PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 234 POV FIKA


__ADS_3

Aku sangat membenci tante Tasya. Sangat, sangat benci.


Dulu aku menyukainya. Teramat menyukainya.


Bahkan saat usiaku berumur empat tahun, aku selalu sesumbar ingin menjadi artis seperti tante Tasya.


Cantik, tenar, dan banyak uang. Fotonya ada dimana-mana. Bahkan kadang juga masuk TV dengan banyak fans panatik disana-sini.


Kubayangkan diriku bak Cinderella. Cantik jelita luar biasa dengan banyak talenta.


Bahkan hampir aku masuk sanggar demi ingin tercapai cita-cita seperti yang ia lakoni saat itu.


Hhh... Ternyata, dia adalah pelakor. Bahkan yang lebih sadis adalah... Papakulah orang yang direbutnya dari Mama.


Gila! Gila! Gila!


Edan!!!


Ingin kuludahi muka cantiknya yang ternyata hanya topeng belaka.


Jijik aku melihatnya kini. Percuma dia cantik, baik hati bak bidadari karena rajin sedekah dan suka menyumbang yayasan panti asuhan, kalau ternyata kelakuannya minus parah.


Dia hanya akting. Berpura-pura baik untuk menutupi kelakuan busuknya pada keluarga kami.


Namun anehnya, Mamaku tetap saja menganggapnya saudara.


Saudara busuk macam itu, sebaiknya dibakar hidup-hidup. Kremasi tubuhnya, buang abunya di lautan penuh ikan piranha. Hhh... Kesal aku!


Terlalu panjang jika kuceritakan semua sepak terjangnya. Yang pasti hati ini sangat benci padanya dan juga putra tunggalnya.


Bisa-bisanya menipu dan membohongi Mama dengan melahirkan bocah songong, tolol dan narsis seperti itu tanpa punya rasa bersalah sama sekali.


Apalagi ternyata kuketahui anaknya juga pelaku poligami. Dan sadisnya juga melakukan hal yang sama seperti Papa. Menikah lagi tanpa izin istri pertama.


Ya Tuhan! Karma apa yang menimpa keluargaku!?


Untungnya, mantan istri pertamanya itu kini ada di pihak kami. Dibawah naungan almarhum Jo dan kini diteruskan dalam pantauan kakakku. Hhh...


Keluarga yang aneh, bukan?


Jangankan orang lain, Aku sendiri bingung dan stres memikirkan benang kusut keluarga kami ini.


Pusing memikirkannya.


Ya, sudahlah ya. Aku sekarang tak mau juga hidup dengan memendam dendam.


Selain berimbas bagi kesehatan mentalku, juga ternyata berkaitan juga dengan aura serta karier dan jodohku. Kata kak Christian.


Eh? Entahlah.

__ADS_1


Kakakku yang satu itu memang sangat aneh. Pendiam parah, tapi sekalinya ngomong... selalu tepat dan benar.


Aneh.


Apakah ia memiliki ilmu kebatinan atau apalah itu, aku sendiri tidak tahu. Juga tak pernah melihat gelagat aneh dari kakakku itu. Mungkin hanya kebetulan saja ucapannya benar. Atau mungkin kak Chris memiliki rasa sayang mendalam padaku sebagai seorang adik hingga seperti kontak batin dan chamistry yang kuat.


Seperti itulah kakakku.


Bahkan sikapnya yang seolah kini mendukung musuh bebuyutanku membuat aku sedikit muak.


Memang ucapan kakak benar.


Hidup kita terkungkung dengan dosa-dosa dendam dimasa lalu. Terus dan terus terngiang jika mengingat itu. Namun... aku hanyalah manusia biasa. Aku belum mampu menghandle amarahku. Belum bisa menstabilkan fikiran labilku.


Hhh...


Hingga suatu ketika, semua seolah kembali ke masa lalu. Tapi kini dengan jalan kebaikan.


Tante Tasya dan juga anaknya seolah Tuhan dekatkan kembali pada kami. Entah. Apa karena kak Christian, atau takdir yang Tuhan berikan. Kini semua seperti terbuka lebar untuk mereka masuk kembali kedalam kehidupan kami.


Berawal dari si Herdilan.


Nyaris baku hantam dengan kak Roger karena urusan Viona. Tapi kudengar kabar dari kak Lody, justru anak itu hancur babak belur kena hajar Viona. Mantan istri pertamanya yang kini sedang dipepet kak Roger.


Haish! Pusing kepalaku memikirkan otak-otak para lelaki itu.


Hm... Herdilan juga saudara tiriku. Sebenci apapun aku padanya dan sang Mama. Ya tetap saudara tiri meski beda ibu.


Hadeeeuh!


"Hoek! Hoek...hoek!"


Aku merasa tubuhku sangat lemas. Mataku berkunang-kunang, kepalaku pusing tujuh keliling.


Rumah kak Christian sepi. Kak Lody ke Bandung, kak Chris ada di Bogor. Hanya ada dua orang asisten rumah tangga dan yang satunya justru pulang di sore hari kerumahnya karena begitu perjanjiannya.


Tiba-tiba...


"Fika, mari kita ke rumah sakit!"


Mualku makin parah. Muntahku makin sering. Mungkin karena rasa kesal dan rasa sebal melihat kehadiran si Tasya Jessica itu dikediaman kakakku.


Aku tak menghiraukannya. Aku berusaha mengabaikannya.


Namun dia tak bergeming. Justru menyodorkan segelas air hangat untukku setiap kali aku muntah, guna menetralisir rasa enek-ku.


Tasya juga memijat lembut tengkukku. Mengusapkan minyak kayu putih dengan perlahan disekitar leher dan bahuku.


"Yuk kerumah sakit?" ajaknya lembut.

__ADS_1


"Mau apa kamu? Mau meracunku seperti Mamaku? Mau aku mati segera?" umpatku disela tangisku menahan sakit dan kebencian hati ini.


Tapi tubuhku terlalu lemas tak berdaya.


Hingga aku terbelalak mendengar ancaman lembutnya. Yang memintaku memilih, ikut dia ke RS atau dipanggilkan ambulan agar aku diangkut segera ke rumah sakit.


Sepertinya dia tahu kelemahanku! Dasar perempuan sundal! Aku mwmang phobia suara sirene ambulan sejak masih kanak-kanak. Rasanya takut sekali. Bahkan dengan menyebut nama ambulan saja, bulu kudukku sudah merinding. Umpatku dalam hati.


Akhirnya aku mengikuti sarannya dengan terpaksa.


Dokter yang menanganiku mengatakan kalau aku terlambat satu jam saja ke rumah sakit, tubuhku bisa drop dan langsung masuk ruang ICU gawat darurat akibat kekurangan cairan.


Beruntung aku hanya perlu tambah cairan kristaloid atau NaCI 0,9% satu kantong saja. Setelah habis dalam satu jam lebih, aku bisa pulang kembali ke rumah.


Aku sangat takut rumah sakit. Sejak Mama dirawat beberapa minggu dan meninggal dunia, kemudian disusul Papa, aku trauma pada bangunan itu berikut alat-alat rumah sakit.


Tante Tasya cukup cekatan dalam merawatku. Dia juga sabar meski perkataanku seringkali menyakitkan.


Perlahan amarahku mulai mereda.


Ia juga menawarkanku untuk istirahat sejenak ditempat tinggal sederhananya yang kak Chris hibahkan pada mereka.


Aku awalnya enggan. Gengsi dong kalau aku harus terus merasa membutuhkan bantuannya. Tapi mengingat rumah kak Chris yang sepi tiada orang untuk dua hari kedepan kecuali bi Naya asisten kak Lody, aku akhirnya ikut dia.


Dirumahnya aku diperlakukan bak ratu saja.


Semua makanan lembut ia buatkan untukku. Juga minuman kesehatan, ia sediakan dari ujung meja sampai ujung lainnya.


Tentu aku jadi malu sendiri atas kebaikannya.


Aku bisa merasakan ketulusan hatinya saat ini. Dan semoga ini adalah awal perubahan yang baik untukku dan dia kedepannya.


Bahkan ketika azan subuh berkumandang, aku melihat tante Tasya yang tidur di kasur bawah menemaniku sudah duduk di atas sajadah panjangnya.


"Tante...! Fika mau ikut sholat, boleh?" tanyaku malu-malu kucing.


"Tentu boleh, Fika! Mari kita sholat berjama'ah. Mau, seandainya Herdilan yang mengimami kita?"


Aku diam sesaat. Kulihat Herdilan juga telah bersiap-siap hendak ke masjid ujung gang.


"Mari kita sholat berjama'ah!"


Akhirnya aku memulai kebaikanku dengan menerima kembali mereka yang sudah bertobat. Ah, senangnya. Satu beban batinku berkurang. Dan langkah hidupku terasa lebih ringan.


Tuhan saja Maha Pemaaf, masa aku begitu sombong tak mau memaafkan tante Tasya dan Herdilan.


Subuhku semoga menjadi berkah untuk langkahku selanjutnya. Aamiin...


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2