PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)

PEMBALASAN DENDAM ISTRI PERTAMA (I Don'T Love You Anymore)
BAB 165 PERJALANAN CINTAKU


__ADS_3

Apa yang kupikirkan ternyata tak selamanya benar.


Dokter Diandra, bukanlah Dokter yang suka menggoda perempuan seperti aku yang dalam status tanda kutip alias janda.


Kukira dia dokter yang hanya iseng, dan mencoba memberiku harapan palsu atau sekedar ingin menjajal saja. Karena ketika kutanya status, jawabannya seperti mengambang begitu.


Setelah tugas kuliah tempo hari, aku tak mendapat kabar apapun. Juga chatan ataupun telepon untuk pertemuan selanjutnya seperti tempo hari.


Aku juga tak mau ambil pusing.


Kemungkinan ia mundur setelah melihatku sebagai perempuan jutek yang angkuh dan sombong ketika digoda ringan saja.


Atau mungkin minder setelah mengetahui kalau aku ini adalah janda beranak satu. Entah!


Tiba-tiba aku kembali teringat masa lalu, dimana dulu kak Firman yang minder duluan ketika tahu kalau Ayah seorang tentara.


Hm... Tapi, alam memang tak berpihak. Intinya memang kami tak berjodoh. Itu saja.


Aku juga tak ngoyo untuk kembali mencari CINTA.


Meski kadang ada saat-saat dimana aku juga butuh perhatian dari seseorang. Butuh kata-kata penghiburan dari seseorang yang mencintai setulus hati. Butuh tempat untuk berbagi rasa. Baik suka maupun duka.


Tapi... ternyata belum ada. Ya, apa mau dikata.


Biarlah kupasrahkan saja semua Takdir ini pada Yang Maha Kuasa.


Roger kini perlahan juga mulai melonggarkan ikatan kasih sayangnya pada Dzakki. Katanya ada tawaran kerja di luar pulau Jawa. Dan ia tertarik untuk mengambil kesempatan itu. Otomatis, Roger dan Dzakki perlahan makin menjauh.


Dzakki yang terbiasa mendapat perhatian Roger, menangis semalaman setelah kepindahan Roger ke luar kota. Roger berjanji, akan pulang satu bulan sekali mengunjungi kami.


Aku sedih melihat Dzakki menangis. Tapi ada sedikit ketenangan, karena Roger berani mengambil langkah panjang untuk masa depan kami semua.



Kak Chris dan kak Mutia justru kini lebih dekat denganku serta Dzakki.


Sikembar pun jadi teman bermain putraku dikala hari libur dan keluarga kecil itu menyambangi kami seminggu sekali.


Atau kadang, aku dan Dzakki yang sesekali mendatangi kediaman mereka di perumahan elit Harmony.



"Mami! Kata kak Verrel, kenapa Ayahku pergi? Dan kenapa Mami tak melarang Ayah seperti Mamanya kak Verrel dan kak Velli yang melarang Papanya pergi jauh?"

__ADS_1


Aku bingung. Anakku yang kini usianya tiga tahun setengah menanyaiku soal itu.


Jika kujelaskan sejujurnya, akankah putraku mengerti? Kalau Maminya bukan pasangan dengan Ayah Roger, seperti Papa dan Mamanya Verrel.


Dan yang aku ingin tertawakan juga, ternyata Dzakki tak mau lagi memanggil Kenken dengan sebutan 'Ayah'. Dia kata, Ayah hanya seorang saja. Yakni Ayah Roger. Dan Kenken justru dipanggilnya 'Wawa'. Yang artinya adalah kakak dari orangtua.


Hadeh... Putraku kini sudah besar. Sudah pintar mengatur-ngatur.


"Dzakki belum cukup mengerti untuk Mami jelaskan sekarang. Hehehe...! Sekarang, minum susunya dulu. Biar Dzakki cepat besar dan kuat! Oke?"


"Bisa lebih besar dari kak Verrel?"


"Bisa. Nanti, suatu saat nanti. Hehehe... Tapi memangnya kenapa Dzakki pingin lebih besar dari kak Verrel?"


"Dzakki pingin jagain kak Velli yang suka sekali dijahati kak Verrel!"


"Hehehe... Kak Verrel bukan jahat sama kak Velli. Tapi suka iseng dan bercanda sama kak Velli. Mereka itu saudara kandung. Tidak ada yang jahat. Sama seperti Dzakki juga, saudara mereka. Dzakki tidak boleh jahat pada kak Verrel dan kak Velli! Ya sayang, ya?"


"Dzakki suka pukul kak Verrel karena sudah buat kak Velli menangis!"


"Oalaa... Tidak boleh, sayang! Jangan pukul Kak Verrel. Nanti kak Verrel terluka, dan tidak sayang Dzakki lagi."


"Tapi kak Verrel juga suka pukul kak Velli! Jadi Dzakki bantu balas!"


"Jangan terlalu keras mendidik Dzakki, Viona! Dzakki masih kanak-kanak!"


"Ayaah!!!"


Aku tersenyum sambil menghela nafas. Dzakki melompat kegirangan menerjang Roger yang baru saja datang.


"Ayoyo... Woow, jagoan Ayah semakin besar rupanya! Waduh, waduh...! Ayah bisa kalah ini kalau kita tanding taekwondo!"


"Ayah, ayo Ayah! Kita tanding, sekarang! Dzakki dapat hadiah sarung gloves dari papa Chris! Warna biru, favorit Dzakki!"


"Sayang! Ayah Roger baru juga datang. Ayah masih cape! Dzakki tak boleh ajak Ayah tanding sekarang!"


"Buat Dzakki, apa sih yang engga'! Ayo! Kita tanding! Mana, Ayah mau lihat kehebatan Dzakki pakai gloves hadiah papa Chris?!"


Aku hanya menggeleng-geleng kepala. Begitulah Dzakki, jadi manja jika didekat Roger.


Aku akhirnya mengalah. Meninggalkan dua lelaki beda generasi itu melakukan kegiatan yang laki banget, tanding taekwondo.


Aku menuju dapur. Membantu bi Tini yang seperti biasa. Asyik dengan peralatan perang dapurnya.

__ADS_1


Dulu, bi Tini selalu melarangku membantunya di dapur. Tapi setelah kukatakan kalau aku adalah adik bi Tini, perlahan hubungan kami layaknya kakak adik. Dan jarak yang dulu terkesan jauh, kini semakin dekat. Jadi kami mulai terbiasa membantu satu sama lain tanpa ada lagi rasa sungkan.


Bi Tini yatim piatu sedari kecil. Bahkan beliau ikut kak Jo sejak usianya 20 tahunan hingga kini sekitar 35 tahunan. Sudah belasan tahun.


"Tuan Roger pulang ya?"


"Iya, Bi! Seperti biasa, kedua bocah itu asyik dengan dunia mereka. Saling hajar, pukul dan serang! Hhh... Dunia lelaki yang penuh kekerasan!" sungutku kesal.


Tapi mengingat perkataan Roger tempo hari, kalau Dzakki itu laki-laki. Harus kuat dan harus punya dasar ilmu bela diri. Sebagai bekalnya kelak hidup di dunia nyata yang keras. Tidak boleh cengeng. Karena pria cengeng dan lembek adalah pria yang banyak direndahkan orang lain. Hhh...


Mau tak mau aku mencoba memahami 'dunia laki-laki' dan pemikirannya.


"Ayo, waktunya makan!"


Aku berusaha mengusik kehebohan putraku dan Roger yang penuh tawa serta teriakan. Dzakki terlihat bahagia sekali bisa bersama Roger.


"Ayo, Dzakki! Cuci tangan, terus makan!"


Dzakki langsung menurut ketika Roger yang memberinya perintah. Jauh berbeda denganku yang seringkali ia patahkan dengan jawaban kalimat andalannya yang mengesalkan.


"Sebentar, Mih!"


Hadeh... Dzakki, Dzakki!


Seperti sebuah keluarga. Kami berlima bersama Bi Tini dan Kenken makan makan dengan penuh keceriaan.


Apalagi putraku yang mau tiga tahun itu sangat pintar berceloteh. Semua kosa kata yang mulai ia pahami, diucapkan tanpa banyak fikir membuat kami yang dewasa tertawa terbahak-bahak.


Terima kasih ya Tuhan! Meskipun Dzakki anak broken home, tapi ia bisa ceria. Seceria anak-anak lain yang seusianya. Yang memiliki keluarga lengkap, tidak seperti dirinya.


"Ayah! Kapan Ayah selesai kerjanya? Kapan kita tinggal bersama-sama lagi seperti dulu?"


Aku dan Roger hanya bisa saling tatap. Pertanyaan sederhana Dzakki, tapi seperti soal matematika yang rumit bagi kami.


"Pasti kita akan sama-sama lagi, nanti! Ayah masih terikat kontrak di Surabaya. Kalau Dzakki sudah besar, Ayah akan ajak Dzakki ketempat kerja Ayah! Okey?"


"Okey!"


Hhh...


Roger paling bisa membuat Dzakki tenang. Tidak seperti aku, yang harus berfikir lama merangkai kata yang baik untuk jawaban pertanyaan kritis putra semata wayangku.


"Mami!... Bisakah kita tidur bertiga bersama? Mami, Aku, juga Ayah Roger! Seperti kak Verrel dan kak Velli, yang tidur ditengah-tengah Mama Papanya. Ya?"

__ADS_1


Yassalam... Hiks, Dzakki! Itu tidak boleh!!! Tuhan bisa marah!


__ADS_2