PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 231 POV ROGER GIBRAN SUHERMAN


__ADS_3

Hhh...


Viona seperti menolakku meski belum benar-benar kutembak.


Jawabannya terdengar ambigu dan lebih memilih melanjutkan hidupnya dengan pindah ke pulau Bali, menempati Villa yang dihibahkan om Jo pada Dzakki.


Sejujurnya hatiku sedih.


Bali-Surabaya cukup jauh. Butuh tenaga juga ongkos yang besar untuk bolak-balik sebulan sekali. Sedangkan aku semakin tak mampu menahan rinduku pada Dzakki juga Viona.


Viona ternyata perempuan yang cukup keras kepala.


Namun seperti apapun pilihan yang diambilnya, aku menerima semua diri serta pribadi Viona lengkap satu paket.


Meski aku sangat gugup, kenyataan dia menolakku secara halus untuk tinggal bersama di Surabaya dan memilih pindah ke Bali saja.


Apakah Viona adalah jodohku? Kenapa jalan menuju cintaku teramat sulit dan terjal?


Hingga perlahan... Herdilan dan Mamanya seperti Allah dekatkan pada kami, putra-putri Papa Bambang dan Mama Tania.


Entah berawal dari mana, kami kini jadi sering bertemu walau masih kaku. Canggung dan kikuk pastinya. Terlebih aku juga Fika.


Terkadang bayangan Mama yang telah tiada berkelebat di benak kami. Juga Papa yang telah pergi meninggalkan kami dengan kerumitan ini.


Andai waktu bisa diputar ulang kembali, tak ingin aku melihat semua benang kusut hidup keluargaku.


Tapi... Semua adalah Takdir-Nya.


Yang kini kutahu adalah untuk mendewasakan kami semua dalam menyelesaikan masalah.


Walau harus berdarah-darah.


Walau banyak menelan korban jiwa.


Mama, Om Jonathan Lordess dan Papa.


Semoga Allah mengampuni segala dosa mereka. Menerima amal kebaikan mereka. Serta menempatkan mereka di surga. Aamiin.


Sebelum aku mengunjungi Bali demi menengok Dzakki, aku kembali dahulu ke Jakarta.

__ADS_1


Entah mengapa, aku sangat ingin mengunjungi makam Ayah Ibu Viona. Juga aku ingin menziarahi kuburan Papa. Sedangkan makam Mama dan Omku ada di Singapura.


Tanah pekuburan yang kering, namun cukup sejuk dengan angin sepoi-sepoi yang menerpa dedaunan dari pohon sekitar makam.


Makam Ayah dan Ibu Viona terurus dengan baik. Pengurusnya cukup bertanggung jawab karena aku membayarnya rutin via transfer tiap bulan meski jarang kukunjungi.


"Pak, Bu...! Viona kini telah pindah ke Bali. Dan saya mewakili Viona meminta restu kalian atas kelalaian kami sebagai anak. Semoga kalian tenang di alam barzakh."


Doa kubur kupanjatkan dalam hati dengan menyematkan surat al-Fatihah sambil menyebut nama keduanya agar senantiasa damai dan tenteram disisi Allah Ta'ala.


Pluk.


Tiba-tiba sebuah ranting kecil jatuh tepat di telapak tanganku. Ranting kayu berwarna coklat pekat sebesar ibu jari, membuatku cukup kaget nyaris melompat.


Mungkin tertiup angin hingga terbang dan jatuh ke telapak tangan kananku.


Aku lalu meluncur menuju makam Papa.


Terlihat taburan bunga mawar merah di atas pusara.


Sepertinya kak Christian rajin mengunjungi makam Papa. Setiap kali aku kesini, makamnya selalu bertabur kelopak bunga mawar dan juga harum aroma air doa.


Ditengah kesibukannya sebagai seorang CEO, dan juga bapak dari dua anak kembar, ia masih sempat menyambangi makam Papa setiap minggunya.


Kadang aku seringkali bertanya-tanya. Seberapa kuatkah hati dan dirinya dalam menghandle semua permasalahan hidupnya.


Hhh... Otaknya pasti dipenuhi aneka kabel-kabel istimewa yang sangat penting yang Tuhan beri sehingga bisa menjadi pribadi yang hebat itu.


Sama seperti ritual yang kulakukan di makam Ayah dan Ibu Viona. Mendoakan beliau meski kematiannya mengecewakan kami semua.


Tapi... ya sudahlah ya.


Ini semua Takdir. Semua yang terjadi pada Papa dan Kami adalah Ketentuan Illahi.


Seiring waktu yang menjadi pengobatnya, aku mulai bisa berfikir jernih.


Tuhan Maha Kuasa. Dan Tuhan Maha Pengasih lagi Penyayang.


Selepas aku dari makam Papa, rumah kak Chris adalah tujuan terakhirku di Jakarta.

__ADS_1


Ternyata... wajah saudara tiriku yang menyebalkan ada di sana. Membuatku muak ingin muntah.


Kuisengi dia dengan mengajak tanding. Dan mengatasnamakan Viona serta di dalamnya. Aku hanya ingin tahu, seberapa besar cintanya pada Viona. Dan seberapa dalam penyesalannya pada perempuan yang pernah ia sengsarakan.


Dia ternyata menerima pertarungan ini.


Dihadapan kak Christian, aku menghajarnya dengan mengancam agar tak lagi mengganggu kehidupan Viona juga Dzakki di masa depan.


Jujur aku pun tak tahu, akankah mereka berjodoh kembali. Atau... bisakah Viona menjadi jodohku? Tiada yang tahu.


Aku hanya ingin melampiaskan amarahku saja padanya dalam semua permasalahan yang ada di keluarga kami.


Dan cukup terwakili juga.


Herdilan cukup gentle. Dia mengakui semua kesalahannya di masa lalu juga meminta maaf pada kami atas kesalahan mamanya juga.


Hhh...


Hidupku yang rumit, mau tak mau harus kuurai kerumitannya.


Walau bagaimanapun dia anak Papa.


Benar kata kak Chris. Sebenci apapun aku padanya, toh Herdilan tetaplah saudara tiriku.


Sejauh manapun kami melangkah, darah yang sama mengaliri nadi kami pula.


Mau tak mau akhirnya aku menerima semua keadaan ini. Herdilan dan tante Tasya pun sudah berubah. Mereka menyesali semua perbuatan buruk di masa lampau.


Ya sudahlah ya.


Hm...


Dzakki..., Ayah akan terbang besok subuh ke Bali. Kita akan bertemu lagi. Ayah kangen kamu, Nak! Kangen sekali!


Aku tidur di rumah almarhum om Jo. Dan mimpi indah sekali. Om Jo terlihat sangat tampan dengan dikelilingi kupu-kupu dan bunga aneka warna.


Dalam mimpiku ia tak bersuara. Hanya tersenyum manis dengan tatapan sejuknya.


Hhh... Moga mimpi ini bukan suatu pertanda buruk ya Tuhan!

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤...


__ADS_2