PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 193 POV CHRISTIAN SUHERMAN


__ADS_3

Haruskah dendam dibalas dendam? Haruskah mata diganti mata dan nyawa ditukar nyawa?


Apakah kita ini Tuhan?


Pantaskah kita menjadi hakim bagi sesama makhluk yang juga Ciptaan Allah Ta'ala.


Betul. Semua ada balasan.


Betul. Kejahatan pasti dibalas kejahatan.


Tapi apakah harus manusia pula yang membalas? Ataupun oleh objek itu sendiri karena subjek membully?


Semua adalah kesinambungan kehidupan.


Pernahkah pengemis yang kita kasih sedekah lalu membalas kebaikan kita dengan mengembalikan uang sedekah kita berkali-kali lipat? Andai iya. Kemungkinan uang itu menjadi riba karena melebihkan uang sedekah yang hukumnya seperti bunga pinjaman.


Tuhan Yang Membalas kebaikan tulus ikhlas kita berlipat ganda. Tapi melalui orang yang berbeda.


Namaku Christian. Umurku sudah tidak muda lagi. Tiga puluh tujuh tahun kini. Dan telah banyak fase kehidupan yang kulalui.


Pahit, manis... asam, asin... telah kurasakan walaupun belum sesempurna orang lain.


Aku... melihat sendiri kegetiran hati Papaku yang terluka oleh perbuatannya sendiri. Yang menyesali kesalahan langkahnya di masa lalu.


Seperti... berada dalam ruang waktu yang berbeda. Melihat Papaku berjongkok dipojokan gelap. Menangis tersedu sedan menatap mataku yang ketakutan.


Papa... seolah meminta bantuanku lewat sorot matanya. Tapi bibirnya terkatup tak mau mengungkapkan sesedihannya.


Papa sedih di alam kuburnya.


Malam-malam panjang kulalui dengan berdoa dan berdoa. Ayat demi ayat, surat demi surat kitab suci kucoba haturkan untuk ketenangan Papa tercinta.


Ya.


Aku terluka juga. Bahkan cukup parah. Untuk melihat dan menyaksikan sendiri langkah salah Papa yang teramat fatal.


Papa terjebak oleh langkah gilanya sendiri dalam menghamba dunia. Hubbulnya terlalu berlebihan. Hingga Papa lupa, dunia hanyalah sementara.

__ADS_1


Yang aku tangisi adalah kepergian Papa yang sia-sia. Senjata api jadi pilihan bodohnya mengakhiri hidup.


Sepintas kadang ada pemikiran picikku seperti Roger, mengapa Papa tidak memikirkan jangka panjangnya.


Mengapa Papa tidak menilik kehidupan kami selanjutnya? Psikis dan juga fisik kami, ikut terluka parah oleh pilihan Papa yang salah.


Aku... hanya bisa menangis dan menangis.


Menyesali nasib buruk keluarga kami yang miris dan menyedihkan. Padahal dahulu kami adalah keluarga yang bahagia. Penuh tawa suka cita. Tapi kini bahkan kami seperti tak lagi bermuka.


Kami, ketiga putra-putri Papa tercinta. Dan kuyakin, putra Papa dari tante Tasya pun memiliki perasaan yang sama seperti kami.


Perasaan malu, perasaan sedih, duka lara dan kecewa.


Wajar bagiku mendengar kekesalan Roger yang jadi kurang ajar memandang Papa. Manusiawi bagiku yang juga punya banyak kelemahan.


Juga lumrah bagiku tingkah konyol kekanak-kanakan Fika dalam menyikapi kehadiran Dzakki, putra Delan dan Viona yang ia pandang sedikit saja.


Hhh...


Aku anak tertua gen Bambang Suherman. Adik kandungku dua orang. Dan satu adik tiri dari tanteku sendiri. Otomatis sebagai anak paling besar, tugasku cukup berat dan besar dalam membimbing ketiga adikku hingga keduanya menjadi the real manusia dewasa seutuhnya.


Juga Herdilan. Meskipun pernah menikah, dia memiliki rekam jejak buruk dalam hidupnya.


Menjadi PR berat untukku menata Herdilan menjadi pribadi yang baik.


Memang, mereka semua bukan lagi anak di bawah umur. Mereka sudah dewasa. Bahkan bisa dikatakan matang di usianya.


Namun semua seperti anak ayam yang belum mandiri, yang berkeliaran kesana kemari tanpa bimbingan dari orang terdekat.


Apakah sebesar ini beban dipundakku?


Bahkan aku harus pula menanggung hidup seorang janda Papa yang kini tidak stabil jiwanya. Yakni Tante Tasya.


Adapun seorang istri Papa yang lainnya, Tante Catliya, juga sudah kusambangi beliau dengan baik-baik.


Sebuah rumah kecil dua kamar dan satu usaha konveksi kurasa cukup untuk keluarga kecil mereka yang pernah menjadi bagian hidup Papa Bambang kurang lebih selama lima belas tahun.

__ADS_1


Tante Catliya tidak memiliki anak dari Papa. Sehingga tanggunganku tidak sebesar pada tante Tasya.


Tapi aku tidak menganggap itu beban.


Aku menganggap mereka semua kewajiban bagiku yang harus aku luruskan dan bereskan satu persatu secara perlahan.


Bahkan dalam mimpiku lagi, Papa mengangguk-angguk meski masih terlihat berjongkok mengenaskan dipojok ruangan yang gelap.


Tapi setidaknya, langkah yang kuambil ini sedikitnya bisa meringankan beban Papa di alam barzakh sana.


Masih banyak tugasku yang belum kuselesaikan dengan baik.


Salah satunya adalah gumpalan benang kusut pusaran keluargaku khususnya Herdilan dengan Viona Yuliana.


Perempuan itu memiliki tali tambang yang masih menjerat lehernya meskipun auranya cerah berwarna.


Secara batin, masih ada tali pengekang yang dipasang Herdilan padanya. Dan belum juga terbebas meski mereka dalam hukum sudah resmi berpisah.


Aku hanyalah berdiskusi dengan diriku sendiri. Berdoa dan berdoa setiap sepertiga malam. Meminta Tuhan bukakan jalan dan caraku agar bisa menyelesaikan permasalahan mereka meskipun harus perlahan.


Ada sosok lain yang lebih indah auranya di masa depan. Bahkan aku yakin, kalau anak ini akan jadi orang hebat dewasa nanti.


Dzakki Boy Julian. Putranya Viona dan Delan benar-benar pembawa berkah bagi keduanya.


Tapi apakah mereka masih berjodoh, aku tidak tahu. Karena aku bukanlah paranormal yang bisa membaca garis hidup seseorang. Bukan.


Aku juga bukan Tuhan. Yang mengatur dengan mudahnya seolah membolak-balikkan telapak tangan.


Aku manusia biasa.


Yang inginkan kebahagiaan untuk semua keluargaku.


Yang inginkan keberkahan dari semua anugerah yang Tuhan beri pada kami.


Itu saja. Itu saja keinginanku.


Semoga langkahku ini tetap berada di jalan-Nya. Dan mendapat restu serta izin Allah Ta'ala. Aamiin...

__ADS_1


...❤❤❤BERSAMBUNG ❤❤❤...


__ADS_2