
Namaku adalah Roger Gibran Suherman. Melihat nama belakangku, sudah pasti terlihat jelas. Aku adalah putra kedua mendiang Bambang Suherman.
Anggota dewan yang terhormat, yang memiliki satu istri sah dan dua istri siri. Dan baru saja mati bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri setelah menembak adik iparnya sendiri.
Ck ck ck... riwayat hidup yang sangat miris.
"Roger! Jangan terlalu membenci Papa. Biar bagaimana pun beliau adalah orangtua kita!"
"Cih! Orangtua katamu. Orangtua yang mendzolimi istri dan anak-anaknya sendiri! Tidak pantas dihormati!" ucapku pongah ketika mas Christian menasehatiku.
Chris adalah kakak kandungku. Kami berbeda usia lima setengah tahun. Sehingga dia paling dewasa diantara kami, tiga bersaudara. Aku dan Fika beda usia tujuh tahun.
Mama kami sedari kecil selalu mengajarkan kami untuk akur satu sama lain. Juga untuk saling hormat dan saling mengingatkan satu sama lain. Terutama pada kak Chris. Yang harus selalu menjadi leader terbaik kami disetiap saat. Karena ia adalah anak paling tua.
Meskipun tanggung jawab kak Chris paling besar, namun dia-lah anak paling disayang Mama Papa.
Selalu dimanja dan dibawa-bawa Mama maupun Papa disetiap acara. Sedangkan aku dan Fika, lebih banyak diurus pengasuh dirumah. Hhh...
Begitulah masa kecil yang selalu kuingat.
Itu sebabnya, ketika Papa melakukan suatu kejahatan yang sangat besar bahkan mencelakakan Mama, aku paling membenci Papa.
Kini semakin lebih benci, setelah Papa justru menambah lagi kesalahan lebih fatal lagi.
Aku, yang hanya anak tengah yang seperti makhluk tak kasat mata hanya bisa menyalahkan Papa. Selalu dan selalu.
Bahkan hingga akhir hayatnya, aku kecewa pada semua tindakannya.
"Jangan seperti itu, bro! Papa sangat menyayangi kita. Sampai akhirnya berkelakuan seperti itu juga, karena beliau terlalu sayang kita."
Itulah ucapan jawaban Christian ketika aku menyambanginya dikala senggangku sebagai seorang dosen pindahan di Surabaya. Dan kami mengobrol banyak hal, terutama soal aib Papa.
"Apanya yang sayang? Justru Papa tidak punya rasa sayang pada kita! Kalau betul dia sayang, pasti mikir panjang kali lebar untuk berbuat hal buruk yang mencemarkan nama baiknya juga keluarga. Apa dia gak mikir, status poligami, juga korupsi... itu bakalan bikin hancur mental anak-anaknya?!? Harusnya sebelum berbuat, mikir dulu pakai otak!"
"Manusia tempatnya khilaf. Papa kita itu manusia, bukan malaikat!"
"Tapi setidaknya, pikirkan dulu tindakannya masak-masak. Semua khayalan mimpinya di masa muda yang baik-baik, musnah semua karena nafsu. Yang rugi siapa? Dan lalu dengan tidak punya perasaan pula, dia bunuh dirinya sendiri sebelum meminta maaf pada Tuhan!"
Plak.
Kak Christian menamparku. Hingga aku tersadar, kalau kata-kata yang keluar dari bibirku sudah sangat kelewat batas.
Karena aku kesal pada tingkah Papa. Pada kelakuan Papa. Sungguh memalukan! Sangat menyakitkan!
Aku terdiam dan kak Chris hanya bisa menghela nafas.
"Tugas kita sekarang hanyalah mendoakan kedua orangtua kita! Bukan menghakiminya!"
"Hhh... Andai aku jadi orang tua nanti,"
"Apa? Mau ngomong apa kau? Nikah dulu, baru kau sesumbar ngomong andai jadi orang tua!"
Hhh... Christian kini seolah meledekku. Membuatku tersenyum kecut melirik wajahnya.
"Kak!... Aku ingin menikahi Viona!"
Kulihat wajah kakak sulungku pucat pias. Bola matanya membulat, melotot tajam ke arahku yang memang suka usil menjahilinya yang kurasa sangat santui hidupnya.
__ADS_1
"Tidak boleh! Tidak akan kuizinkan!"
"Kenapa? Beri aku alasan yang tepat!"
Aku marah. Kak Christian tadi menyuruhku menikah, tapi dia mematahkan semangatku agar tidak menikahi Viona. Kenapa?
"Apa kau tidak tahu? Atau kau pura-pura tidak tahu?" umpat kak Chris, lebih emosi dariku.
"Aih? Kenapa malah Kakak jadi lebih garang daripada aku?"
"Viona itu istrinya Herdilan!"
"Mantan istri!"
"Ya, ralat...mantan istri!"
"Lalu?"
Bug.
Aku kaget mendapat serangan pukulan telak kena perutku.
"Kau magister, seorang dosen pula tapi otakmu lemot untuk urusan beginian!"
"Apa? Apa lagi salahku??" omelku agak sesak. Untung saja perutku kosong, belum makan siang.
"Herdilan itu adalah saudaramu!"
"Saudaramu!!! Bukan saudaraku!"
Aku ngegas. Kesal dan jengkel mendengar alasannya.
"Aku menyukai anaknya, bukan menyukainya!"
Bug.
"Kau ini gila apa mabuk sih?" Lagi-lagi Kak Chris menghantam bahuku keras.
"Kau bilang tadi nikah dulu, baru sesumbar ngomong andai aku jadi orangtua! Haish! Masih salah pula, aku!"
"Hadeh... otak dosen koq gini ya, dalam urusan percintaan! Maksudku nikah dengan orang yang kamu suka, Brik!" (Kak Chris suka memanggilku 'Brik' karena namaku Roger. Panggilan kode untuk HT atau walkie talkie)
"Hhh...! Tak ada orang yang kusuka! Menikah apakah harus ada cinta?"
"Hei... Kenapa nada ucapanmu sinis begitu? Move on, masih banyak perempuan lain selain mantan tunanganmu itu! Ayolah!"
"Heleh! Kakak...pandai kau berkata-kata! Padahal beberapa bulan lalu, kau pun panas dingin gelindingan takut menyandang status duda nyaris ditinggal kak Lody, khan?"
"Sstt...! Lembaran lama jangan dibuka lagi."
"Berkat Viona, kak Lody justru kini menerimamu sebagai seorang istri! Iya khan? Lantas kenapa kini aku tak boleh menikahinya?"
"Herdilan masih hidup, Roger! Suatu hari nanti dia pasti akan mencari Viona dan anaknya. Walau bagaimanapun, dia itu adalah anaknya Papa juga! Kumohon kau mengerti, bukan aku melarang karena tak ingin melihat Viona bahagia! Aku sedang mendekatkan Viona dengan kawan lamaku."
"Shiiit! Dulu dia hampir menikah dengan Om kita!"
"Justru itu! Batalkan keinginanmu! Kita tidak boleh terus-terusan mempermainkan Viona. Nasibnya harus kita rubah, Brik!"
Hhh...
__ADS_1
Aku mengerti. Tanpa Kakakku ungkapkan pun alasannya, tentu aku faham. Aku hanya ingin memastikan perasaanku pada perempuan yang kini satu atap denganku itu di rumah mendiang om Jonathan.
Perempuan sederhana yang ternyata adalah putri dari pasangan suami istri meninggal dunia karena kecerobohanku tanpa sengaja.
Aku mengenalnya dari Om ku. Jonathan Lordess.
Beliau bercerita banyak tentang Viona. Tentang cintanya yang besar dan agung pada perempuan yang sedang mengandung itu.
Tentang cita-cita luhurnya, menerima calon bayi yang nanti lahir dari rahim perempuan itu, meskipun seorang mantan istri dari putra Papa dari istrinya yang lain.
Aku... pria biasa, yang flat dan datar hidupnya, hanya bisa melongo bingung mendengarkan cerita mengharu biru om Jo saat itu.
Sampai kupikir, punya pelet apa perempuan ini sehingga om ku bisa begitu terbuka dan terpesonanya pada Viona.
Dan peristiwa berdarah itu datang. Merenggut nyawa Om juga Papa. Hingga akhirnya aku terpaksa harus satu atap dengan Viona yang kemudian melahirkan.
Seorang bayi laki-laki, mungil, kecil masih berlumuran darah. Berada dalam genggaman tanganku, dalam pangkuan dan dekapanku.
Detak jantungnya seperti irama musik yang menenangkan. Tatapan matanya bagaikan sinaran butir kelereng yang berkerlip indah. Pipinya, wajah, hidung dan keseluruhan visualnya. Terlebih kepalan mungilnya yang menggenggam erat jemari telunjukku seperti sangat membutuhkan tuntunan.
Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta pada seorang bayi.
Aku azani. Serta iqomat-i.
Bayi itu diberi nama Dzakki Boy Julian. Boy adalah request-anku. Entah untuk dua nama depan dan belakangnya, dari mana aku tak tanya.
Putranya seperti mengerti telepati yang Om Jo amanatkan padaku. Bahwa aku harus menyayangi dan mencintainya seperti kerabat sendiri. Karena putra Viona akan jadi putra kesayangan om Jo.
Bahkan Om Jo dengan gampangnya mewarisi bayi kecil itu sejumlah aset warisan yang tak sedikit jumlahnya.
Awalnya, aku tak terlalu suka dengan Viona. Merasa kalau dia punya ilmu guna-guna sampai Om Jo ku bisa sebegitu terpesonanya.
Viona memang cantik, tapi tak cantik-cantik amat. Sederhana malah orangnya. Tidak terlihat suka berdandan modis seperti kebanyakan perempuan sebaya lainnya di luar sana.
Aku... tentu saja malas berdekatan dengannya meski aku sangat menyayangi putranya.
Tapi aku mulai merubah sikapku setelah tahu kalau Viona adalah putri dari pasutri korban lalu lintas itu. Janjiku dulu, akan mencoba mengurus anak tunggal pasutri tersebut kini kesampaian.
Ternyata, berdekatan dan hidup satu atap dengan Viona membuatku perlahan makin respek padanya.
Viona wanita baik-baik ternyata. Bahkan tak pernah memakai pakaian terbuka di rumah om ku. Dia santun, berbudi halus dalam mendidik putranya. Walau kadang agak labil memperlakukan bayi mungil tak berdosa itu.
Hanya saja, dia cengeng. Terlihat rapuh sekali walau tak mau mengakui.
Entahlah... Tapi kulihat ia sangat mencintai Om Jonathan. Bahkan lebih mencintai Omku dibanding mantan suaminya sendiri.
Karena Viona seringkali menangis sendirian di sudut-sudut ruangan rumah jika ia teringat om Jo.
Hhh...
Aku...akhirnya tertawan juga pada kebaikan hati Viona yang bisa menempatkan diri.
Fika adikku berkelakuan aneh. Ia menyayangi Viona, namun membenci putranya. Tentu membuat perempuan itu sedih.
Tapi Viona tak membenci Fika. Ia justru tetap berteman dan menelpon Fika sesekali. Meski kutahu hatinya sakit dan sedih karena sang putra tak diakui Fika.
Viona... pantas saja Om ku begitu menyayangi dan mencintai kelembutan hatimu.
...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...
__ADS_1