PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 194 POV HERDILAN "Setelah Bertemu Christian"


__ADS_3

Aku kini seperti berada dalam persimpangan. Satu sisi batinku meminta untuk fight kembali mengejar cinta Viona.


Namun di sisi lain aku seperti mendapatkan satu pintu terbuka dari Christian.


Ya. Kakak tiriku itu memberiku sebuah rumah dengan warung sembako untukku dan Mama.


Setelah banyaknya kata, ia memberiku sebuah sertifikat rumah di wilayah pusat. Yang pastinya membuatku jadi mengharu biru.


Bukan karena cintaku mentok di harta. Tidak.


Bukan pula karena disogok rumah untuk menukar hatiku yang condong pada Viona.


Namun... kulihat Christian tulus menolongku dari hatinya, bukan karena ingin tukar guling dengan perasaanku yang dalam pada Viona.


Viona Yuliana.


Istri pertamaku yang tercinta.


Hm... Aku memang bajingan. Aku pantas disebut bangsat.


Setelah menghancurkan perasaan Viona dan melepasnya pergi begitu saja dengan mengandung bayi kami, aku kini dengan tanpa rasa malu malah memikirkannya lagi.


Aku ingin sekali bertemu Viona. Sangat ingin.


Aku ingin bertemu dengan anakku.


Ingin melihat wajahnya. Ingin memeluk tubuhnya. Jika dia perempuan, aku ingin membelikannya sebuah boneka. Jika ia laki-laki, mobilan adalah mainan yang pantas untuknya.


Aku sudah bekerja sebagai kernet bis beberapa hari ini. Berpenghasilan lima puluh ribu per hari. Setiap hari kusisihkan sepuluh ribu untuk kado anakku.


Mungkin butuh waktu yang sangat lama bagiku mencapai keberhasilan. Tapi kini aku mampu berkhayal lagi. Ijazahku telah ada di tangan. Dan satu lagi kemampuanku yang baru kusadari ketika bang Tigor mengeluh soal kondisi tubuh buskota nya yang terlihat dekil dan kucel.


Aku adalah seniman mural. Bahkan sewaktu kuliah aku sering mendapatkan job-job besar menggambar mural di dinding cafe, diskotik, resto hingga lapangan olahraga pribadi seseorang yang direntalkan.

__ADS_1


Aku bisa mencoba memulai usaha muralku lagi. Buka bengkel khusus mural dan grafiti. Akhirnya otakku yang beku karena kebencian hidup, luka masa lalu dan kesedihannya kembali berfikir normal.


Seperti yang kak Christian harapkan. Aku harus jadi orang yang benar.


Aku harus bangkit. Mama juga membutuhkanku. Dan aku wajib mengurusnya di hari tua Mama. Karena siapa lagi yang menjaga beliau selain aku, putra satu-satunya.


Kak Chris sendiri menjaga kedua adiknya dengan baik. Bahkan juga memotivasiku serta membiayai hidup kami selama ini.


Benar kata Mama. Aku harus banyak berterima kasih pada kakak tiriku itu.


Dia-lah dewa penolong kami. Aku dan Mama khususnya.


Mengingat perkataannya kemarin, agar aku tidak lagi mengganggu kehidupan Viona membuatku menahan langkahku untuk mencoba menemui istri pertamaku itu.


...........


Menyusuri rumah pemberian kak Chris, hatiku berdebar setengah mati.


Rumah mungil type 21. Namun kurasa cukup asri untukku dan Mama karena halamannya cukup luas. Masuk garasi satu mobil dan dua motor walau tanpa pagar, karena di sebelahnya sebuah bangunan satu kamar berrolling door menempel dengan rumah.


Masuk kedalam membuatku makin terharu dan mata mulai basah.


Perabotan lengkap bahkan kamar serta dapurnya pula.


Aku terduduk jatuh di lantai keramiknya yang putih bersih. Menangis sesegukan melihat semuanya.


Aku... manusia berdosa yang sangat tidak tahu diri kemarin-kemarin, kini tersadarkan.


Kebaikan kak Chris membuatku bisa melihat arti keikhlasan dan kebesaran hati yang sesungguhnya. Dia-lah manusia paling beruntung yang Tuhan berikan hati seluas samudera itu.


Mamanya, pergi dari dunia ini karena sakit yang kemungkinan besar adalah oleh obat tradisional yang sering Mamaku kirimkan.


Papanya, direbut Mamaku dan juga aku. Kehidupannya sebagai seorang anak harus menjadi cacat dan buruk karen stigma memiliki orangtua yang seorang *pem*bagi cinta.

__ADS_1


Kurasa sakit di hatinya pasti lebih dalam dan lebih besar dariku.


Namun, kak Chris bisa melewati masa-masa suramnya dengan sangat baik dan justru elegan.


Mamaku pun dia rawat. Lalu aku kini, setelah hancur sehancur-hancurnya hidupku... dia rangkul dan dia beri modal hidup kedepannya.


Kurang baik apalagi kak Chris itu padaku?


Kurang peduli apalagi dia padaku sedangkan aku justru selalu memandangnya sebelah mata, bahkan kemarin aku katanya membuat Mama kembali terguncang jiwa.


Kuhapus sisa-sisa airmata di pipi.


Membuka koper yang sedari tadi kak Chris beri.


Mengambil dan memperhatikan lembar demi lembar ijazah-ijazah sekolahku.


Lalu... akta ceraiku. Disitu belum kububuhi tanda tanganku. Karena aku tidak terima digugat cerai Viona. Itu sebabnya aku masih merasa kalau Viona adalah masih istriku. Istri pertamaku. Aku belum pernah mentalak cerainya.


Hhh...


Viona! Maafkan aku, Viona! Maaf...beribu-ribu maaf!


Aku selesaikan satu persatu dahulu. Baru aku akan mendatangi Viona dengan hati yang bulat, tulus ikhlas pada apapun yang Viona lakukan. Even itu dia membunuhku. Aku rela.


Treeet... treeet... treeet...


Kak Christian menelponku lewat hape yang ia beri juga!


"Ya, Mas? Hallo, Assalamualaikum?... A-apa? Mama kembali menggila?? Iya. Aku akan langsung ke rumah sakit, Mas! Makasih, Mas infonya!"


Klik.


Kak Chris menutup telponnya. Dan aku langsung otewe saat itu juga dengan terburu-buru.

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2