
Hari ini Tasya kembali menggila. Ia shock dengan semakin terbukanya kejahatan-kejahatan yang pernah ia lakukan selama ini.
Pihak kepolisian terus menerus melakukan pemeriksaan yang makin mengungkap titik terang tentang pernikahan sirinya dengan Bambang Suherman sang politikus.
Rumahnya sepi, seperti biasa. Membuat Tasya bebas menangis, berteriak dan memaki-maki tak jelas.
Sementara menantunya yang satu atap dengannya sudah dua hari tidak pulang dan tak datang ke kantornya juga.
Ya. Sejak hari terbukanya kedok Jelita Lara alias Lady Navisha oleh Herdilan, perempuan itu belum juga kembali ke rumah besar Tasya.
Tasya kembali mendapat surat panggilan yang kedua dari pihak kepolisian setelah panggilan yang kesatu seminggu lalu tak digubrisnya.
Pengacaranya menganjurkan Tasya untuk mengikuti prosedur demi meringankan hukumannya nanti. Namun ia masih belum siap mental memberikan keterangan. Khawatir kalau justru keterangan yang diberikan berbelit-belit karena memang ada niat jahat dihati serta fikirannya.
Bahkan Tasya memaki sang pengacara. Mengatakan kalau tak punya kredibilitas untuk membela dan mengamankan nama baiknya sebaiknya mengundurkan diri saja sebagai pengacaranya.
Ia benar-benar sedang kacau emosi serta jiwanya.
"Hyaaaaaa...! Aaaaaarrrggh!"
Seperti biasa, rumahnya menjadi pelampiasan amarah. Pecah semua barang menjadi hancur berantakan.
Herdilan ternyata tak kalah labil emosinya.
Seminggu tak pergi ke kantornya di gedung Central Pesona Tower karena pergolakan batinnya yang amburadul.
Ia hanya mengurung diri di rumah besar Mamanya di lantai tiga, kamar pribadinya dengan Viona Yuliana di masa masih menikah.
Kedua ibu dan anak itu sedang galau parah.
Yang satu galau karena takut masuk penjara, yang satu lagi galau karena sakit hati ditipu istri kedua hingga istri pertamanya minta cerai. Juga ditipu sang mama yang membohongi status dirinya bertahun-tahun.
Herdilan tiba-tiba teringat sesuatu... Tatapan matanya yang tadi terlihat kosong kini nampak memikirkan suatu hal.
Jangan-jangan... Mama seperti Lady! Yang mengaku memiliki anak Papa Bambang padahal...!!! tebak hati kecil Herdilan.
Tapi segera ia menggeleng cepat.
"Tidak! Tidak mungkin!! Mamaku bukan pelacur! Mamaku bukan pelacur seperti perempuan penjaja itu! Bukaaan!!!"
Prang!!!
Prang!!!
__ADS_1
Prang!!!
Keramik porselen, aneka pajangan bunga kaca yang menghiasi pojok kamarnya satu persatu melayang jatuh ke lantai hancur berantakan.
Herdilan berdiri. Kemudian berjalan cepat menuju pintu kamar, keluar dan turun melompati anak-anak tangga.
"Mamaaa!!!... Mamaaa!!!"
Ia berteriak memanggil Mamanya. Berjalan tergesa-gesa, butuh penjelasan yang jujur sejujur-jujurnya.
"Maaa!!! Mamaaa!!!"
Kamar sang mama yang kacau balau sama seperti kamarnya membuat Delan termangu untuk beberapa saat.
Mama Tasya tengah telungkup di atas ranjang besi berwarna emasnya. Kamar mewah itu laksana kapal pecah.
Delan menyepak beberapa pecahan porselen yang berserak di lantai agar tak terkena kakinya yang berjalan mendekat ke arah sang Mama.
"Mama! Jelaskan padaku, siapa aku ini? Jelaskan, Ma! Apa benar aku anak papa Bambang? Atau... kau seorang playgirl sama seperti wanita sialan itu?"
Mama Tasya mendelik. Kaget pada kata-kata anak semata wayangnya yang kurang ajar.
Plak! Plak! Plak! Plak!
"Tampar aku, Ma! Tampar terus! Lampiaskan semuanya! Karena aku adalah anakmu, Ma! Yang bisa kau jadikan 'senjata' untuk memasung papa Bambang!"
Plak!
Mama Tasya kembali menampar Herdilan Firlando. Kini ada darah mengalir lewat sela bibir putra kesayangannya itu.
"Delan!"
"Jangan hiraukan aku! Lagi! Lampiaskan lagi marahmu padaku! Lagi!! Tampar lagi!! Kubilang tampar lagi, Ma!!!"
"Herdilan! Hik hik hiks... teganya kamu menuduh Mama sebegitu kejam!"
"Mama memang ratu kejam! Ratu Jahanam dalam urusan drama cinta yang sangat tragis! Mama berhak mendapatkan piala Citra, piala Oscar, Golden Globe dan piala-piala lainnya sebagai artis pemeran utama yang sangat hebat, Ma!"
"Hik hik hiks..."
"Mama ternyata seperti Jelita Lara! Yang tega memoroti suami orang bahkan tak peduli perasaan wanita lain yang berstatus sebagai istri orang itu! Mama bahkan mungkin juga sama seperti Jelita Lara yang hamil dengan orang lain tapi mengaku mengandung anaknya papa Bambang! Apa seperti itu, Ma?!"
Plak!
__ADS_1
Tasya Jessica menutup mulut dengan kedua belah tangannya. Tak percaya kalau putra kebanggaannya itu menyakiti hingga sedemikian rupa.
"Apa yang kamu bilang??? Teganya kamu sama Mama!!!"
"Karena kini, aku mendapatkan perlakuan itu dari si Jelita Lara! Dari si Lady yang mengaku perawan, lalu hamil olehku! Padahal perempuan itu budak se*! Yang sering melakukan nikah kontrak dengan pria-pria pengusaha beristri lainnya sebelum denganku, lalu melakukan operasi sel selaput dara untuk mengelabuiku yang cupu dan dungu ini!"
"A pa??? Apa kamu bilang? Benarkah perempuan itu seperti itu?"
Tasya meraih kerah kemeja sang putra. Tanpa sadar menguncang-guncang keras pegangannya pada Herdilan. Saking tak percaya pada yang putranya itu katakan.
"Apa Mama seperti itu juga? Hik hik hiks... Apa Mama memainkan peran seperti si Lady Navisha juga? HAH???"
Herdilan berteriak keras hingga sang Mama menangis histeris sambil menenggelamkan wajahnya dalam kedua telapak tangannya.
Tangisan sedih dan pilu membuat suasana rumah di siang itu berubah seperti malam dingin yang menakutkan.
"Kenapa si Lady setega itu pada putraku??? Huhuhu... huhuhu..."
"Itu karena karma perbuatan burukmu berbalik padaku!!!" jawab Herdilan dengan suara menggelegar di depan wajah sang Mama yang terkaget-kaget.
"Aku tidak seperti itu!!! Aku bukan PELACUR!!! BUKAN!!! Aku tidak pernah bercinta dengan pria lain selain Papamu, Bambang Suherman!!!"
Kini Mama Tasya yang berteriak keras kearah wajah sang putra, sebagai balasan kalau dia tak sehina itu.
"Kamu asli putranya Mas Bambang! Bukan darah daging orang lain! Kalau kamu tidak percaya, lakukan tes DNA. Karena aku memang hanya melakukan hubungan badan dengan Papamu seorang saja! Hanya dia satu-satunya, bahkan sampai detik ini! Huhuhu... huhuhu... Huaaa!"
Tangisan Tasya pecah menggema ke seisi kamar besarnya. Kini Herdilan juga meraung menangis di lantai dengan kepalan tangan berkali-kali meninju ubin marmer kamar sang mama.
"Kenapa aku jadi seperti ini, Ma!!! Kenapa??? Kenapa aku harus menanggung derita dari perbuatan jahatmu pada tante Tania! Kenapaaa??? Tidakkah kau sadari setiap perbuatanmu itu akan berimbas karmanya padaku juga? HAH???"
Delan berteriak memaki-maki sang Mama tanpa peduli lagi batas kesopanan dan kedurhakaannya pada perempuan yang telah melahirkan serta membesarkannya sampai sekarang.
"Aku juga tak ingin membuat anakku menderita karena kesalahanku di masa lalu, Delan! Aku justru melakukan semua demi untuk kebahagiaanmu!!!"
"Bull shiit!!! T*i kucing! Perempuan materialistis! Perempuan iblis!!! Semua perempuan hanya cinta harta, tahta, demi untuk kenyamanan dirinya sendiri! Termasuk kau!!!"
Plak...
Tasya menangis pilu. Telapak tangannya terasa sakit sekali. Namun sakit hatinya jauh lebih perih dan nyeri.
Tuhan menegurnya setelah berpuluh-puluh tahun ia abaikan begitu saja.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1