
"Mami, VC Ayah, Mih!" rengek Dzakki membuatku tak bisa menolaknya.
Kucoba tekan calling Ayah Roger dan membiarkan Dzakki yang memegang kendali.
"Ayaaah! Ayaaah... Hehehe..."
...[Hallo, Boy! How are you? Dimana itu? Hei,... kalian ada dimana?]...
Terdengar suara Roger dari layar hapeku.
"Ayah! Mami sama Papa abang Dirga bawa Dzakki ke laut Ancol! Hehehe... tuh tuh lihat ombaknya!"
...[Waah, curang ya Mami! Masa' pergi ga ajak-ajak Ayah!]...
"Hehehe... Ntar kita kesini ya Ayah? Tadinya mau ke Sea World. Tapi sudah mau tutup. Jadinya ke pantai deh! Ayah kapan pulang? Dzakki kangen!"
...[Baru minggu kemarin Ayah pulang, Boy! Nanti tiga minggu lagi kita ketemu ya? Mana Mami?]...
"Itu. Sedang ngobrol sama Papanya abang Dirga! Mami, Mami... ini Ayah mau ngomong sesuatu!"
Aku mengambil handphone dari tangan mungil Dzakki. Mengangguk pelan pada dokter Dirga dan berjalan menjauh agar pembicaraanku dan Roger tidak terdengar olehnya.
"Hallo! Apa kabar?"
...[Ck ck ck... Berani bawa Dzakki tanpa izinku..Bahkan dengan spesies lain jenis pula]...
"Ish! Apa maksudnya coba? Ini dadakan, tau!"
...[Alah... alasan! Oiya, aku kirim karangan bunga berikut sesuatu. Sepertinya sudah sampai di rumah! Happy Valentine, Viona! Have anice day! Jaga anakku baik-baik ya?]...
Klik.
Hhh... Tumben-tumbenan, teleponnya singkat. Biasanya berpuluh-puluh menit. Dan... Eh? Tadi Roger bilang "Happy Valentine"? Tanggal berapa ini memangnya? Koq sudah Valentine aja?
Ya sudahlah ya!
Kumasukkan kembali hapeku ke saku celanaku.
Maghrib berkumandang dari arah masjid yang ada di seberang lautan.
"Ayo, ayo... kita berkemas. Azan Maghrib, sholat dulu! Dzakki, Dirga... ayo!"
Kudengar suara dokter Diandra meminta anak-anak berhenti beraktifitas.
__ADS_1
Aku perhatikan diam-diam. Dokter Diandra ternyata Ayah yang hebat. Dia dengan cekatan mencuci tangan putranya juga putraku.
Membersihkan pakaian keduanya yang penuh dengan pasir pantai.
"Ayo, ayo ke mobil. Ganti pakaian, lalu kita bergegas ke Masjid!"
Aku menghampiri mereka.
"Mami sudah telepon Ayahnya?" tanya Dzakki.
Ia menggenggam erat tangan kananku. Kemudian Diandra juga mendekat dan meraih tangan kiriku. Sama seperti Dzakki.
Bahkan keduanya saling bertatapan lalu tertawa bersama.
Apakah mereka memiliki kontak batin? Sehingga (maaf) meski Dirga agak sulit bicara, tapi Dzakki seolah mengerti apa yang Dirga ucapkan. Sedangkan aku sendiri kadang diam dulu, mencerna setiap kata yang Dirga ucap. Ataukah putraku itu memiliki six sence atau indera keenam?
Kami berjalan beriringan. Menyusuri pantai menuju parkiran.
"Dzakki, pakai baju Abang Dirga, mau?" tanya dokter Diandra. Dijawab putraku dengan anggukan.
Dirga memberikan pakaian bersihnya yang ada di jok belakang mobil pada Dzakki. Dan putraku dengan kerennya mengucapkan terima kasih.
Kami melipir ke rumah ibadah terdekat, setelah Dzakki dan Dirga berganti pakaian di toilet umum yang tersedia.
Musholla sudah sepi. Satu persatu orang meninggalkan tempat suci itu karena telah selesai ibadahnya.
Aku mengambil wudhu, sedangkan dokter Diandra bersama Dirga serta Dzakki di tempat abdas sebelah.
Kami sholat berjamaah. Sudah seperti keluarga saja rasanya. Dan Dokter Diandra yang mengimami kami.
Subhanallah...
Semoga Tuhan memberikan kami kebahagiaan yang hakiki. Yang bukan sekedar kebahagiaan semu dan fatamorgana. Yang juga bukan sekedar Pemberi Harapan Palsu saja.
Aamiin...!!!
Selesai sholat, kami pulang.
Dokter Diandra lebih dulu mengantarku dan Dzakki pulang ke rumah kami. Besok aku jadwal kerja pagi. Dan Dzakki juga sekolah pagi.
Pukul tujuh empat puluh menit, kami baru tiba di rumah. Dokter Diandra sendiri hanya menurunkan kami di depan gerbang rumah saja. Dirga sudah tertidur pulas di jok belakang. Sehingga dia pun izin langsung pulang.
"Waah, yang baru pulang jalan-jalan! Sampai lupa sama Wawa'!" goda bi Tini pada Dzakki.
__ADS_1
"Hahaha... Maaf Wawa'! Iya. Dzakki lupa sama Wawa'. Dzakki ingat Ayah aja! Lupa telepon Wawa'!"
Pintarnya Dzakki-ku!
Bi Tini menciumi pipi Dzakki berkali-kali. Rasa kangennya membludak pasti.
"Bajunya kebesaran, ya?"
"Ini punya abang Dirga, Wa'!"
"Tulisannya 'Lucky'!"
"Iya. Dzakki khan laki. Juga semoga 'lucky' karena artinya beruntung!"
"Wow pintar!" pujiku terkaget-kaget. Bocah umur empat tahun itu sudah sangat cerdas berkata-kata.
"Ayah khan sering bilang begitu, Mami! Dzakki is a lucky boy. That's right, Mami?"
"Of course, my Boy!"
Kami berpelukan. Bahkan bi Tini juga ikutan sambil berseru, "Teletubbies, berpelukan!"
Tawa menggema, pertanda kami sangat bahagia. Semoga bahagia kami bukan hanya hari ini saja, ya Tuhan!
"Vi! Ada kiriman paket juga karangan bunga!" kata bi Tini.
"Iya. Dari Roger! Entah ucapan apa, hehehe... Wisudaku khan bulan depan. Kemungkinan Roger bisa hadir juga!"
Tanggal 12 Februari. Hari Valentine khan tanggal 14 ya? Kalau tak salah. Karena aku sama sekali tak pernah merayakan hari kasih sayang itu, kata orang. Padahal kasih sayang harus setiap hari, bukan?
Eh? 12 Februari... Aku terpaku. Melamun jadinya mengingat tanggal bersejarah itu.
Tanggal pernikahanku dengan Herdilan Firlando. Ayah kandung Dzakki Boy Julian.
Hhh...
Helaan nafas kuterasa sesak. Kutelan saliva guna menetralisir rasa melow yang hadir tiba-tiba.
Aku tak mau mengingat itu. Aku tak mau bersedih. Karena hari ini aku dan putraku sedang berbahagia. Kami bersenang-senang walau tanpa Herdilan.
No no no... Enyah kau fikiran jahat di masa lalu! Jangan ganggu-ganggu aku lagi!
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...