
"Apakah kita tidak bisa bicarakan baik-baik, Pak Yosef? Perusahaan kita sudah menjalin kerjasama lebih dari tiga tahun. Saya rasa, Bapak memiliki penilaian sendiri pada kinerja dan cara penyelesaian perusahaan kami selama ini."
Christian berusaha melobi satu perusahaan besar yang menjadi partner tendernya.
Seorang pria dewasa berusia 56 tahun. Yang tampak tenang duduk manis sambil menghisap rokok elektriknya yang asli buatan luar negeri itu.
"Aku tahu kinerjamu, Chris!"
"Saya mohon kebijaksanaan Bapak sebagai Dirut PT Eagles King!"
"Saya akan menarik kasus ini, tendermu bisa kamu ambil kembali dengan syarat..."
"Ya? Syaratnya apa, Pak?"
"Nikahi Khaila, Putriku satu-satunya!"
Christian terdiam. Ia tak berreaksi apalagi sampai membelalakkan matanya.
"Putriku itu berumur 29 tahun, masih single dan belum pernah menikah."
"Saya sudah beristri dan punya dua anak, Pak! Bapak pasti tidak ingin anak Bapak jadi istri kedua saya, bukan?"
"Ceraikan istrimu! Akan aku beri dia perusahaan besar untuk anak-anakmu juga kedepannya. Lalu nikahi putriku. Kamu akan hidup lebih baik lagi kedepannya. Aku bisa janjikan itu!"
Christian menelan salivanya. Tak percaya rasanya mendengar perkataan santai pak Yosef.
"Bagaimana?" tanyanya lagi.
"Tidak! Saya tidak akan menukar istri dan anak-anak saya demi tender ini!" jawabnya tegas.
"Begitu? Bagimu tidak apa rugi 120 miliar? Bagaimana pendapat beberapa pemegang saham perusahaanmu yang lainnya? Darimana kau membayar uang ganti rugimu? Dengan aset-aset termasuk semua harta bendamu?"
Christian tak menjawab. Ia duduk tegak berusaha membawa dirinya dengan tenang.
"Berapa usiamu, Chris?"
"38 tahun, Pak!"
__ADS_1
"Hanya berbeda 9 tahun dengan Khaila!"
Seorang gadis cantik memakai dress mini berwarna dasar putih dengan corak bunga-bunga kecil beraneka warna masuk ke dalam ruangan
"Papa!"
"Ini Khalia putriku, kenalkan!"
Pak Yosef memperkenalkan Christian pada gadis cantik yang baru saja datang.
"Khaila Aidenia!"
"Christian Suherman!"
"Silakan kalian saling mengenal!" Pak Yosef hendak pergi meninggalkan ruangan ekslusifnya namun segera dicegah Christian.
"Pak, urusan saya dengan Bapak belum selesai."
"Selesaikan dengan Khaila! Putri saya yang kini menghandle semuanya!"
"Sebentar! Saya rasa, saya harus memberitahukan jati diri saya terlebih dahulu kepada Bapak Yosef Tristanto dan Nona Khaila Aidenia. Saya... adalah putra dari almarhum Bambang Suherman. Yang seorang anggota Dewan Tertinggi sebuah partai politik terbesar di negeri ini pada jamannya. Saya rasa, Bapak pernah mendengar kasus yang terjadi pada almarhum Papa saya. Jadi, bisa bapak nilai sendiri bibit, bebet, bobot saya!"
"Kalau begitu saya pamit undur diri! Saya permisi, Pak! Terima kasih untuk waktunya. Dan saya mohon sekali lagi, ada tiga ribu karyawan kami yang nasibnya tergantung dari keputusan Bapak dalam mengambil keputusan. Mohon kebijaksanaannya!"
"Aku serahkan semuanya kepada dirimu sendiri, Christian!"
Christian pergi setelah memberi salam.
Sementara Yosef dan Khaila hanya bisa saling berpandangan.
Gila! Ini benar-benar gila! Mirip cerita ngasal di novel-novel saja! Serampangan sekali dia mau menukar tender ratusan miliar dengan barter anak gadisnya! Bahkan sampai menyuruhku bercerai segala. Ck ck ck... Apa sebegitu berharganya aku, atau ini adalah ujian kehidupanku selanjutnya yang Tuhan beri? Hhh...
Tapi bagaimana caraku membayar semua kerugian gagal tender yang ratusan miliar itu jika aku mengambil keputusan putus kontrak? Hhh... Mumet otakku!
Christian nyaris saja menabrak sepeda motor di tengah jalan karena tidak fokus menyetir kendaraannya.
Bahkan sesampainya di kantor pun, fikiran Chris masih tak karuan.
__ADS_1
Ia berusaha menghitung jumlah kerugian yang ternyata nyaris dua kali lipat dari harga tender itu sendiri karena ternyata pekerjaan yang mereka ambil itu sudah separuh jalan. Dan sudah menghabiskan dana separuh dari tender itu.
"Bagaimana, Pak? Sepertinya... kita benar-benar diambang kehancuran kali ini!" keluh Diana, sekretaris pribadinya yang setia dan sudah bekerja lebih dari enam tahun bersamanya itu dengan suara lemah.
Diana tak pernah pesimis orangnya. Baru kali ini Christian mendengar Diana berkata seperti itu. Padahal perusahaannya pernah beberapa kali dalam keadaan tidak stabil.
"Jangan menyerah! Jangan putus asa! Kita masih bisa berjuang sampai titik akhir, Diana!"
"Iya."
Chris sendiri cukup gugup dan cemas hati. Tapi dia adalah pemilik perusahaan ini. Yang harus berdiri paling depan menghadapi permasalahan yang ada.
Otomatis dia juga harus bisa menenangkan para karyawan yang goncang karena situasi.
"Tolong kabari administrasi juga, untuk menghitung total investasi dan juga aset modal tetap kita. Jangan sampai ada yang terlewat. Aku keluar dulu sebentar!"
Sekretarisnya mengangguk lesu.
Chris harus berjuang sampai akhir. Ia akan mencoba mendatangi beberapa teman dan juga relasinya secara pribadi untuk meminta pinjaman jangka panjang.
Apapun akan ia lakukan, demi mempertahankan perusahaan serta kehidupan kesejahteraan karyawan terutama juga kehidupan rumah tangganya.
Ini hanyalah ujian hidup dari Tuhan. Christian akan selalu berdoa dan berusaha, agar mendapatkan jalan yang terbaik.
Hingga tiba-tiba, Herdilan datang menemuinya. Dan bersedia bekerja apapun untuk membantu perusahaannya.
Christian senang, adik tirinya datang disaat yang tepat. Secara Herdilan seorang sarjana manajemen bisnis pula, dan pernah menjadi CEO dari perusahaan jasa rumah produksi milik sang Mama. Setidaknya, Herdilan bisa menyumbangkan ide, saran dan juga tenaga untuk membantunya.
"Tolong kau bereskan perusahaanku ini, Lan! Aku harus keluar dulu beberapa jam."
"Apa perlu kuantar, Mas?"
"Tak usah, tolong handle dulu kantorku. Kamu bisa bersinergi dengan Diana. Dia sekretarisku! Minta saja data apapun darinya jika diperlukan!"
"Siap, Mas!"
Christian pergi meninggalkan kantornya. Mencari pinjaman ke beberapa temannya sesama pengusaha.
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...