PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 19 Apakah Ciuman Itu Termasuk Main Peran?


__ADS_3

Pukul sembilan malam. Bintang di langit balkon kamar Delan bertaburan di awan hitam. Sangat indah mempesona. Bagaikan penutup hariku yang penuh bunga-bunga bahagia, begitu sempurna.


Bibirku menyeringai melihat para bintang.


"Seperti mimpi rasanya!"


"Menikah denganku?" timpal Delan yang masih asyik mengunyah kacang kulit yang ada di salah satu toples.


Aku mengangguk.


Delan mendekatiku. Lalu... tiba-tiba bibirnya menyorong ke arah bibirku. Dan... hap!


Ia ******* bibir mungilku yang penuh. Aroma kacang seketika kurasakan wanginya di bibir ini.


"Akh!!"


Jantungku berdebar tak karuan.


"Kalau seperti ini? Apa juga terasa mimpi?"


Jujur aku bingung. Kami ini menikah tanpa perasaan. Apalagi dengan memulai lewat kata 'pacaran'. Tidak ada yang diproklamirkan.


Namun... melihat gelagat Delan yang berani memagut bibirku dan melum*tnya penuh perasaan hingga terasa akan meledak dadaku. Aku jadi bingung.


"Tunggu!"


Kami berhenti sesaat.


Aku butuh pembuktian 'cinta'nya. Cintakah Delan padaku selama ini?


...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...


POV HERDILAN FIRLANDO



Aku menghentikan 'kegiatan'ku mengul*m bibir seksi Viona istriku.


Perempuan itu mendorong tubuhku hingga kami bergeser menjauh.


A-ada apa?? Mengapa dia menghentikan permainan rujak bibirku? Apa... dia tak menyukainya? Tapi kulihat tadi responnya Vio seperti pasrah menerima. Terlebih ketika kurasakan tubuhnya perlahan menggelinjang menikmati sensasi ciumanku!


Aku, menatap lekat kedua bola matanya yang legam.


"Katakan padaku, apa ini juga 'permainan'?" tanya Viona membuatku tersenyum.


Kuusap anak rambutnya yang terlihat melambai tak beraturan karena semilir angin malam yang menyejukkan.


"Apa pernikahan kita yang sah ini kamu anggap juga suatu permainan?"

__ADS_1


Aku balik tanya padanya.


Sejujurnya aku sudah cukup lama menahan rasa.


Aku mencintainya. Menyukai Viona sejak pandangan pertama. Sejak kami pertama kali menginjakkan kaki di kampus biru.


Pertama kali jumpa, dan jumpa lagi. Keketusannya padaku membuat hati ini makin penasaran. Kenapa Viona selalu sinis padaku. Padahal seingatku, aku hanya ingin berteman baik dan mengajukan pertemanan pun dengan awal yang baik. Tidak ada tragedi di antara kami.


Semakin ku mengenal pribadinya, ternyata... dia memiliki tameng untuk semua pria. Bukan padaku saja.


Ufh. Cukup lega rasanya. Aku tadi berfikir kalau mungkin penampilanku yang acak adul membuatnya illfeel hilang selera.


Ya... Bisa di bilang aku ini cuek dalam berpenampilan. Rambut ikalku kubuat panjang, keriting semrawut kubiarkan. Bahkan Mamaku sendiri seringkali komplein pada keadaanku yang seperti pemuda dekil tidak terawat.


Itu kulakukan sejak aku tamat SMP. Sengaja. Demi menyamarkan diriku yang di kenal orang sebagai putra tunggal seorang seleb tak terkenal di masa lalu, namun pengusaha wanita nomor wahid di masa kini. Ya. Tasya Jessica. Mamaku tercinta. Wanita tangguh yang melahirkanku.


Namun sayangnya, setiap kelebihan pasti juga ada kelemahan. Mamaku ternyata adalah seorang simpanan pejabat teras sedari muda belia. Bahkan... mereka nikah siri demi melahirkanku karena tercipta dari 'cinta terlarang' mereka.


Papaku, Bambang Suherman. Seorang terkenal dikalangan para pejabat serta pengusaha se-Indonesia. Beliau bahkan menyandang titel keren yang paling diinginkan para kawula muda dan tua karena bisa menduduki kursi basah.


Hhh... Bolehkah aku membenci kedua orangtuaku?


Mengatas-namakan cinta, mereka melanglang buana. Mengagungkan cinta suci cinta abadi. Tanpa tolih kalau Papaku sudah beranak istri. Dan cinta mereka bisa dikategorikan sebagai cinta terlarang.


Mama hamil diusia mudanya. Disaat sedang merangkak untuk menaikkan pamornya sebagai artis. Hingga mau tak mau mereka memutuskan menikah diam-diam. Karena Mama berdalih ingin melahirkan dan membesarkan anak yang dikandungnya, yaitu Aku.


Hhh...


Semua yang kuinginkan Mama Papa pasti berikan. Papa, walaupun kami hanya jumpa seminggu sekali...tapi sangat menyayangiku.


Aku seperti seorang putra raja yang suka pamer harta dan juga status strataku yang tinggi sekali. Aku yang muda, tampan anak kaya raya menjadi sombong.


Bahkan di SMP aku mendapat julukan si Mister Arogan. Sampai suatu ketika...


Teman-teman yang jijik dan muak melihat tingkahku melakukan kudeta. Padahal mereka adalah sahabat-sahabat terbaik menurutku.


Aku mereka kerjai dengan mengikatku di hari jadiku yang ke-lima belas tahun.


Dan... mereka juga mengikat beberapa petasan ditubuhku tepat diwajahku.


Mereka satu persatu mengungkapkan kekesalannya padaku. Juga keburukan-keburukanku di masa lalu. Yang sangat menyesakkan dada mereka. Dan aku tercekat mendengar list dosa-dosaku yang banyak itu.


Aku, suka sekali merebut apapun yang menjadi kesayangan mereka termasuk pacar. Aku, yang arogan selalu menyuruh-nyuruh mereka seenaknya bak tuan besar. Aku... juga selalu melemparkan uang di udara demi kesenanganku melihat para sahabatku bergumul berebutan di atas tanah.


Dan yang paling fatalnya... Aku, juga suka berbohong pada guru ataupun orangtua-orangtua mereka demi kebahagiaanku melihat mereka kena marah serta hukuman.


Seketika aku menutup mataku. Mengakui kesalahan-kesalahanku dalam hati. Menerima dan tak lagi berontak, diikat mereka di tiang menara basecamp. Dan teman-temanku bersorak menyalakan petasan itu.


Menguji adrenalinku yang seolah nyawa ini ada di ujung tanduk. Namun aku menerima perlakuan buruk ini sebagai titik balik dalam hidupku.

__ADS_1


Tapi tiba-tiba,... petasan-petasan itu tidak meledak di udara. Dan... ternyata pula...


Duaaarrrrrrr...


Meledak tepat di atas wajah tampanku.


Aku tak tahu lagi apa yang terjadi setelah itu. Yang pasti tubuhku cukup lama terbaring di ranjang rumah sakit dengan cairan infusan mengalir lewat denyut nadiku.


Mama menghancurkan semua kaca cermin di kamarku. Beliau melarangku untuk bercermin. Karena... Aku pasti histeris melihat wajahku sendiri yang menjadi si buruk rupa.


Entah apa yang terjadi pada diriku saat itu. Diusia belia lima belas tahun, kelas tiga SMP.


Peristiwa tragis memilukan itu bahkan sempat Mama blow up ke media demi menyeret para pelaku kejahatan yang notabenenya adalah sahabat-sahabatku sendiri ke meja hijau.


Tapi... demi menutupi semua aib diriku juga kehidupan rumahtangga Papa Mama, semua urung beliau lakukan. Dan aku juga menerima nasib buruk ini. Sebagai karmaku di masa lalu.


Setelah mentalku cukup kuat kembali, dan tubuh ini bisa berfungsi normal lagi, kedua orangtuaku membawaku ke Korea Selatan. Mengoperasi wajahku yang rusak akibat petasan-petasan besar yang tak meledak di udara.


Untungnya beliau adalah orang-orang berpunya. Papa, Mama... dengan mudah mengubah kembali penampilanku bahkan ingin mempermakku menjadi lebih tampan lagi.


Aku menolak keinginan mereka. Cukup aku bisa berjalan tanpa rasa malu dihadapan banyak orang. Itu saja. Dan aku tak ingin menjadi lebih tampan.


Aku berterus terang pada Papa Mama, bahwa teman-temanku begitu karena kelakuan burukku juga.


Makanya sejak saat itu, aku ingin hidup normal bahkan tak ingin menunjukkan jati diriku sebagai anak orang kaya.


...


Kembali lagi ke Viona.


Aku... mencintainya setulus hati. Dan mengagumi sikap serta sifatnya dari kejauhan.


Aku juga menyukai kedua orangtuanya yang sangat hebat menyayangi Viona dengan didikan dan ajaran terbaik.


Sampai, aku sendiri tak tahu kalau Tuhan begitu baik padaku. Tuhan mendekatkanku pada keluarganya. Setelah aku tanpa terduga menolong Viona Yuliana yang pingsan di lorong trotoar basement kampus di awal maba.


Kami dihadapkan pada satu kenyataan,... kehidupan Ayah Viona dan permasalahannya, serta kehidupan Papa Mama juga dengan permasalahan mereka... justru kini menjadi pengikat kami menjadi pasangan suami istri.


"Hei! Herdilan Firlando! Kenapa bengong? Ayo... aku butuh penjelasanmu!"


Seketika buyar semua lamunanku di tepak pelan oleh hentakan tangan Viona ke tanganku.


...POV Delan is Over...


...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...


Aku butuh penjelasanmu, Herdilan Firlando! Jangan diam saja! Kenapa kamu tiba-tiba mencium bibirku dengan begitu intimnya sedangkan di atas anak tangga tadi kau bilang, "untuk main peran"?!? Apakah ciuman itu termasuk main peran?


...โคโคโคBERSAMBUNGโคโคโค...

__ADS_1


__ADS_2