PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 111 KEJADIAN DEMI KEJADIAN MENDEBARKAN


__ADS_3

Aku memulai hidup baruku di usia ke-24 tahun.


Berstatus janda, hamil lima bulan dan tinggal mengontrak pula di sebuah pemukiman padat penduduk.


Semua harta gono-giniku yang kudapat dari perceraian telah kusimpan rapi dalam sebuah tabungan dan juga deposito berjangka atas saran kak Jo.


Ira selalu setia membantu dan menemaniku. Kadang kak Firman sesekali juga menyambangiku bersama Ira.


Hanya kak Jo saja yang seperti menghilang dari pandangan. Bahkan ia pun nyaris tak pernah men-chat ku duluan kecuali selalu intens memperhatikan status What'App-ku yang rutin kubagikan jika hati sedang ingin.


Televisi menayangkan berita penangkapan Tasya Jessica dengan begitu hebohnya. Membuatku, Ira juga kak Firman bersorak bersama seperti suporter sepak bola yang sedang nobar.


Herdilan ternyata masih bersama Lady Navisha. Karena terlihat wajah dua orang itu ada di rumah besar Tasya.


Kak Firman tak berkedip melihat layar kaca yang menampakkan wajah Mutia Permata Melody bersama sang suami.


Aku dan Ira hanya senyum-senyum memperhatikan.


"Cinta mati kayaknya kak Firman ini sama Melody!" ledek Ira membuat orang yang digodanya itu seketika sadar dan memerah wajahnya.


"Istri orang, Kak! Istri orang!" godaku juga.


"Ish... Yang sudah bukan lagi istri orangpun menolakku mentah-mentah!" jawaban kak Firman seperti menohok hatiku.


Aku hanya bisa tertawa lebar. Mencandai dua sahabat setia adalah kebiasaanku saat ini disela-sela rehat kerja mereka.


Ya. Aku memang pengangguran kini. Perusahaan mana yang mau menerima wanita hamil? Apalagi menilik statusnya juga yang baru saja menjanda.


"Muti makin cantik!" gumam kak Firman membuatku dan Ira tertawa ngakak.



Cinta memang buta. Membutakan orang yang sedang jatuh cinta. Padahal jatuh cinta itu sakit. Yang enak itu bangun cinta seperti kak Christian dan Mutia kini. Hhh...


Kak Firman semoga lekas move on. Segera dapat ganti yang lebih baik dari kek Mutia. Kasihan juga aku melihatnya! Tampan saja ternyata tak guna juga!


Hhh...

__ADS_1


Aku tetap berfokus pada pandangan kak Firman yang tak teralihkan dari layar kaca yang memberitakan kebahagiaan Mutia dan Christian atas penangkapan mama Tasya perihal tuduhannya yang ingin membunuh Kak Tania.


Ya, memang. Kak Mutia cantik sekali. Mirip dewi-dewi dari khayangan. Aku yang perempuan saja bisa sangat terpesona, apalagi kak Firman yang pernah memadu kasih dengannya selama dua tahun lebih.


"Andai kalian berjodoh ya?" gumamku tiba-tiba.


Kak Firman menoleh ke arahku. Tersenyum malu seraya berkata, "Pasti Viona mengira aku bucin ya?"


"Engga' juga! Kujustru merasa kakak adalah lelaki istimewa. Cinta kakak tulus pada Mutia. Tapi... ya, mau bagaimana lagi. Tuhan tidak menakdirkan kalian bersama! Seperti hubungan rumah tanggaku dengan Herdilan. Hanya bertahan setahun karena adanya orang ketiga."


Seketika kami semua diam. Merasa aura kesedihan ada diantara kami, Ira kembali meninggikan volume suara televisinya.


Mama Tasya benar-benar apes kali ini. Ia dibawa paksa pihak kepolisian dengan alasan takut melarikan diri dan menghilangkan barang bukti.


Tapi berita panas itu segera berganti ke arah Lady Navisha. Ternyata Herdilan Firlando juga tengah mengurus perceraiannya dengan istri keduanya itu.


Aku bergegas bangkit menuju dapur. Tak ingin telinga ini panas mendengar berita gosip mereka.


Bukan karena cemburu. Tapi karena kurasa memang sudah tak ada lagi hubungan di antara kami. Cukup sudah beban batinku.


"Vi!?"


"Ya?"


Aku terkejut melihat kak Firman ternyata telah ada di belakangku.


"Sedang buat apa?"


"Buat teh manis hangat, Kak! Kakak mau kubuatkan?" tanyaku padanya.


"Boleh! Teh manis buatan Viona, enak!"


"Ish... pujian yang tidak pada tempatnya! Hehehe..."


Kak Firman ikut tertawa kecil.


Ia menarik kursi plastik yang ada di dapur, lalu duduk sambil memperhatikanku. Terang saja kelakuannya membuatku grogi.

__ADS_1


"Hei...! Aku berasa sedang di awasi!" ujarku seraya memanyunkan bibir ini.


"Viona tidak cemburukah?"


Pertanyaan kak Firman membuatku berhenti mengaduk larutan gula dalam gelas teh yang kubuat. Lalu tersenyum sembari menyodorkan gelas itu padanya.


"Cemburu pada siapa?" tanyaku kalem.


"Pada... perbuatanku yang masih mengharap Mutia!"


"Aku ngerti sekali, cinta itu datangnya dari hati. Dan ga mungkin muncul tiba-tiba lalu pergi juga tiba-tiba sesuka hati. Aku suka sekali dengan orang yang menjunjung tinggi komitmennya. Berarti dia adalah orang yang bertanggung jawab pada apa yang telah ia perbuat."


Kak Firman tersenyum dan berusaha meraih jemariku. Tapi kemudian segera kutepis. Karena khawatir omongan orang yang lihat nanti. Bisa bikin salah faham.


"Kamu... mau ga jadi istriku, Viona?" tembaknya langsung kali ini.


Aku hanya menunduk tak berani menatap dua bola matanya.


Entah kali ini tembakan kak Firman tak ada efek sama sekali. Getaran debar di hati tiada terasa. Juga jantung yang berdetak lebih cepat tak lagi ada.


Hanya rasa dingin dan hampa yang kurasa meskipun perhatian kak Firman lebih padaku.


"Kak...! Lebih baik kita bersahabat saja. Lebih nyaman ketimbang kakak memintaku menjadi istri. Maaf,... bukan menolak! Kakak sangat baik, juga sangat tampan. Di masa mudaku jujur aku sangat mengagumi kakak. Tapi kini..., aku bukan Viona yang dulu lagi. Aku telah berubah. Baik status, penampilan juga keadaan. Lihatlah diriku dengan baik. Wajahku tak secantik kak Mutia dan statusku adalah seorang janda yang sedang hamil lima bulan. Empat bulan kedepan, aku akan melahirkan anak dari pernikahanku dengan Herdilan. Kakak seorang bujangan. Carilah yang sepadan dengan kakak! Jangan aku. Aku kurang layak untuk kakak yang berhati emas!"


Entah mengapa aku berkata terus-menerus, seolah tanpa jeda.


Aku hanya ingin kak Firman menghargai dirinya sendiri. Bukan hanya stuck melihat dan mengasihani diriku. Dia bukan cinta padaku, tapi kasihan. Seperti dulu Delan yang menikahiku. Karena kasihan pada keadaan Ayah serta Papanya saja. Tidak datang dari hati dan niat tulus mencintai sepenuhnya. Tidak.


Umurku kini sudah mau 25 tahun. Kurasa sudah sepantasnya pikiranku sedewasa usiaku.


Cinta bukan hanya sekedar kata. Rumah tangga juga bukan sekedar modal cinta.


Ada banyak pertimbangan dan pemikiran kedepannya yang harus diperhatikan.


Ada masa depan orang lain yang nantinya ikut terseret dalam lingkaran keluarga.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2