PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 240 IN FRAME "Hari Pernikahan Viona Dan Roger"


__ADS_3

"Hik hik hiks...! Viona! Selamat ya...?! Aaah, aku koq malah nangis di acara pernikahanmu?!"


Ira yang datang bersama Leon dan putri mungilnya yang baru empat bulan.


"Sudah Ira, make up mu nanti luntur!" kata Viona sembari tersenyum.


"Iya. Aku turut senang melihatmu bahagia! Semoga rumah tangga kalian langgeng sampai maut yang memisahkan."


"Aamiin...! Terima kasih doanya, Ra! Kamu adalah saudara terbaikku. Aku minta maaf, aku malah tak pernah ada di setiap hari bahagiamu."


"Iya, emang! Kamu ngeselin! Hik hik hiks... Tapi aku koq terharu selalu mengingat kisah cinta dan kehidupanmu, Vi! Kamu cerai dengan Delan, nyaris menikah dengan Omnya. Tapi malah menikah dengan adik tirinya. Gila gak sih ini cerita? Hik hik hiks... Andai aku bisa menulis novel, kutuangkan kisah hidupmu pada sebuah novel, Vi! Beneran deh!"


"Dasar kamu ini, hehehe..."


"Andai aku konglomerat, kubuatkan film layar lebar. Minimal jadi sinetron panjang beratus-ratus episode, biar penontonnya pada komen kesal saking panjangnya."


"Hahaha...! awas jadi sinetron azab, ya?!"


Kedua sahabat itu saling berangkulan. Menunggu waktu ijab kabul tiba.


Viona degdegan luar biasa. Roger sedang melangsungkan ijab kabulnya tanpa di temani Viona sebagai mempelai wanitanya. Hanya ada Roger, pak penghulu, wali nikah dan para saksi yang duduk di kursi depan pelaminan.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Roger Gibran Suherman bin almarhum bapak Bambang Suherman dengan keponakan saya yang bernama Viona Yuliana binti almarhum Chandra Triyono. Dengan mas kawin seperangkat perhiasan emas 24 karat total 50 gram dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Viona Yuliana binti almarhum bapak Chandra Triyono dengan mas kawin tersebut diatas dibayar tunai!"


"Sah? Sah?"


"Saaah!!!"


"Alhamdulillahirobbil'alamiin...!"


Pak penghulu langsung membacakan doa selepas ijab kabul. Semua menarik nafas lega dan ikut berdoa dengan khusuk untuk kelanggengan rumah tangga Roger dan Viona.


Viona pun dituntun Ira serta tante Widya berjalan menuju meja tempat sakral tadi berlangsung.

__ADS_1


Mereka diminta menandatangani buku nikah dan piagam akta nikah.


Tatapan Viona berkaca-kaca, memandang buku kecil yang berwarna hijau tua yang kini dia pegang. Bertuliskan namanya dan nama Roger disana. Menjadi saksi bisu bahwa mereka kini telah menjadi sepasang suami istri.


Pak Penghulu memberi wejangan-wejangan perihal pernikahan. Syarat dan kewajiban, serta hak-hak yang harus diketahui pasangan suami istri. Hingga dapat mengerti dan memahami fungsi dari berumah tangga.


Dua kepala disatukan dalam naungan rumah tangga. Bukan berarti harus menjadi satu. Tapi saling bahu membahu, membangun rumah tangga sakinah, mawaddah warrohmah.


Saling menutupi kekurangan satu sama lain. Saling mengimbangi dan saling menguatkan.


Ibarat sepasang kaki. Keduanya saling melengkapi. Ketika kaki kanan di depan, kaki kiri di belakang. Maka jalan pun menjadi seimbang. Tidak jomplang kedepan, atau jengkang kebelakang.


Jika sang suami sedang dalam emosi tingkat tinggi, maka si istri diharapkan diam dulu. Jangan ikutan emosi. Karena akan fatal jika keduanya sama-sama emosi. Bisa terjadi Kekerasan Dalam Rumah Tangga.


Begitu pun sebaliknya. Ketika istri butuh wadah tempatnya menampung segala keluh kesah, sang suami cukup diam dan dengarkanlah saja. Jadilah baskom sebagai tempat penampung ocehan ngawur sang istri hingga hatinya lega.


Tidak ada manusia sempurna. Karena yang Maha Sempurna adalah Sang Pencipta Alam Jagat Raya.


Untuk itu, fahamilah pasanganmu jika dia sedang dalam mode on menyebalkan. Terimalah dia lengkap dengan segala kekurangannya.


Menerima nikahnya dan bersumpah setia dihadapan Tuhan adalah pilihanmu. Maka kamu harus siap juga dengan segala konsekuensinya. Susah senang, sakit sehat, miskin kaya sudah menjadi bagian dari komitmen rumah tangga.


Istri yang baik adalah yang selalu mendoakan langkah suami, selain menjalankan tugasnya sebagai pendamping hidup. Terutama dalam kebaikan mencari nafkah dan keberkahan.


Suami yang baik adalah yang senantiasa amanah. Memberi nafkah lahir dan batin pada istri dengan tetap berpegang teguh pada ridho Illahi. Selain tentunya juga membantu tugas istri dalam mengurus rumah tangga agar pekerjaan menjadi lebih mudah.


Selain faham tugas masing-masing, tentu saja keduanya harus kooperatif saling dukung saling bantu satu sama lain selain mendoakan kebaikan pasangan.


InshaaAllah, rumah tangga yang dibina akan dapat bahagia walaupun akan ada ujian, cobaan bahkan badai yang datang menerpa sebagai kenaikan derajat kedua pasangan suami istri tersebut.


Begitu kira-kira ceramah pak Penghulu sebagai penasehat perkawinan.


Roger memandang lega wajah manis Viona. Hatinya bahagia ketika wanita yang selalu dia damba beberapa bulan ini akhirnya resmi jadi miliknya, mencium punggung lengannya dengan lembut.


Grep.

__ADS_1


Roger mencium kening Viona diiringi sorak-sorai dan tepuk tangan para kerabat, saudara dan sahabat yang menyaksikan pernikahan mereka.


Dzakki sendiri sedang duduk dipangkuan Tasya Jessica. Ia sedang asyik menikmati es krim ditangannya.


Wajah tampannya bersinar cerah. Hatinya senang karena akhirnya sang Mami menikah dengan Ayah kesayangannya.


Akhirnya adik yang Dzakki pesan akan segera dikirim Allah. Begitu dalam fikirannya.


Sementara sang Oma, terus menerus menyusut airmata yang meleleh. Senyum kebahagiaan juga mengembang. Hatinya kini sangat tenang dan adem. Meski sang putra kandungnya telah terbang seminggu lalu untuk urusan pekerjaan. Namun Tasya bahagia. Keponakan sekaligus anak tirinya menyayanginya semua.


Fika yang duduk disebelahnya pun tak kalah melow.


Sesekali ia tertawa kecil ketika Verrel dan Velli menggodanya dengan pertanyaan-pertanyaan nyeleneh tapi lucu.


"Tante, kenapa Tante nangis? Tante nangis karena kepingin nikah juga ya?" tanya Velli dengan polosnya.


"Sstt..." bisiknya pada ponakan imutnya.


"Tante sedih, Velli! Dalam hati Tante, kapan Tante juga dinikahin. Ya khan tante?" tambah Verrel membuat Fika menutup mulut bocah laki-laki berusia 6 tahun itu.


"Kalian nih, berisik tau!" umpatnya dengan suara berbisik.


"Tante nanti minta sama Papa biar dinikahin juga seperti Om Roger, Ayahnya Dzakki! Tante mintanya sambil nangis-nangis! Pasti Papa akan kasihan dan turuti kemauan Tante. Soalnya Velli juga suka gitu kalo mau sesuatu!" bisik Velli membuat mata Fika terbelalak.


"What? Ini bocah ya,... disuruh diam malah makin ngaco komentarnya!"


Fika mencubit gemas pipi Velli.


Ia hanya menengok ke kanan dan ke kiri, melihat situasi. Khawatir kalau ada orang yang memperhatikan dan mendengar ucapan polos Velli-Verrel.


Dan benar saja.


Sepasang mata lengkap dengan senyuman kecil tengah menatapnya dari kursi seberang. Dia pun sedikit sibuk dengan putra tunggalnya yang agak rewel karena ingin duduk didekat Dzakki.


Ya. Orang itu adalah dokter Diandra dan Dirga.

__ADS_1


Yang membuat Fika melengos malu.


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2