PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 233 POV TASYA JESSICA


__ADS_3

Hidupku kini sudah lebih baik. Alhamdulillah.


Tuhan menegurku dengan cara-Nya.


Begitu banyak cobaan yang membuatku menjadi pribadi yang berwarna.


Sikapku yang selalu kekanak-kanakkan dalam mengambil sikap sedari muda dulu, kini kusadari amatlah salah.


Bahkan akibat dari tindakanku yang tak kupikir dahulu itu membuat banyak kekacauan serta kehancuran hidup orang-orang yang kusayangi.


Terutama suami dan anak tunggalku.


Aku secara tidak langsung adalah orang yang bertanggungjawab atas kerusakan moralitas suami serta putraku. Hhh...


Kini hanya air mata penyesalan yang jatuh berlinang di setiap sujudku pada Si Empunya Kehidupan.


Penyesalan tinggal penyesalan. Semua hanyalah menjadi arang hitam dalam hidupku menjadi semakin kelam.


Aku sangat bangga memiliki keponakan yang luar biasa. Karena Christian-lah arang hitam di wajah serta hatiku perlahan memudar.


Aku ingin sekali mendedikasikan akhir hidupku untuk para ponakanku yang dulunya adalah korban kebiadabanku pada mama mereka.


Kak Tania Camila.


Perempuan hebat, luar biasa, dan tak ada duanya di dunia ini.


Meskipun suaminya menikah lagi denganku tanpa sepengetahuannya, beliau nyaris tak pernah marah padaku.


Beliau sangat menyayangiku.


Dan masih sangat kuingat kata-katanya ketika aku yang baru berumur lima tahun, masuk kedalam keluarga kecil mereka.


"Tasya..., kamu adalah adikku. Sampai kapan pun kamu adikku. Walau bagaimana pun nanti kehidupan keras menerpa kita, ingatlah selalu... aku adalah kakakmu! Ya?!?"


Air mataku berlinang.


Kembali menyesali betapa aku telah menjadi iblis dalam rumah tangganya yang harmonis.


Aku... hanyalah sangat iri pada hidupmu yang sempurna. Kak Tania cantik luar biasa. Benar-benar wanita cantik karena sang Mama yang asli orang Belanda. Sedangkan aku, Mamaku Jawa dan Papaku orang Melayu. Sudah pasti dibandingkan wajah kak Tania yang blasteran, wajahku akan jomplang.


Kak Tania bersuamikan pria gagah. Tinggi dan berbadan tegap berisi. Mas Bambang. Hhh...


Andai waktu bisa kuputar ulang kembali.


Andai saja jiwa rakusku tidak menguasai diri ini...


Mungkin semua tidak akan sehancur ini.


Andaikan aku menepati janjiku, minta cerai setelah Herdilan lahir. Andai aku, tidak jatuh cinta pada suami kakakku setelah mendapatkan perhatian khusus mas Bambang karena kehamilanku yang tidak tepat waktu itu.


Andai, andai...

__ADS_1


Penyesalan selalu datang belakangan.


Hhh...


Kak Tania, mas Bambang... semoga Tuhan menyatukan kalian kembali di syurganya Allah Ta'ala. Aku siap menerima semua hukuman dari apa yang kuperbuat kini. Bahkan jika Tuhan memanggilku pun saat ini, aku ikhlas.


Namun ada satu hal yang masih menjadi unek-unekku.


Herdilan putraku, masih memiliki masalah pribadi dengan mantan istri pertamanya. Viona Yuliana.


Bahkan aku sangat takut sekali, kalau-kalau Delan kembali terperosok ke dalam lubang kegelapan yang lebih besar.


Membuatku ingin sekali berdiskusi dengan Christian. Memohon bantuannya, agar putraku berjalan di jalan lurus. Tidak lagi melakukan kesalahan-kesalahan yang akan dia sesali seumur hidupku.


Mimpiku terakhir soal kedatangan Mas Bambang, yang memarahiku agar tidak membiarkan Delan kembali mengganggu Viona. Sepertinya aku mendapatkan titik terang.


Dari arah pembicaraan empat mataku bersama Christian, Viona melahirkan bayi laki-laki dengan dibantu oleh Roger sejak persalinan.


Mungkinkah kak Tania memberi wasilah kalau Viona itu adalah jodohnya Roger, putranya? Dan bukan lagi jodoh putraku? Mungkinkah? Apakah mereka bisa berbagi istri meskipun mereka sedarah? Bukan berbagi istri maksudku..., Tapi berpindah istri. Mantan istri Herdilan kini akan dinikahi oleh Roger?


Tuhan Maha Segalanya.


Tiada yang lebih Berkuasa selain daripada Allah Ta'ala.


Aku kini semakin yakin di setiap sujudku. Dan mendoakan yang terbaik pula untuk anakku serta keponakan-keponakanku.


Fika berdiri dihadapan kami. Matanya membulat dan merah menahan amarah.


"Mau apa kau di rumah kakakku?" tanyanya ketus sekali. Tapi aku tidak marah apalagi membenci Fika. Tidak sama sekali.


"Fika! Jangan berkata kasar seperti itu!" Christian berusaha menasehati adiknya.


Aku hanya mencoba menahan Chris, agar Fika tidak salah faham padanya.


Tak mengapa, aku dibenci Fika. Tapi Fika tidak boleh berfikir kalau Christian mengesampingkan perasaannya.


Fika masih sangat muda. Dua puluh enam kini usianya. Wajar saja jika pemikirannya seperti itu.


Ditambah lagi dengan trade markku di masa lalu. Yang memang fakta sebagai pelakor alias perebut laki orang yang tak lain dan tak bukan adalah Papanya sendiri.


Otomatis hal yang wajar jika Fika membenciku.


"Perempuan tidak punya harga diri! Cih!" hardik Fika padaku. Aku hanya bisa menunduk.


Dalam hati mengiyakan ucapan Fika.


Aku memang tidak punya harga diri.


Merebut Papanya dari sisi sang Mama. Padahal Mamanya adalah sepupuku sendiri. Kalau bukan perempuan laknat, perempuan hina... semua cap pedas pantas diberikan padaku.


Aku baru menyesali sangat dalam kelakuan jahatku dimasa lalu.

__ADS_1


"Sudah, Fik! Sudah!"


"Untuk apa wanita ini ke rumahmu, Kak? Untuk menghasut kita? Untuk menghancurkan putra-putri madunya yang kini telah yatim piatu gara-gara kejahatannya?" Fika menangis.


Maaf, Fika! Maaf... Hik hik hiks... Ternyata luka hatimu teramat dalam karena toreh pisau yang tante lakukan selama ini. Maaf, Fika!


Aku membenci diriku sendiri, kini.


Aku benar-benar iblis jahanam.


Tapi aku ingin di sisa umurku kembali menjadi manusia. Yang meskipun banyak dosa dan tempatnya salah, aku ingin mencoba merapikan kelakuan burukku di masa lalu.


Aku ingin semua keponakanku bahagia. Termasuk Roger dan Fika. Roger... semoga berjodoh dengan Viona. Dan Herdilan putraku juga bisa move on kedepannya.


Aku hanya ingin berdiskusi soal itu.


.....


Fika sakit. Tubuhnya panas tinggi dan muntah terus tiada henti. Sedangkan Mutia istri Christian sedang mengantar kedua putra-putri kembarnya study tour ke Bandung.


Chris sendiri sedang ada rapat di kota hujan. Dan masih ada di sana untuk waktu yang cukup lama.


Aku takut Fika dehidrasi.


Chris menelponku. Memberitahukanku keadaan Fika yang mengkhawatirkan dirumahnya. Membuatku langsung meluncur dengan naik ojol.


Fika kubawa kerumah sakit, meski sempat ada perdebatan panjang dan penolakannya.


Namun melihat kondisinya yang semakin lemah, aku sempat keluarkan ancaman.


"Mau diantar tante ke rumah sakit, atau tante telepon ambulance biar jemput Fika dan bawa ke RS?!"


Kontan saja pias wajah Fika. Gadis manis itu sangat takut ambulan sedari kecil. Bahkan semakin phobia setelah Mama dan Papanya meninggal dunia.


Pasti mendengar ancamanku, panas dingin juga ia. Padahal aku hanya gertak sambal saja.


Akhirnya Fika mau juga kubawa ke rumah sakit.


Untungnya kami termasuk cepat tanggap menyikapi sakitnya Fika. Jika tidak, Fika terancam dehidrasi parah dan harus dirawat rumah sakit.


Fika sangat takut dirawat di rumah sakit. Akhirnya ia mengikuti saranku untuk istirahat di rumah yang Chris berikan pada kami.


Aku senang sekali. Bisa merawat keponakanku yang manis. Setidaknya, dosa-dosaku pada kak Tania bisa kutebus meski hanya seujung kuku saja pada Fika.


Apalagi ternyata putri kak Tania sangatlah manis dan perasa. Ah... tetesan airmata ini selalu mengalir mengingat betapa Tuhan sangat sayang padaku, hingga Fika pun jadi baik dan menurut padaku.


Fika, maafkan tante, Nak! Maafkan tante yang sangat buruk di masa lalu.


Semoga sholat Subuh berjamaah dengan Herdilan sebagai imam membuat semua dosaku perlahan berkurang, walau hanya secuil saja. Aamiin...


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2