
Untuk pertama kalinya tinggal di rumah baru, aku tidur seorang diri tanpa mas Delan. Walaupun jelas sekali saat ini suamiku menginap di rumah Mamanya, tapi jujur aku merasa sangat galau hingga tak bisa tidur semalaman.
Entah mengapa, fikiran ini seolah kusut bagai benang yang terlepas dari gulungannya.
Gelisah rasanya hingga terlentang, telungkup hingga miring kanan miring kiri. Aku benar-benar tidak bisa memejamkan mata. Bahkan dada ini terasa sesak.
Kutengok jam bekker yang ada di meja nakas. Pukul 1 dini hari. Rupanya hari telah lewat tengah malam.
Kucoba ambil handphoneku.
Berselancar di dunia maya. Mungkin bisa membuatku mengantuk dan cepat tertidur.
Kutelusuri insta. Melihat postingan para teman yang kufollow. Salah satunya adalah Lady Navisha alias JeLa Jelita Lara.
Hhh..
Menengok gaya-gayanya yang nampak elegan membuatku menghela nafas sejenak.
Tak sangka si Lady kini menjadi selebgram juga. Banyak endors-an dan pengagum berat yang selalu me-like juga mengikuti gayanya.
Dia memang cantik dan sangat menarik. Bodinya keren. Pembawaannya juga oke punya. Semua yang ia kenakan selalu terlihat pantas dan indah ditubuhnya. Wajar jika banyak orang berlomba-lomba ingin memakai jasanya sebagai model.
Aku... cantik kata mas Delan. Tapi, aku agak kurang percaya diri dan tidak suka dunia fashion yang gemerlapan.
Aku, tetaplah perempuan rumahan yang cupu. Bahkan hanya sekedar memasang bulu mata palsu pun sampai saat ini aku tak bisa dan jarang menggunakannya kecuali ada acara-acara besar yang suamiku ikuti serta mengharuskan aku berdandan all out.
Syukurnya juga, suamiku bukan orang yang perfectionist dan menyuruhku untuk berdandan gaya ini gaya itu. Membuatku enjoy karena mas Delan memintaku agar menjadi diri sendiri. Tidak perlu akting untuk mendapatkan pujian orang. Karena sejatinya kita ini adalah orang biasa pula.
Mas Delan... Aku kangen kamu, Mas!
Kucoba melihat nomor kontaknya. Lalu membuka What'sApp nya. Ada tulisan 'terakhir dilihat hari ini pukul 00.23 WIB'.
Berarti mas Delan belum tidur lama. Hm... Aku coba voice note deh, semoga masih bisa merespon VN an-ku.
"Hallo Mas, kamu sudah tidur belum?"
...
Tak lama kemudian, nomor kontaknya 'online'.
Ah... VN ku direspon mas Delan! Koq jantungku jadi berdebar-debar ini. Mirip anak baru gede yang sedang menunggu balasan chattingan. Hiks.
__ADS_1
[Kamu belum tidur? Tidur. Ini sudah malam.]
Eh? Jawabannya koq... aneh?!? Seperti bukan ketikan mas Delan. Hm... Aku kenal betul bagaimana suamiku merespon chattanku. Bukan seperti ini. Apakah... ini mama Tasya? Iya kah?
Lalu kulihat nomor kontaknya mas Delan kembali off.
Hhh...
Mungkin ini benar ketikannya Mama Tasya. Yang terganggu karena voice note ku ditangah malam buta.
Maaf, Ma! Viona lupa, kalau mas Delan satu-satunya putra Mama. Dan Mama sedang sakit kurang enak badan. Tapi... tolong, setidaknya mama coba telepon aku. Atau balas dengan ketikan yang enak didengar hingga aku langsung menelpon untuk menanyakan kabarmu.
Mau tak mau, akhirnya kutaruh juga ponselku. Membaca doa tidur dalam hati. Lalu menarik selimut ke arah dadaku meski merasa lara sendiri.
...◇◇◇◇◇◇◇...
...POV HERDILAN FIRLANDO...
Sungguh aku deg-degan karena harus berbohong pada istriku Viona.
Yap.
Tadi siang Lady menangis di rumah besar Mama. Menelponku katanya aku ini tidak adil padanya.
Kemarin kami pergi ke dokter kandungan. Memeriksakan kehamilan Lady yang baru berusia enam minggu.
Aku tak berkedip menatap layar USG yang memperlihatkan embrio atau calon janin yang ada dirahim Lady.
Aku dan Lady akan menjadi orangtua dalam delapan bulan kedepan. Dan itu benar-benar harus kami persiapkan mental lahir serta batin.
Makanya, asupan gizi sang ibu yang sedang mengandung haruslah diperhatikan dengan benar. Juga kesehatan mentalnya karena bisa berimbas buruk buat calon bayi kami.
Aku dan Mama tak ingin bayiku lahir kenapa-kenapa. Makanya untuk semua yang Lady inginkan, kami berusaha melakukan yang terbaik. Demi calon buah hatiku, cucu kesayangan Mama.
"Menginaplah malam ini, Lan!" ujar Mama membuatku bingung, hanya bisa mengusap raut wajah kusutku.
Begini ternyata memiliki istri simpanan. Benar-benar bikin stres lahir batin terlebih urusan ekonomi keuangan.
Kemarin Lady minta uang nafkah dariku. Katanya aku harus adil memberi uang pada kedua istri. Apalagi Lady lebih banyak memerlukan uang karena sedang berbadan dua.
Hhh... Pengeluaranku membengkak dua kali lipat setiap bulannya. Transfer dua belas juta untuk Viona, sepuluh juta untuk Lady Navisha. Tapi istri keduaku marah karena nominalnya sedikit lebih banyak dari Viona, padahal dirinya menghidupi dua nyawa yakni dirinya dan calon janin kami.
Aku mau tak mau berjanji akan mengiriminya lagi sepuluh juta dipertengahan bulan. Alasan klise aku khawatir Lady kebablasan mengatur keuangan dengan belanja barang yang bukan pada tempatnya.
__ADS_1
Tapi dalihnya benar-benar membuatku pusing kepala. Mana cukup uang bulanan sepuluh juta katanya, segitu hanya untuk biaya salon dan peralatan make-up saja. Hhh... Padahal Lady tak pernah masak, apalagi mengeluarkan uang untuk biaya makanku juga dia. Semua mama yang tanggung dari pemasukan PH-nya.
Lady memang boros, jauh berbeda dengan Viona yang cukup piki dalam pembelanjaan. Viona bahkan akan mikir berkali-kali untuk membeli tas branded harga satu juta.
Dan kini Lady menangis meminta keadilan dariku soal pembagian tempat tinggal.
Lady kembali berdalih, aku justru harus lebih sering di rumah ini. Karena ada Mama Tasya juga di sini. Jadi, ada tiga nyawa yang harus lebih aku utamakan. Begitu pendapatnya.
Aku sendiri... jujur belum bisa melakukan keadilan itu saat ini. Secara posisiku kini nyaris sama seperti posisi Papa Bambang sejak puluhan tahun lalu.
Dan aku kini merasakan apa yang beliau rasakan dulu. Dilema yang membuat gelisah, cemas berkepanjangan juga.
Aku sebenarnya sudah tidak kuat lagi. Ingin memberitahukan pernikahan diam-diamku pada Viona, istri pertamaku.
Aku belum semapan Papa Bambang dalam hal penghasilan. Otomatis gajiku masih dikata pas-pasan saja. Apalagi untuk di bagi dua istri. Dan aku juga baru setahun lebih ikut bergabung mengurusi PH Mama Tasya. Jadi belum banyak tahu soal job-job yang menghasilkan banyak uang.
Mau tidak mau, suka tidak suka, terima tidak terima... Viona wajib mengetahui kebenarannya.
Tapi mengingat saat ini aku belum menemukan momen yang pas, dan aku juga sangat takut untuk membuka semua borokku selama ini pada Viona. Alhasil hanyalah kebohongan demi kebohonganku yang kulakukan setiap harinya.
Kuharap Tuhan menjagaku dari kemurkaan Viona yang kuprediksi akan membuat goncang rumah tanggaku yang baru setahun lebih.
Selama ini Viona adalah istri yang baik. Yang tak banyak menuntut apalagi mengaturku ini itu.
Semoga saja istri terbaikku itu mau mengerti posisiku yang terjepit dan serba salah. Moga juga Viona akhirnya mau menerima poligami yang terpaksa kujalani saat ini.
Semua sudah jalan yang Tuhan atur untukku. Seperti kisah hidup Papa terulang lagi di kehidupan rumah tanggaku yang baru setahun kujalani dengan Viona.
Lady kini tengah hamil calon anakku. Aku juga tidak boleh lepas tangan begitu saja pada perempuan yang pasti akan Viona tuduh sebagai pelakor nantinya.
Aku harus siap siaga, suatu saat Viona mengetahui kebenarannya dan keduanya pasti akan bertengkar adu mulut sampai gontok-gontokan.
Aku harus mencari cara agar kedua istriku akur satu sama lain.
Untungnya Mama ada ditengah-tengah kami. Semoga Mama bisa meredam kemarahan Viona nanti, dan membuat Viona lebih legowo menerima pernikahan siriku dengan Lady Navisha.
Papa...aku salut padamu yang bisa menutupi kenyataan pernikahanmu pada Mamaku juga satu perempuan lainnya. Ternyata ketertutupan serta kesibukanmu yang luar biasa ini adalah salah satu cara untuk menyiasati kecurigaan istri pertama Papa. Apakah aku bisa seperti Papa? Menjalani kehidupan berpoligami tanpa ada yang tersakiti?
Hhh...
Aku akhirnya bisa juga berbohong pada Viona dengan mengatakan kalau Mamaku sakit dan ingin aku menginap dirumahnya.
Walau jantungku berdegub keras sekali. Dan telapak tangan serta kaki berkeringat dingin sekali. Namun akhirnya urusan Viona berhasil kuatasi.
__ADS_1
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...