PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 74 Maduku Mendatangi Rumahku


__ADS_3

"Kamu dari mana, Viona? Kenapa teleponku gak di angkat?"


Aku turun dari taksi online dan langsung diberondong pertanyaan Delan. Ini baru pukul delapan dua puluh tiga menit. Tapi dia seperti kebakaran jenggot.


"Kamu itu sedang hamil muda, jangan pergi sembarangan sendirian! Aku gak mau kamu kenapa-napa!" tuturnya masih terus membuntutiku masuk kedalam rumah.


"Dari rumah Ayah Ibu, Mas! Aku kangen mereka. Aku ingin sendirian mengenang Ayah Ibu."


"Tapi setidaknya kamu bisa kabari aku khan, Vio!?"


"Apa istri sirimu juga suka mengabarimu jika pergi kesuatu tempat?"


Dorrr.


Kata-kataku ibarat mata peluru yang menembus jantungnya hingga Delan langsung terdiam membisu.


"Viona!"


"Atau kamu sebenarnya senang bukan, kalau aku tak menghubungimu terus? Kamu bisa bebas bersama selingkuhanmu itu! Iya khan? Bahkan kalian dengan tenangnya bisa menikah di belakangku. Bahkan beralasan banyak kerjaan yang tak bisa kau cancel. Huh!"


Entah mengapa hari ini aku sensi sekali. Terlebih melihat wajah suami yang seolah menyelidik kemana aku pergi. Padahal seharusnya akulah yang menyelidik dirinya yang telah melakukan poligami.


"Vi! Bukan begitu maksudku. Aku hanya khawatir sama kamu juga sama calon anak kita!"


"Kamu selama ini gak pernah khawatirin aku. Justru kamu lebih menjaga kandungannya si Lady ketimbang menjaga perasaanku!"


"Hhh... Tumben hari ini kamu emosi tingkat tinggi sama aku? Tapi fine, it's okay. Hormon kamu lagi tinggi karena ada si dedek di perut ya? Hm... Moga jadi anak baik ya sayang!?"


"Kuharap tidak seperti..."


Ups... Hampir aku kesal berlebihan dan keceplosan. Tidak! Aku masih harus menahan semua rasa benci dan sakit di hati ini. Karena masih banyak yang ingin kak Jo dan aku buka dari kejahatan demi kejahatan mama Tasya. Kami perlu membuktikan semua sehingga tidak hanya sekedar fitnah belaka.


Kalau aku kebablasan kesal hingga fatal membuka kedok mamanya sekarang, semua rencana bisa buyar.


"Apa, Viona?"

__ADS_1


"Sudahlah, Mas! Aku capek. Tak mau berdebat lagi!"


"Iya. Maafkan aku, Vi! Semua khilafku dan salah langkah yang kuambil. Aku janji akan segera menyelesaikan urusanku dengan Lady Navisha!"


"Terserah Mas saja! Aku lelah, mau istirahat!"


Malam terasa lebih panjang karena kekecewaanku yang teramat dalam. Suami yang kukira pria setia, ternyata sama seperti kucing liar yang lapar dan suka pemakan segala. Hhh...


............


Ting tong


Ting tong


Ting tong


Siapa malam-malam begini membunyikan bel rumah sampai berkali-kali.


Aku beranjak bangkit dari ranjang. Kulirik Delan yang sangat lelap tidur di sebelah.


"Siapa, Bi?"


"Katanya perlu sekali ketemu Tuan dan Nyonya! Perempuan, Nyonya! Namanya Lady katanya!"


Deg.


Mau apa perempuan sundal itu mendatangi lagi rumah ini? Di jam seperti ini pula. Ganggu banget!


"Viona!"


"Mau apa kamu datang ke sini?" tanyaku ketus.


"Mas Delan mana? Mas Delan sudah dua hari tak menjawab japrianku juga tak menengokku!"


"Cih! Perempuan jablay! Untuk itu kau sampai mendatangi rumahku?"

__ADS_1


"Viona, aku berhak meminta hakku dari mas Delan. Aku juga istrinya, sama sepertimu!"


Ya Tuhan! Lady benar-benar perempuan tak tahu malu sekali!!!


"Hahaha... Hak? Hak istri siri ingin di samakan dengan istri sah? Mimpi kamu!!!"


"Aku ini sama-sama perempuan sepertimu. Yang dirugikan itu adalah kita, para perempuan. Dan mas Delan itu wajib adil. Padamu juga padaku. Apalagi aku sedang mengandung!"


"Apa mas Delan dan Mama Tasya tidak memberitahumu, kalau aku juga sedang hamil tiga bulan. Mau empat bulan kini!"


"Ya berarti posisi kita sejajar saat ini. Kita sama-sama sedang hamil jalan empat bulan!"


"Aku hamil anak mas Delan. Kau? Apa itu benar-benar anak dari suamiku? Kau terbiasa pergi ke pelukan laki-laki sana sini!"


"Hei, Viona! Aku tak semurah fikiranmu! Aku juga milih-milih untuk memberikan tubuhku seperti penilaianmu!"


"Aku tidak menilaimu. Apalagi memberimu nilai rendah! Kau sendiri yang membuat orang menilai harga dirimu yang obralan! Kau merusak rumah tangga orang tanpa fikir panjang. Kalau bukan di obral, apa itu namanya? Hah?"


"Ada apa berisik sekali malam-malam?"


"Mas Delan! Hik hik hiks..."


Aku menoleh seketika. Buaya jantan dan buaya betina sudah berani menampakkan batang hidungnya di hadapanku.


Cuih! Kita lihat sampai dimana keberanian mereka bermesraan di depanku.


Lady maju menyongsong tubuh Herdilan. Namun sayang, pria itu mendorongnya hingga mundur kebelakang.


"Mas...! Aku dan dede bayi di perut ini kangen sama kamu, Mas!"


"Mau apa kamu sampai berani ke rumah ini?" tanya Herdilan dengan wajah pucat pias. Malu mungkin jika di hadapanku.


Cuih! Cuh! Sungguh ingin kuludahi wajah sundal-sundal itu, kalau aku tak banyak-banyak istighfar.


Aku hanya tersenyum muak. Lalu pergi kembali ke kamar meninggalkan drama percintaan dua bangsat dan bajingan itu.

__ADS_1


Lihat saja nanti, pembalasanku wahai para manusia rendahan!


__ADS_2