
Siapa ya? kata hati Viona penasaran.
Alhasil, ia akhirnya kembali fokus pada makam. Membuka buku yassin kecilnya dan membuka bungkus plastik berisi air mawar serta bungkusan koran berisi kelopak bunga mawar yang dia beli di depan gerbang pemakaman umum itu.
Viona mengaji dengan khusuk. Mengirimkan doa-doa ketenangan dan juga keselamatan di alam kubur untuk kedua orangtuanya.
Kini ia hanya bisa pasrah pada ketentuan Allah Ta'ala. Menjalani hidup kedepannya dengan baik dan lurus. Itu saja keinginannya.
Treeet... treeet... treeet
"Halo, Kak Jo!?"
...[Viona kamu dimana?]...
...[Bisakah kamu ke rumahku setelah dari sana?]...
"Hm... Oke, Viona akan kesana nanti!"
...[Aku tunggu, ya!?]...
Klik.
Hhh...
Viona menghela nafas. Melanjutkan lagi membaca ayat-ayat suci yang tinggal sedikit lagi.
Selesai sudah. Disiramnya perlahan air mawar dan ditaburkannya kelopak-kelopak bunga. Harum menyeruak seketika. Membuat hatinya lebih tenang. Tuhan telah menjaga kedua orang tuanya. Dan pasti dirinya juga.
Seperti janji Viona, ia meluncur langsung ke kediaman Jonathan Lordess.
__ADS_1
"Viona! Viona!!!"
"A-ada apa, Kak?"
Viona terkejut melihat Jo berurai airmata. Berlari menyambutnya lalu memeluk erat tubuh Viona.
"Kak... Apa ada masalah?"
"Tania meninggal dunia! Aku baru saja mendapatkan kabar dari Fika! Hik hik hiks..."
Viona kembali merapatkan pelukannya. Tak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya airmata yang tumpah ruah, membanjiri pipinya.
"Hik hik hiks..."
"Bukankah kesehatan kak Tania baik-baik saja? Hanya kakinya yang bermasalah?" tanya Viona hati-hati sekali. Khawatir membuat hati Jonathan semakin galau.
"Kata dokter jantung Tania colaps! Aku akan segera ke Singapura, masih menunggu Roger karena dari kemarin ia pulang ke Indonesia setelah merayakan kelulusan wisuda S2 nya di Amsterdam. Christian dan Melody sudsh berangkat setengah jam yang lalu. Tania akan dimakamkan di Singapura!"
"Sekarang kak Roger kemana?"
"Entah! Anak itu memang sangat tertutup. Tapi aku sudah memberitahukan lewat telegramnya!"
"Om!!! Om... Apa benar Mama meninggal, Om???"
Viona dan Jonathan langsung menoleh ke arah datangnya suara.
"Ayo, Roger! Kemasi semua barangmu! Kita ke Singapura sekarang!"
"Papa... Papa gimana? Dimana dia? Apa sudah diberitahu?"
"Ga usah urusin dia! Yang penting kalian anak-anaknya, harus ada di sana! Viona! Aku akan pergi dengan Roger, kamu sebaiknya untuk beberapa hari ini tinggal dulu di sini! Karena pastinya setelah ini, akan ada berita yang lebih besar lagi! Tunggu saja!"
Viona ternganga melihat dan mendengarkan perkataan Jonathan.
Kedua pria tampan beda generasi itu pun pergi meninggalkan Viona yang masih terpaku. Wajahnya masih basah oleh air mata. Tapi... hatinya terasa hampa karena tak bisa mendampingi Jonathan mengurus kakak tercintanya.
__ADS_1
Ini bagaikan mimpi buruk bagi Viona.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...