PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 88 RESMI BERCERAI


__ADS_3

Usia kandunganku sudah empat bulan, namun statusku kini resmi sebagai 'janda'. Setelah sempat terjadi keributan yang cukup besar antara aku, Herdilan dan juga mama Tasya.


Mereka datang ke rumah pemberian papa Bambang di saat aku sedang di periksa oleh dokter Lena di kediaman kak Jonathan Lordess.


Bibi Farida menelponku, mengatakan kalau ibu dan anak itu ada di rumah sejak pukul tiga sore.


Aku yang baru selesai dokter Lena periksa lanhsung otewe menuju rumah yang kini jadi milikku.


"Viona!!!"


"Viona, aku tidak akan tanda tangan!"


Aku hanya diam, setelah mencium punggung lengan mama Tasya yang berurai air mata memeluk tubuh ini.


Sementara Herdilan terus menerus memberondongku dengan perkataan tegasnya.


"Delan, diam dulu! Biarkan Viona berfikir dengan jernih!"


Akhirnya Delan diam setelah sang Mama membentak.


"Viona! Siapa yang membantumu dalam urusan pembuatan akta surat cerai?"


"Pak Tiur Sibutar Butar S.H! Viona sudah dibantu banyak orang baik, Ma! Maafkan kalau tindakan Vi ini membuat Mama dan Papa meradang. Tapi Vi tak bisa diam saja, ketika mas Delan menduakan cinta Vi, Ma!"


"Kamu sedang hamil, Nak! Kamu sadar itu?"


"Viona sadar, Ma! Sangat sadar. Justru Viona lakukan ini sebelum semuanya semakin buruk. Sebelum anak Vi lahir kedunia ini dan sedih melihat kedua orang tuanya yang sibuk bertengkar. Viona justru sengaja mempercepat prosesnya!"


"Viona... Anakmu adalah anakku juga!"


"Iya. Vi mengerti mas! Tapi Vi tidak sanggup berbagi hati dengan wanita lain!"


"Khan aku sudah bilang, tunggulah sebentar... Aku pasti akan ceraikan Lady, Vi! Hanya minta sedikit pengertianmu!" desak Delan membuat kembali mencuat emosiku.


"Sedikit pengertian?? Lalu apa aku masih kurang pengertian, dengan membiarkanmu bercinta berkali-kali? Sampai perempuan itu hamil dan kalian menikah tanpa restuku? Bahkan mama sendiri yang menyaksikan pernikahan itu! Apa itu tiada pengertian dariku?"


"Viona!"

__ADS_1


"Cukup sudah. Terima kasih kalian telah membawaku kepada kehidupan dunia yang indah. Kau melamarku, menikahiku dengan segala kemewahan yang tak pernah kufikirkan sebelumnya. Karena hidup kami tak seindah hidup kalian. Dan aku pamit mundur dari kehidupan kalian. Setelah kedua orangtuaku lebih dulu melangkah pergi kepangkuan Illahi Robbi! Aku putuskan tali silaturahim rumah tangga denganmu Herdilan Firlando!"


"Kau pasti akan menyesal nanti!"


"Aku tidak akan menyesal. Bahkan aku bersyukur, melihat keromantisan kalian kini bisa di umbar. Tak perlu lagi kalian tutup-tutupi. Kini kalian bisa bebas mengumumkan hubungan rumah tangga kalian ke khalayak umum bukan?"


"Baiklah, Vi! Surat cerai ini aku tandatangani. Tapi aku tidak akan menanggung kehidupanmu selanjutnya. Juga anak dalam kandungan itu! Kau yang dengan kejam meninggalkanku! Kau... tidak bisa mengerti jalan fikiranku!"


"Aku tidak butuh lagi uangmu, Delan! Anakku insyaAllah akan hidup bahagia. Tak usah khawatirkan selama aku masih hidup!"


"Kalau dia perempuan, jangan pernah cari aku untuk jadi wali nikahnya!"


Ancaman Herdilan membuat kekuatanku bertambah berkali-kali lipat.


"Jangan khawatir! Anakku tidak akan mengemis-ngemis meminta haknya darimu!"


"Diaaaam!!! Herdilan, Viona! Bisakah kalian jangan berdebat seperti itu sekarang? Hik hik hiks... Pikirkan semuanya matang-matang! Bukan dengan emosi dan jiwa labil begini!"


"Maaf Mama,... aku tidak akan menarik semua ucapanku!"


Aku tersenyum kecut.


"Rumah dan butik sudah jadi hakku! Jadi Mama dan Kau tidak bisa mengutak-ngatiknya lagi. Karena keduanya sudah bersertifikat atas namaku, bukan?"


"Aku akan berkemas!" katanya dengan nada ketus.


"Silakan! Ambillah semua barangmu, jangan sampai ada yang tertinggal!"


Aku, Viona Yuliana... Kini tiada setetespun air mata yang jatuh di pipi. Meski melihat Mama Tasya Jessica yang meraung-raung dengan isak tangis kesedihannya yang terdengar memilukan.


Aku sudah kebal dengan rasa sakit dan luka yang menganga ini. Kini saatnya aku bangkit. Saatnya aku pergi menjauh dari kalian yang menorehkan luka.


Cukup sudah penderitaanku.


Herdilan Firlando benar-benar mengemasi barang-barangnya. Membawa tiga koper besar miliknya dan menyuruh sang sopir membawakan ke dalam kendaraan.


"Mobil kubawa!"

__ADS_1


"Silakan!"


"Bibi Farida juga!"


Deg.


Jantungku seolah berhenti berdenyut.


Bibi Farida dia bawa? Hiks...


"Nona!... Bibi bingung," wanita berusia tiga puluhan itu terlihat pucat pasi dengan netra mendung bergelayut. Perlahan jatuh air matanya.


"Ikutlah mereka, Bi! Jangan khawatirkan saya!"


"Nona, hik hik hiks...! Jaga diri baik-baik ya?"


Bi Farida memelukku erat. Tapi Herdilan langsung menarik pangkal lengannya hingga lepas pelukan dariku.


"Aku ralat ucapanku, Viona! Jika anak yang akan lahir lima bulan lagi itu adalah perempuan, aku akan mengambilnya dari tanganmu. Kau tidak bisa merawatnya, aku yang rawat! Aku yang akan jadi wali nikahnya!"


"Lelaki plin plan! Seenaknya kau mau mengambil anakku!"


"Berarti kamu siap berperang denganku!"


Herdilan menarik tungkai lengan kedua wanita yang ada di kiri kanannya. Mama Tasya dan bibi Farida.


"Ayo, Ma! Jangan menangisi perempuan dingin itu! Dia akan menyesal nantinya. Bahkan berkali-kali lipat karena telah mencampakkanku!"


Hoho... Tidak Tuan Herdilan Firlando! Aku tidak ada penyesalan sama sekali, meski kau telah membabat habis harga diriku sebagai seorang istri yang harusnya dihargai dan disanjung tinggi. Kini aku bersyukur, jodohku telah Tuhan 'cut' sampai di sini! Aku bersyukur, Tuhan hentikan pernikahan ini dengan jalan-Nya!


Aku hanya bisa melihat dua mobil bagus itu perlahan pergi meninggalkan garasi rumahku yang minimalis ini.


Aku hanya tersenyum tipis. Meski kehampaan merajai jiwa, tapi hatiku lega.


Lega telah melepaskan semua beban yang menggantung di pundakku.


Ayah, Ibu... Maafkan aku, tidak bisa memberikan kebahagiaan rumah tangga seperti yang kalian idamkan dahulu. Mulai saat ini, aku akan belajar berjuang menghidupi diriku sendiri. Suami yang dulu kita kira akan jadi imam yang baik untuk masa depanku ternyata seorang pecundang, Yah, Bu! Maaf, aku terpaksa melepasnya. Aku tidak ingin masuk dalam lingkaran sesatnya. Aku ingin hidup bahagia, Yah, Bu!

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2