
Tok tok tok
Dzakki termangu ketika membukakan pintu. Matanya menatap tajam pada wajah sang tamu yang berdiri dengan dipapah dua orang kiri dan kanan.
"Kamu..."
"Bapak cari siapa?"
Gubrak.
Pria tua itu menjatuhkan tubuhnya dibawah bocah berusia tujuh tahun itu. Ia menangis layaknya bocil. Menyatukan kedua telapak tangannya sembari memohon pada Dzakki.
"Tolong,... tolong kembalikan kemampuanku, Nak?" katanya disela isak tangisnya.
"Siapa, Boy?"
Roger terkejut melihat seorang bapak tua dengan wajah hitam separuh dalam keadaan duduk bersimpuh didepan putra asuhnya.
"Dzakki!?!"
Ia segera meraup putranya menarik mundur seraya menjauh dari sang tamu yang baru datang itu.
"Bapak cari siapa? Ada perlu dengan siapa?"
"Tolonglah aku, anak ganteng!"
Roger menoleh ke arah pria-pria yang berdiri di kiri kanan bapak tua itu.
Agak ngeri juga ia lama-lama menatap wajah bapak tua yang menangis.
"Bisa tolong Bapak bangun? Mari, silakan duduk di ruang tamu rumah kami. Kita berbincang lebih santai,"
"Jangan! Jangan masuk ke rumah Dzakki!"
"Dzakki! Tidak sopan itu namanya, Boy! Tidak boleh seperti itu!" tegur Roger pada putranya. Wajahnya agak memerah karena malu pada para tamu yang mendapatkan perlakuan kurang baik dari Dzakki.
"Ayah, sebaiknya duduk di teras saja! Jangan di dalam. Kasihan Mami!"
Deg.
Roger seketika tersadar. Dzakki tak kan mungkin bertingkah kurang ajar jika tidak terjadi sesuatu yang diendus putranya sampai berkata kurang sopan seperti itu.
"Baiklah, mari pak... kita bicara di teras rumah saja! Mohon maaf, bukan maksud kami menolak tamu!"
Wajah hitam Mbah Jambrong terlihat menyeramkan sekaligus menjijikkan.
Bahkan perlahan ada sedikit tetesan darah kental semakin membuat aura jahatnya nampak.
"Anak ganteng, aku akui... kamu kecil-kecil cabe rawit. Kalau kamu mau, aku akan menurunkan semua ilmuku padamu!" tutur Mbah Jambrong pada Dzakki.
"Ilmu apa? Matematika, PPkN?"
__ADS_1
Roger yang hanya mengawasi percakapan sang putra dengan pria tua berwajah menyeramkan itu.
"Maaf, saya potong obrolan Bapak. Apa bapak tidak salah alamat? Dan... apakah Bapak juga mengenal putra saya? Bahkan sampai berbicara yang tidak saya mengerti!" sela Roger. Mulai khawatir kalau jawaban Dzakki semakin tidak terkontrol dan dilihat secara umum kesannya sangat tidak sopan.
"Putramu luar biasa. Saya kemari memang inisiatif saya sendiri. Untuk meminta pengampunan anak ganteng yang hebat ini!"
"Anak saya hanyalah anak kecil berumur tujuh tahun kurang. Saya rasa bapak terlalu berlebihan!"
"Bapak harusnya minta ampunan sama Allah. Bukan sama Dzakki!" kini Dzakki yang menyela ucapan sang Ayah pada Mbah Jambrong.
"Dzakki, masuk ke dalam!" perintah Roger namun dijawab dengan perkataan Dzakki yang tegas.
"Tidak, Ayah! Dzakki tidak akan meninggalkan Ayah mengobrol bersama Bapak tua ini!"
Roger hanya bisa menelan ludah.
Agak terkejut juga melihat karakter Dzakki yang jauh berbeda dari biasanya.
Bahkan saat ini wajah Dzakki terlihat tegas dan dewasa.
"Dzakki. Nama yang indah."
"Lupakanlah untuk mengambil roh ibu guru Kartika!" kata Dzakki tegas.
"Bapak tidak akan mengganggu wanita itu lagi, tapi kembalikan semua peliharaan Bapak seperti dulu!"
Mbah Jambrong seperti sedang memohon dan mengiba pada Dzakki.
"Jadilah teman saya. Anak ganteng akan lebih hebat lagi. Saya sangat yakin itu!"
"Dzakki bukan teman Mbah. Dzakki juga tidak mau berteman dengan Mbah. Karena kita beda usia!"
"Iya juga, hehehe... Tapi Dzakki bisa membantu Mbah dalam usaha Mbah. Begitu juga Mbah, pasti akan membantu apapun yang Dzakki perlukan."
"Tidak. Dzakki hanya minta bantuan Allah Ta'ala. Dzakki juga tidak bisa membantu Mbah karena Dzakki memang tidak punya apa-apa untuk bisa bantu Mbah!"
Mbah Jambrong menghela nafas.
Ia garuk-garuk kepala, mulai terlihat kesal dan pusing karena gagal menarik perhatian bocah ingusan yang kini ia akui kehebatannya.
Mbah Jambrong bisa melihat kemampuan Dzakki yang melebihi para pemilik supranatural yang usianya jauh diatas rata-rata seperti dirinya.
Melihat Dzakki secara langsung, otak jahat Mbah Jambrong semakin berkembang.
Ia sangat tertarik bisa membawa Dzakki serta dan bergabung mendalami ilmu metafisika bersamanya.
Dimatanya, Dzakki bagaikan tambang emas yang mampu mendatangkan uang bahkan berlian.
"Bapak sepertinya baru terluka bakar! Sebaiknya pergi berobat ke rumah sakit. Khawatir luka bakarnya infeksi dan mengakibatkan penyakit lainnya. Ini hanya saran saya!" kata Roger berusaha mengalihkan pembicaraan Mbah Jambrong dengan Dzakki putranya.
"Betul kata Ayah Dzakki. Bapak harus berobat, lukanya bisa melebar kemana-mana itu!" timpal Dzakki menambahkan.
__ADS_1
"Tolong jangan ganggu kerjaan Mbah! Dan kembalikan semua peliharaan Mbah yang selama ini Mbah punya."
"Maaf, Mbah! Dzakki tidak bisa dan tidak tahu caranya. Yang Dzakki tahu, kita semua ini milik Allah Ta'ala. Kapanpun Allah mau, semua pasti akan berpulang kembali pada-Nya!"
"Mbah minta maaf, sempat membuatmu marah. Mbah janji tak akan mengusik keluargamu lagi. Terima kasih, Mbah pamit. Tapi Mbah mohon, kalau Mbah main-main ke rumah ini kali, tolong izinkan ya?"
Dzakki hanya menatap mata Mbah Jambrong.
Kini pria tua itu menundukkan kepalanya. Kalah kuat bertatapan dengan Dzakki yang memiliki aura seperti singa lapar dimatanya.
Dia mengaku kalah, tak berhasil melakukan negosiasi pada bocah ingusan yang tak bisa ia sepelekan itu.
Dzakki bukan anak kecil biasa. Tapi luar biasa.
Akhirnya pria tua itu kembali pergi setelah pamit dengan dipapah dua lelaki, masuk ke dalam mobil Avanza warna hitam yang membawanya dari kampung.
Kakinya yang luka terkena sambaran itu masih terbungkus kain kasa. Tertatih-tatih pula langkahnya sehingga harus dibantu dua orang ajudan setianya.
Mbah Jambrong nampak lesu. Beberapa setan siluman yang ia pelihara sedari kecil hilang musnah setelah kejadian tersambar petirnya gubug tempatnya bermeditasi di tengah sawah. Termasuk si gendoruwo yang jadi suruhannya dalam mengangkat usaha bisnis katering bu Jamilah.
Kini ia harus memulai dari awal lagi. Bisnis perdukunan adalah spesialisasinya.
Sedari belasan tahun yang lalu. Itu ia tekuni juga turun temurun dari sang kakek buyut.
Keluarganya rata-rata memiliki ilmu kebatinan. Selain memang turunan, namun ia juga harus senantiasa mengasah terus ilmunya agar bertambah tinggi dan semakin tak tertandingi.
Makanya ia kaget setengah mati ketika ada cecunguk yang tiba-tiba mengusik usaha haram yang sudah digeluti belasan tahun itu.
Apalagi setelah ia telusuri, cecunguk yang semula ia anggap dukun biasa ternyata seorang anak berusia tujuh tahunan saja. Mbah Jambrong terkejut bukan kepalang.
Ia tak mau banting setir lagi jadi petani.
Usaha nandur padi sudah tak jaman lagi. Selain melelahkan dan uangnya hanya recehan yang cukup buat makan saja, ia juga sudah sangat jenuh jadi petani yang identik dicap rakyat jelata.
Ia ingin dihormati dan namanya sohor dikenal orang, sebagai dukun hebat yang bisa mewujudkan keinginan para pasien yang datang meminta pertolongannya. Meskipun itu lewat perjanjian dengan setan, jin dan iblis.
....
"Tadi Mami dengar suara orang di luar, ada tamukah?"
Viona keluar dari dalam rumah sembari mengelus-elus perut besarnya.
"Iya, Mami! Tapi tamunya sudah pergi. Iya khan Ayah?"
Dzakki kini telah kembali seperti biasa. Layaknya bocah usia tujuh tahun, yang ceria dan manja. Bergelendot di pangkal lengan Viona sembari menciumi perut sang Mami dengan gemasnya.
Roger terkekeh. Ia mengangguk mengiyakan ucapan Dzakki.
Kini perlahan ia mulai mengerti, bahwa putranya memiliki kelebihan yang diakui juga oleh orang lain seperti Mbah Jambrong. Tamu yang datang tak diundang tadi.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1