
Hancur hatiku berantakan. Berserakan bagaikan serpihan cermin yang pecah di lempar batu yang sangat besar.
Bluarrrr
Hancur, remuk,... pecah berkeping-keping di dasar hati yang paling dalam.
Tiba-tiba hujan deras mengguyur tubuhku yang berlari tak tahu arah. Tuhan seperti benar-benar mendramatisir kehidupanku yang porak-poranda ini.
Tuhan! Mengapa kau angkat aku setara bintang di langit, bersuamikan pria tampan, kaya raya dan juga kasih sayang berlebihan. Tapi kemudian dalam hitungan waktu, blasss... kau hempaskan aku kedalam jurang kegetiran hidup yang teramat pahit.
Tuhan!! Sekarang aku harus bagaimana? Sekarang aku harus berbuat apa? Hik hik hiks... Tiada lagi satupun orang yang mendukungku. Untuk apa aku hidup!!!
Pikiranku buntu. Jalanku sudah di ujung. Aku tak mampu berfikir panjang. Benar-benar dibuat tak waras otakku.
Jalanan bahkan terasa sunyi karena hujan begitu lebatnya. Dan aku berlari terus tanpa henti. Menyusuri jalan kompleks perumahan elit yang kiri kanannya rumah-rumah megah berpagar besi dan dinding tinggi-tinggi.
Tuhan! Tuhanku! Aku tak sanggup menjalani hidup ini seorang diri! Ambil nyawaku, Tuhan! Ambil saja aku dari dunia ini. Aku ingin menemui kedua orangtuaku! Hiks hiks... Tolong Aku, Tuhan!
Diantara derainya air mata dan juga rinaian hujan yang semakin deras... Aku tetap berlari menerobos.
Hingga tiba di sebuah jembatan besi... yang airnya mengalir di bawahnya. Membuatku berhenti dan jongkok di situ.
Tangisanku yang besar tak mampu menghalau suara hujan. Aku teriak memaki-maki suamiku, juga mamanya.
Ini adalah konspirasi terselubung yang paling kejam yang aku ketahui seumur hidupku. Jahatnya mereka! Tak punya perasaan!
Air sungai yang deras karena curahan hujan terdengar menderu di bawahnya.
Aku yang sudah gelap mata dan lelah dengan hidup ini, seolah mendapat pencerahan. Bagaikan lambaian tangan seorang malaikat muncul dari balik golakan arus sungai. Dan...
Byaaarrrr
Tuhan! Maafkan aku! Yang memilih jalan ini sebagai pecundang! Aku... tak mampu menerima kenyataan yang teramat pahit ini. Tuhan... Maaf!...
Blubub blubub blubub
Aku masih merasakan sesak nafas yang teramat karena pertarungan kecil dengan arus sungai yang kuloncati.
Mati, itu pilihan terakhirku. Aku lebih memilih menyerah kalah karena rasa takut yang luar biasa menjalani kehidupan selanjutnya.
Walau itu adalah perbuatan DOSA. Tapi... aku tak punya pilihan lain lagi.
.............
__ADS_1
..............
................
"Bodoh! Stupid! Dasar... Kenapa kau sia-siakan hidupmu yang telah Tuhan anugerahi!?"
Mataku terasa sakit ketika kucoba buka. Suara ketus itu membuatku terkejut dan sadar... kalau aku masih di alam dunia.
Sesosok tubuh pria memunggungiku. Entah siapa orang ini. Dari suara, aku tidak mengenali jati dirinya.
Dan dia berbalik dengan segelas air madu masih agak mengepul panas.
Siapa ya pria ini?... Aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat.
"Louisa, sudah sadarkah sekarang dirimu?"
Louisa?... Sepertinya... aku ingat nama yang pria ini pernah sebutkan pula!
"Maaf Tuan! Namaku Viola Yuliana, bukan Louisa," ralatku dengan suara pelan dan serak.
"Aku tahu! Louisa sudah meninggal dunia."
"Tuan..., sepertinya kita pernah bertemu! Tapi aku lupa," ucapku lebih lembut intonasinya. Biar bagaimanapun, dia adalah penyelamatku meskipun aku tak minta diselamatkan pula.
"Di Bali!"
"Ah ya..."
Kami sama-sama terdiam.
Pria itu membantuku bangkit dan menyodorkan gelas yang tadi ia bawa.
"Panggil saja aku Jo. Namaku Jonathan!"
"Terima kasih Tuan Jonathan!"
"Jangan pakai 'Tuan', karena aku bukan tuanmu!"
"I-iya!"
Seteguk demi seteguk air madu yang hangat membuat kerongkonganku terasa lebih baik.
__ADS_1
"Kau ingin bunuh diri, Louisa?"
Aku tertegun mendengar pertanyaannya. Pelan tapi dalam dan menusuk hati. Membuatku kembali teringat pada kisah yang membuatku lupa harga diri. Aku menjadi manusia rendah yang diinjak-injak bagaikan keset dapur penuh lumpur.
Perlahan cairan bening mengalir.
"Menangislah, Louisa! Menangislah! Keluarkan semua beban yang ada dalam hidupmu. Mulai sekarang, aku akan selalu ada di sampingmu! Tak kan kutinggalkan kau selamanya. Maaf! Hik hik hiks..."
Aku menangis semakin keras, entah mengapa perkataan Jonathan membuatku dengan mudahnya membiarkan tangan kekarnya merengkuh tubuh ini dan kami menangis bersama-sama.
Itu berlangsung cukup lama.
Hingga kami tersadar, wajah kami merah dan basah penuh air mata.
Mata Jonathan tampak lembut. Jemarinya menyapu anak rambutku dan beralih ke pipi kiri kananku. Ia menghapus butiran yang tersisa.
"Jangan menangis lagi, Louisa! Aku tidak akan membiarkanmu sengsara lagi. Aku janji. Aku janji padamu!"
Jonathan mengacungkan jari kelingkingnya. Aku bingung tak faham maksudnya.
Ternyata... ia ingin kita saling mengaitkan jari kelingking. Karena ketika tadi aku tak meresponnya, Jonathan menarik jemariku dan menempelkan kelingkingku ke kelingkingnya.
Oh... aku faham maksudnya. Tapi, apakah pria ini agak... kurang sehat fikirannya? Ah tidak mungkin. Pakaiannya rapi dan bersih. Juga... rumah ini, aku dirumahnya kah?
"Tuan Jo! Apakah ini rumahmu?"
"Jo! Jo!... Sudah kubilang, panggil 'Jo', Louisa!"
"Ah iya, Jo! Maaf..."
"Ini rumahku. Kamu aman di sini! Tidak akan ada yang berani mengganggumu. Apalagi menyakitimu!"
"Terima kasih banyak, Jo!"
Aku tidak tahu rencana Tuhan untukku. Yang pasti, hari ini nyawaku ternyata masih ada dalam raga. Tuhan masih ingin aku hidup. Tuhan tidak inginkan aku mati.
Berkat pertolongan Jonathan, aku kini masih harus melanjutkan hidup.
Tapi... aku sejujurnya ingin mati. Tak ingin hidup karena penderitaan yang suamiku lakukan. Apa... aku bisa minta bantuan Jonathan? Tapi melihat Jo yang seperti agak kurang waras karena selalu memanggilku 'Louisa', aku tak berani meminta.
Ya sudahlah. Kita lihat saja nanti perkembangannya. Aku juga tak mungkin terus-terusan tinggal bersama Jonathan. Apalagi setelah tubuh ini kembali pulih. Pasti Jo memintaku pergi.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1