
Roger menelpon Kenken. Memintanya untuk membawa Viona sekarang juga ke rumah kakaknya.
Roger juga menelpon Viona setelahnya. Mengatakan kalau Viona harus siap-siap membawa beberapa pakaian ganti juga untuknya dan Dzakki.
Ia mengabarkan kalau mereka akan ikut serta ke Suryalaya menjemput sikembar di pesantren sana.
Tanpa basa-basi dan menunggu pertanyaan Viona yang pastinya banyak, panjang dan lama, Roger langsung mematikan ponselnya.
Christian juga sudah bulat tekadnya. Akan membuka cerita pada Lody atau Mutia Permata Melody, istrinya tentang persoalan yang kini sedang mereka hadapi.
Treeet... treeet... treeet
"Ya hallo, waalaikumsalam! Wh What? Really? O my God!... Oke, oke! Oke, kumohon, please... tolong tangani dulu semampu kalian! Aku gak bisa bergerak sekarang! Ada hal yang harus aku kerjakan dulu saat ini! Hhh... Oke! Tolong kabari semua bagian accounting juga lawyer kita segera! Yup. Aku mungkin besok siang baru bisa ke kantor! Sorry, Win! Forgive me,...!"
Hhh... Chris menghela nafas panjang.
Tatapannya sedikit suram dan kosong.
"Kenapa? Ada masalah?"
"Tenderku mengalami kerugian besar!" jawabnya singkat. Tapi membuat Delan dan Roger diam membatu.
Tender besar itu bukan usaha ratusan juta, tapi bisa mencapai puluhan miliar bahkan ratusan.
Seketika jantung mereka kebat-kebit tak karuan.
Dzakki hanya bisa mematung. Ikut merasakan aura yang tak enak disekitarnya perihal perusahaan Papa Christian.
Sementara itu Viona langsung meluncur menuju kediaman Christian.
Hatinya diliputi banyak pertanyaan. Seolah ia merasakan adanya masalah yang sedang ditutup-tutupi suaminya.
Namun tiba-tiba, Viona merasa bagian bawah tubuhnya mengalami sesuatu...
Ia meraba pangkal pahanya yang perlahan basah. Ketika ia melihat lalu mencium, ada aroma amis darah segar yang keluar dari kemal*annya.
"Apa ini???" pekiknya kaget.
__ADS_1
Pucat pasi wajahnya.
Ia tak merasakan sakit pada bagian perutnya. Dan tak memiliki keluhan juga selama ini. Namun tiba-tiba,...
"Kak Ken!!! Aku... aku pendarahan!" teriak Viona membuat Kenken ikutan bingung tingkat tinggi.
"Gimana ini? Gimana?" tanyanya cemas, sembari sesekali menoleh ke arah Viona yang duduk di jok belakang.
"Ke Rumah Sakit dulu!" tukas Viona berusaha berfikir jernih.
Mereka berbelok arah menuju rumah sakit besar.
Sementara Viona ketakutan sekali mendapati keadaan yang sedang ia alami kini.
"Ya Allah ya Tuhan!!! Ya Allah,... jangan sampai janinku kenapa-kenapa! Ya Allah!!!"
Viona bergumam sendiri. Berdoa penuh harap agar Tuhan senantiasa menjaga kandungannya.
Yang ia herankan, keluar darah banyak tapi dirinya tidak mengalami kesakitan sama sekali. Bahkan kondisi tubuhnya pun tak terasa lemas apalagi lemah.
"Telepon Boss Roger, Vi!" kata Kenken dengan kecemasan yang makin meningkat.
Ia segera menelpon sang suami.
"Hallo, hallo, Mas! Mas... aku sekarang balik arah ke rumah sakit Tarakan!"
...[Kenapa ke rumah sakit, Yang?]...
"Aku pendarahan!"
...[A-apa???]...
Viona mematikan ponselnya. Kembali memeriksa bagian bawahnya yang rembes basah seperti orang mengompol.
"Hik hiks...! Ya Allah... Jagalah kami ya Allah!"
Kini pertahanannya perlahan runtuh. Airmatanya luruh dan jatuh.
__ADS_1
"Viona, Viona! Please semangat! Jangan down!!! Hei, hei... aku akan menyetir lebih cepat lagi! Ayo berfikir yang baik-baik! Baca surat An-Nas!!!"
Kenken berusaha menge-push istri bossnya yang ia anggap adik sendiri itu.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Berharap agar segera sampai pada tujuan.
...........
"Viona pendarahan!!!"
Roger tak bisa menahan kekhawatirannya.
Ia segera mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di meja kerja sang kakak.
"Roger, minum dulu! Tenanglah!"
"Mana mungkin aku bisa tenang! Istri dan calon anakku sedang menuju rumah sakit!!!"
"Aduh!!!"
Christian, dan kedua saudara serta keponakannya terkejut mendengar suara teriakan Mutia dari arah luar.
Mereka segera berjalan cepat keluar. Melihat apa yang terjadi dalam waktu bersamaan ini.
Mutia berlumuran darah tangan kirinya. Membuat Christian melompat ke arah istrinya.
"Kenapa, Yang?" pekiknya sangat cemas.
"Terkena pisau daging, Mas!"
Seketika suasana menjadi bertambah kacau.
"Aku berangkat dulu! Maaf, Viona juga pendarahan!"
Dzakki hanya bisa menangis melihat keadaan disekitarnya yang menjadi huru-hara.
Bocah itu bisa merasakan kalau ada kekuatan gaib yang sengaja dilancarkan seseorang untuk menyerang mereka semua.
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...