
Hari Senin, tanggal 7 Februari. Hari yang bersejarah dalam hidupku. Seperti tanggal 12 Februari, juga bersejarah bagiku. Karena itu adalah tanggal pernikahanku dan Viona.
Gerbang Lembaga Pemasyarakatan terbuka untukku keluar dari dekaman.
Empat tahun tujuh bulan, telah habis masa tahanan. Dan aku kini murni besih, bebas dari segala hukuman yang telah kujalankan.
Menjadi pesakitan, orang buangan, sampah masyarakat... ternyata benar-benar tidak enak.
Sepi, sunyi, sendiri... hidup dalam bui.
Mendapat cibiran, pandangan sinis serta julid-an. Adalah hukuman yang paling menakutkan bagiku.
Justru berada dalam penjara membuat hidupku tenteram. Jauh dari omongan orang. Juga jauh dari perbuatanku yang tidak beradab ini.
Hhh...
Tuhan benar-benar menghukumku hingga kerak bumi dunia. Bukan alam kubur, tapi aku merasa seperti menjadi makhluk yang tak kasat mata.
Bencikah Tuhan padaku?
Kalau iya, kenapa tak Dia cabut serta nyawaku seperti Papa dan Lady Navisha?
Kenapa hidupku digantung kenyataan teramat pahit seperti ini?
Harta...musnah, tahta... sirna. Wanita... entah kemana!
Hanya seorang diri berteman sepi dan sembilu. Tak punya apa-apa, karena semua telah jadi barang sitaan Pemerintah termasuk aset-aset berharga Mama.
Rumah, mobil, apartemen, motor, perusahaan, habis semua.
Ludes tak bersisa digondol sana-sini.
Mama...! Bahkan Mamaku kini, aku tak tahu kabar beritanya.
Setelah sidang terakhir ketukan vonis hakim yang mendakwaku lima tahun denda potongan masa tahanan, semua berubah.
Hingga aku resmi menjadi tahanan LAPAS Ibukota, tak ada seorangpun yang datang menjengukku.
Satu persatu kuasa hukumku pergi. Para sahabat pengusaha yang kemarin-kemarin merapat, buyar semua entah kemana.
Bahkan... para pekerja, pembantu rumah tangga, supir dan tukang kebun rumah Mama juga tak peduli padaku.
Hari demi hari, minggu berganti minggu, dari bulan ke bulan, bahkan dihari Istimewa sekalipun seperti Hari Raya, tak ada yang mau melihatku di penjara.
Kejamnya nasib!
Meski aku tahu, semua adalah hasil dari benih yang kutanam pastinya.
Dan aku ikhlas menerimanya.
Aku mengakui semua dosaku di masa lalu pada Tuhanku. Aku juga mengakui kejahatanku dan menerima hukuman kurungan menimpaku.
__ADS_1
Aku ikhlas. Sama seperti saat ini, aku ikhlas berjalan kali sampai puluhan kilometer menuju rumah orangtuaku dahulu.
Berharap ada secuil kebaikan untukku di sana. Entah berupa empati, ataupun lowongan kerja. Hanya itu yang kubutuhkan kini, untuk menyambung hidupku setelah keluar dari bui.
Ternyata... menghadapi kenyataan adalah hukuman yang sesungguhnya dari Tuhan.
Orang-orang memandangku sebelah mata. Bahkan mereka seolah tak melihatku dan menganggap aku adalah makhluk tak kasat mata.
Orang yang mengenal juga menolak kehadiranku. Pura-pura sedang dalam keadaan susah dan tak bersedia membantu.
Aku bingung. Galau dan cemas, hendak pergi kemana. Hendak menemui siapa.
Rumah orangtua Viona ternyata sudah dijual. Begitu juga rumah tante Widya yang rumahnya tak jauh dari situ. Kabarnya mereka pindah ke pulau Sumatera.
Sementara barang-barangku, ijazah-ijazahku, serta dokumen penting lainnya milikku, entah kini berada dimana. Dipegang siapa. Aku tak tahu.
Hhh...
Lemas sudah tubuh ini. Gemetar lututku karena belum makan sedari tadi.
Hendak kemana aku kini?
Tuhan...! Aku lebih suka menjadi tahanan. Meskipun makan seadanya yang sering telat pula juga kadang nasinya masih setengah matang, tapi masih lebih baik daripada keadaanku saat ini.
Hanya pakaian yang melekat dibadan. Tiada apapun lagi termasuk handphone juga uang.
Bagaimana aku bisa melanjutkan hidup ini?
Hingga disebuah gang kecil, kulihat seorang pelajar cowok berseragam putih biru. Tubuhnya kurus mungil. Mungkin bisa kumintai sedikit uangnya untukku beli makan.
Kutergap tubuhnya hingga merapat ke tembok.
"Ma ma... mau apa, Bang?" tanyanya gugup.
"Minta duit dong! Bokek nih. Belum makan dari pagi!" kataku membuatnya menggigil dan menyodok saku baju lalu memberikan uang kertasnya padaku.
Lumayan. Sepuluh ribu rupiah. Bisa untuk membeli nasi bungkus di rumah makan sederhana walaupun dapat setengah.
Aku berjalan mencari rumah makan. Membeli makanan sesuai dengan jumlah uang yang kudapat dari anak sekolah tadi.
Perut sudah terisi. Tenaga telah pulih kembali. Lantas, harus kemana kini kupergi.
Menyusuri jalanan trotoar Ibukota yang beku dan berdebu. Sama dingin dan angkuhnya seperti lalu lintas kendaraan yang tiada henti. Macet di sana-sini. Suara klakson silih berganti menandakan batas kesabaran setiap pengendaranya yang belingsatan mengejar waktu.
Seperti aku, dulu.
Sementara kini, aku hanya berjalan kaki. Dengan sandal jepit murahan yang semakin menipis sol bawahnya. Dan khawatir copot karena sudah bertahun-tahun kugunakan.
Mama, kau dimana, Ma? Apakah ada di panti sosial milik Pemerintah, karena kini mama gila? Atau... Mama justru berkeliaran di jalanan tak jelas rimbanya? Ya Tuhan... jangan hukum Mamaku sekejam itu Tuhan!
Kini kupasrahkan jalan hidupku ini pada Tuhan. Kemana kaki melangkah. Dimana diri merebah. Kucoba memahami isi dunia. Dengan segenap kemampuan dijiwa dan pemikiran yang ada.
__ADS_1
Otakku masih belum bisa berfikir jernih. Selain tak punya uang, juga tak ada lagi tempat yang bisa kukunjungi. Aku hanya melamun sepanjang jalan seorang diri.
Hingga...
Sebuah mobil bak terbuka, berhenti tepat dihadapanku. Dan turun seorang pria, sekitar berumur 40 tahunan dengan tergesa-gesa melewatiku menuju belakang pohon besar di ujung trotoar.
Sial*n! Suwe banget gue hari ini. Ditolak sana-sini malah dikasih lihat cabe ijo peyot!
Aku kesal dan mencibir dalam hati.
Lalu menengok ke arah jendela mobil pria yang sedang buang haj*t kecil itu.
Sendirian. Tak ada kenek.
Aku lalu bergegas naik ke atas belakang mobil bak itu. Menarik terpal yang menutupi barang-barang yang dibawanya.
Hap.
Aku masuk secepat kilat kedalam tumpukan plastik berisi pakaian yang ada dalam mobil bak terbuka itu.
Lalu sang sopir yang tadi melipir, pipis sembarangan itupun membawaku pergi entah kemana.
Yang jelas kaki ini tak lagi lelah melangkah. Biar kupasrahkan saja hidupku pada Tuhan Yang Maha Esa. Mau dibawa kemana, dan jadi apa. Terserahlah!
Hingga mobil berhenti pada sebuah bangunan besar. Dan di depannya tertancap papan besar bertuliskan Taman Kanak-Kanak 'RINJANI'.
Sang sopir yang membuka terpal terkejut mendapati keberadaanku.
Dia marah besar dan menghardikku.
"Hei... Kau mau mencuri ya? Ini pakaian olah raga anak-anak sekolah! Kalaupun kau curi juga percuma. Siapa pula yang mau membeli! Sana kau pergi! Sebelum kulaporkan pada Polisi!"
"Maaf, bang! Cuma nebeng!"
"Nebeng, nebeng! Alesan! Minggir kau!"
"Bang! Ajak aku kerja, bang! Jadi kernet pun tak apa. Asalkan aku bisa ikut abang dan dapat uang!" kataku mencoba merendah. Siapa tahu abang ini berbaik hati.
"Sont*l*yo! Aku pun susah ini cari uang. Kenekku saja baru kupecat karena tak ada uang buat bayar. Kau nih, datang-datang minta kerjaan! Minta sana sama embahmu!"
Hhh...
Begini rasanya jadi orang susah. Sakitnya luar biasa dicaci dan dihina.
Seperti bertukar peran rasanya. Mengingat masa jayaku yang dahulu. Dan seolah aku adalah si abang supir yang pongah itu.
Hhh... Dunia berputar. Roda kehidupanpun berputar. Tak selamanya harta, tahta dan wanita ada disinggasanamu. Makanya, harus sadar dirilah kamu!
Umpatan kata hati yang menusuk hatiku sendiri. Membuatku akhirnya berjalan menjauh dari mobil bak terbuka tadi.
Lingkungan suasana sekolah Taman Kanak-Kanak begitu sepi. Secara ini sudah lewat tengah hari. Dan sudah tidak terdengar lagi murid-murid beraktifitas.
__ADS_1
Aku berjalan mengelilingi perumahan sekitar sekolah TK. Menengok kanan kiri, berharap ada seseorang yang membuka pagar-pagar besi yang tinggi-tinggi dan mau menerimaku meski sebagai tukang kebun atau supir barangkali.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...