
Aku kini selalu takut dan was was, bekerja di rumah sakit jiwa yang sudah lima bulan ini aku jalani.
Setelah berfikir panjang dan lama,... aku memutuskan membuat surat pengunduran diri. Dan akan kuberikan pada pihak bagian personalia RSJ.
Aku akan berhenti bekerja. Dua minggu lagi wisuda pula. Jadi, aku bisa mengurus Dzakki dengan baik juga menunggu acara wisuda digelar dengan suka cita.
Setelah itu, aku bisa pindah ke Bali membawa putraku memulai hidup baru di sana.
Semoga aku bisa menjadi ibu yang baik bagi putra tunggalku. Yang selama ini sangat jauh dari kata sempurna.
Ya. Bahkan ada orang yang sengaja terang-terangan membenciku. Mengatakan aku ini bukan ibu yang baik untuk Dzakki, karena keegoisanku yang selalu ingin menang sendiri. Yang selalu menjadikan nasib buruk percintaanku sebagai tameng untuk aku memandang Dzakki sebelah mata pada awalnya.
Tapi,... sejak Fika lebih terang-terangan lagi tidak mengakui keberadaan Dzakki. Aku sakit hati. Aku mulai merasa, begini rupanya menjadi seorang ibu sejati. Bukan tidak peduli dan hanya memikirkan diri sendiri.
Aku tahu aku salah. Aku tahu, dan aku mengerti orang yang membenci diriku serta langkah yang kuambil karena sikap serta sifat lemahku.
Hhh... Ya. Setiap orang punya karakter. Aku memang begini. Tapi aku ingin merubah kelemahan ini menjadi kekuatan untuk diriku sendiri juga Dzakki buah hatiku.
Aku ingin kuat. Aku ingin terbebas dari belenggu mantan istri pertama yang membawa luka sepanjang masa.
Tidak. Tidak lagi.
Impianku kini hanyalah hidup tenang bersama Dzakki. Tanpa Herdilan tentunya.
I don't love you anymore, Delan! Meski pembalasanku sebagai istri pertama bukan dari tanganku sendiri. Tapi tangan Tuhan langsung yang menghukum lewat orang-orang yang tersakiti dan juga karma perbuatan mereka sendiri dimasa lalu. Aku justru tidak melakukan pembalasan sama sekali. Hanya diam dan menunggu. Judul novel ini tidaklah sesuai isinya!
Bahkan aku dengan fikiran terbuka, mau mengurus mantan mertuaku yang sakit jiwa. Sebegitu mulianya kah hatiku? Tidak! Tidak!
__ADS_1
Itu karena aku mendapatkan banyak nasehat dari kak Christian. Dialah orang yang kini kujadikan panutan.
Kak Chris membuat aku lebih menerima keadaanku kini. Seorang janda beranak satu. Yang tidak boleh terus menerus memikul dendam kesumat yang membara. Ada Dzakki bersamaku. Sampai kiamat pun, Dzakki adalah anak Herdilan.
Walau aku tidak ingin putraku sampai disambangi ayahnya. karena itu adalah keegoisanku yang tak mau Dzakki terkontaminasi sifat buruk Herdilan. Dan apakah aku teramat egois jika tetap mempertahankan pendapatku?
Padahal aku pernah menasehati kak Mutia secara langsung, kalau Ibu dan Ayah adalah setara. Tak ada yang lebih baik atau lebih tinggi, karena anak butuh keduanya. Butuh Ibu, juga butuh Ayah. Hhh...
Pada kenyataannya, nasehatku itu hanyalah bualan.
Aku mengatakan itu karena kak Chris adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Tidak seperti Delan. Habis manis sepah dibuang.
Bahkan sampai akhirpun dia seperti tidak mencariku sepenuh hati.
Dia mengetahuiku di rumah sakit ini dan menitipkan setangkai bunga pun karena menyambangi Mamanya. Bukan dengan niatan benar-benar mencariku dan putra kami.
Pria itu kini sudah bebas. Ia bisa menengok Mamanya sesuka hati. Justru kini aku terbebas dari beban di jiwa. Delan kini bisa mengurus Mama kandungnya. Aku bisa pergi setelah ini.
Mereka terbiasa bergelimang harta. Terbiasa berfoya-foya tanpa punya rasa sayang dan berfikir panjang karena menghambur-hamburkan uang. Kini semua berubah.
Semoga Mama Tasya dan Delan bisa mengambil hikmah. Juga semoga mereka bisa hidup dengan benar kedepannya.
Memang diantara kita sudah tidak ada lagi hubungan. Hanya mantan istri dan mantan suami. Jadi sebaiknya kita tidak saling bertemu satu sama lain. Karena khawatir akan kembali saling menyakiti. Dan sejujurnya aku belum siap bertemu lagi. Meski ada Dzakki yang juga sebagian dirinya adalah darah dagingnya.
Hhh...
Treeet... treeet... treeet
__ADS_1
Treeet... treeet... treeet
Roger is calling
"Hallo, Alaikumsalam! Ya? Ya...! Hm... Sekarang Dzakki ada di rumah kak Christian. Hhh...!
...[*Lihat saja kalau sampai si bangs*t itu berani menyentuh putraku! Aku akan menghajarnya habis-habisan*!]...
Aku termangu. Roger marah besar mengetahui Herdilan telah keluar dari penjara dan seperti sedang mencariku juga Dzakki.
Jujur hatiku senang, ada Roger yang melindungi Dzakki sedemikian rupa.
Tapi..., aku juga takut. Posisi Roger hanyalah ayah asuh Dzakki saja. Dalam agama mana pun, Delan berhak menemui putranya. Delan punya kuasa melihat wajah Dzakki.
Tapi aku takut. Juga tak terima, kalau pada akhirnya si Delan yang tak pernah melakukan kontribusi apapun pada putraku dengan sangat enaknya mengakui Dzakki secara absolut.
Tidak! Aku tidak rela!
Dzakki-ku hanyalah milikku. Bukan miliknya. Walau Dzakki bukanlah barang. Dzakki adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling kusayang. Melebihi apapun di dunia ini.
...[Viona! Ikutlah pindah bersamaku ke Surabaya! Mari kita memulai hidup baru di sana. Bersama kita bertiga!]...
Kalimat terakhir yang Roger ucapkan membuatku nyaris tersedak ludahku sendiri.
Apa maksud dari ucapannya? Selama ini aku sudah mulai terbiasa mengurus Dzakki bersama bi Tini juga Kenken. Walau sesekali Roger ada di antara kami.
Dan bagaimana mungkin, aku bisa hidup bersamanya. Sedangkan dia juga adalah adik tiri mantan suamiku. Hhh...
__ADS_1
Tidak! Aku tidak akan menyetujui dan mengambil tawaran itu.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...