PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 10 Perbandingan Delan dan Kak Firman


__ADS_3

"Ada teman kampusmu! Turun dulu, Vi!"


Aku terkejut ketika ibu berkata seperti itu.


Teman kampus? Aku tak pernah membawa teman kampus kerumah. Baik cewek apalagi cowok. Bahkan sedari SMA. Kecuali di saat-saat banyak tugas kelompok yang tidak diizinkan ayah untuk belajar di rumah teman. Alhasil kamar tidurku yang memiliki ruangan lebih serta balkon menjadi basecamp kelompok belajarku kala itu.


"Siapa, Bu?"


"Delan!"


"Delan? Herdilan Firlando?"


Aku sangat terkejut mendengar nama Delan yang ibu sebut datang ke rumah kami.


Mau apa si Delan ke sini?


Aku segera merapikan wajahku alakadarnya. Mengganti celana gemesku dengan celana training yang lebih panjang. Kaos oblongku tak kuganti karena kupikir ini lumayan oke.


Kulangkahkan kakiku menuruni anak tangga mengikuti ibu yang berjalan didepannya.


"Tumben-tumbenan...!" gumamku membuat Ibu menoleh dan tersenyum.


Lah? Koq Delan justru sedang duduk diruang tamu. Mengobrol santui dengan ayahku?


"Kenapa Vio dipanggil?" tanya Ayah membuatku termangu, bengong.


"Tadi... Itu Delan...?" kataku kebingungan.

__ADS_1


"Delan, Ayah koq yang telepon!" tutur Ayahku lagi.


"Maksud Ayah?"


"Ayah sama Delan mau pergi mancing, Vi! Ke PLTU. Cari kijing!"


Lagi-lagi aku bengong. Menoleh ke ayah, lalu memandang ke arah Delan yang tersenyum sembari mengangkat tangannya dengan dua jari telunjuk serta tengah dilambaikan.


Hah?!? Sejak kapan Ayah dan Delan dekat begitu? Haish... Bodo amatlah! Toh aku juga tak terlalu kenal akrab dengan si Delan itu.


"Jadi Vi boleh balik kamar lagi, nih?" tanyaku ngasal.


"Ya, silakan! Delan ga ada urusan sama Viona!" jawab Ayah membuatku garuk-garuk kepala.


Hadeh... Serahlah!


Tapi ya sudahlah... Mungkin karena Ayah pernah bertemu Delan sewaktu aku pingsan karena minuman di acara pagelaran musik tempo hari itu.


Mungkin Ayah fikir, Delan lelaki yang baik. Karena mau membantuku saat itu. Dan memang kuakui, Delan lelaki baik. Meski terkesan lemot juga cupu dimataku.


Mungkin juga pembicaraan mereka bisa nyambung satu arah. Hingga Ayah merasa nyaman berteman dengan Delan yang jelas-jelas bukan generasinya.


Hhh...


Aku kembali dengan duniaku.


Menggambar mangaku.

__ADS_1




Aku belum pernah merasakan pacaran. Tapi daya khayalku lumayan tinggi untuk membuat gambar-gambar romantis sepasang kekasih.


Dimataku, pacar itu adalah sosok yang paling istimewa tentunya. Selain selalu bersama dalam suka maupun duka. Pacar juga harus bisa mengikuti selalu jejak langkahku. Mendukung dan saling mensupport satu sama lain.


Bisakah aku pacaran dengan Kak Firman?


Tuk tuk tuk.


Kuketuk dahiku dengan pensil 2B yang tengah kupegang.


Sadar, sadar


Kak Firman memang pria idaman. Wajah ganteng, otak tokcer, kehidupan sosialisasinya juga mantaf jiwa. Walau aku belum tahu kehidupan pribadi serta keluarganya, tapi dari gaya sikap kak Firman yang santai dan santun bisa kupastikan kalau ia anak keluarga baik-baik.


Andaikan ayah bisa dekatnya dengan kak Firman, bukannya Delan. Hhh...


Tanpa sadar fikiranku membandingkan kedua teman lelaki di kampusku itu.


Ya memang begitu adanya. Bukan maksud membandingkan keduanya yang bagaikan langit dan bumi.


Delan memang kini aktif juga sebagai anggota HIMA dibawah kepemimpinan kak Teguh, dan kak Firman sebagai sekretarisnya.


Tapi penampilan Delan kunilai enam puluh saja sedang kak Firman sembilan puluh. Jauh bukan?

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2